Shahih Bukhari | No. 6928

KITAB TENTANG BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR’AN DAN HADITS  

   

  DOSA ORANG YANG MEMBERI PERLINDUNGAN SESEORANG YANG BERBUAT BID’AH. 

  

 

  

 Dari Ashim, dia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Anas: Apakah Rasulullah saw mengharamkan kota Madinah ini?”. Anas menjawab: “Ya, yaitu antara daerah ini sampai dengan daerah ini. Tidak boleh ditebang pepohonannya. Barang siapa menciptakan sesuatu yang model-model (bid’ah) di daerah itu maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya”. Lebih lanjut Ashim berkata: “Musa bin Anas penah meriwayatkan kepadaku bahwa beliau pernah bersabda:�Atau orang yang melindungi kepada seseorang yang berbuat model�model (bid’ah)”. 

Shahih Bukhari | No. 1786

KITAB HAJI  

   

  KESUCIAN KOTA MADINAH 

  

 

  

 Dari Ali ra., ia berkata: “Di sisi kami tidak ada sesuatu selain kitab Allah ta’ala. Dan lembaran ini dari Nabi saw. Madinah itu tanah haram di antara sekitarnya sampai ini. Barang siapa yang membuat bid’ah dengan suatu bid’ah atau melindungi orang yang berbuat bid’ah di sana maka atasnya la’nat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya, tidak diterima taubat dari fidyah dari padanya. Barangsiapa yang mengkhiyanati seorang muslim maka atasnya la’nat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya, tidak diterima taubat dan fidyah dari padanya. Dan barangsiapa yang mengambil perwalian terhadap suatu kaum tanpa izin maulanya maka atasnya la’nat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya, maka tidak diterima taubat dan fidyah dari padanya.” 

Shahih Bukhari | No. 385

KITAB SHALAT  

KEUTAMAAN SHOLAT MENGHADAP KIBLAT DENGAN JARI-JARI KAKI LURUS MENGHADAP KEPADANYA 

 
 

 Dari Anas bin Malik ra, ia berkata : Rasullullah saw, bersabda: “Barangsiapa yang sholat seperti sholat kita, berkiblat pada kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka ia adalah orang muslim yang mempunyai jaminan dari Allah dan Rasulnya, dan janganlah kamu merusak jaminan Allah.” 

Shahih Bukhari | No. 6338

KITAB SUMPAH DAN NADZAR  

   

  APABILA SESEORANG MELANGGAR SUMPAH KARENA LUPA DAN FIRMAN ALLAH: “DAN TIDAK ADA DOSA ATASMU TERHADAP APA YANG KAMU KHILAF PADANYA” (AL AHZAB: 5) 

 
 

 Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya seorang lelaki masuk ke masjid melakukan sholat sedangkan Rasulullah saw. berada di sekitar masjid itu. Lantas lelaki itu datang mengucapkan salam kepadanya, lalu beliau bersabda: “Kembalilah dan sholatlah maka sesungguhnya kamu tidaklah sholat”. Maka lelaki itu kembali lalu mengerjakan sholat. Kemudian menyampaikan salam. Rasulullah berkata. “Kamu harus kembali, maka sholatlah, karena sesungguhnya kamu belum melakukan sholat”. Nabi mengatakan (ini) pada yang ketiga. Maka ajarilah aku. Nabi bersabda: “Apabila kamu mengerjakan sholat, maka sempurnakan wudlumu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bacalah takbir dan bacalah apa yang kamu anggap gampang dari Al Qur’an, kemudian rukuklah sehingga engkau benar-benar tenang dalam rukukmu. Kemudian angkat�lah kepalamu sehingga kamu berdiri tegak. Kemudian sujudlah sehingga kamu tenang sebentar dalam sujudmu. Kemudian angkatlah sehingga kamu tegak dan tenang dalam dudukmu. Kemudian bersujudlah sehingga engkau tenang sebentar dalam sujudmu. Kemudian angkatlah sehingga kamu berdiri tegak, kemudian Iakukanlah itu dalam semua sholatmu”. 

Shahih Bukhari | No. 756

KITAB ADZAN  

   

  MENYEMPURNAKAN TAKBIR DALAM SUJUD 

  

 

  

 Dari Mutharrif bin Abdullah, ia berkata:”Saya pernah shalat di belakang Ali bin Abu Thalib ra sebagai makmum, jangan Imran bin Husain. Ali itu apabila sujud mengucapkan takbir dan apabila mengangkat kepalanya juga bertakbir, begitu juga apabila bergerak untuk berdiri dari dua raka’at ia bertakbir. Setelah selesai shalat Imran mengambil tanganku dan berkata:”( Ali ) ini membuatku ingat shalat Muhammad saw.” Atau dia mengatakan:” Dia mengimami kita shalat seperti shalat Muhammad saw.” 

Shahih Bukhari | No. 758

KITAB ADZAN  

   

  BERTAKBIR APABILA BERDIRI DARI SUJUD 

  

 

  

 

Shahih Bukhari | No. 380

KITAB SHALAT  

   

  SHOLAT DENGAN MENGENAKAN SANDAL 

  

 

  

 Dari Abu Muslimah Sa’id bin Yazid Al Azdiy, ia berkata: Saya bertanya Anas bin Malik : ” Apakah Nabi saw, Shalat pada kedua sandal beliau ?” ia menjawab: ” Ya “ 

Shahih Bukhari | No. 375

KITAB SHALAT  

   

  SHOLAT DIATAS KAIN PENUTUP KEPALA 

  

 

  

 Dari Maimunah, ia berkata: “Nabi saw pernah sholat diatas kain penutup kepala.” 

Shahih Bukhari | No. 368

KITAB SHALAT  

   

  APABILA SESEORANG SHOLAT DENGAN PAKAIAN YANG BERGAMBAR SALIB ATAU FOTO-FOTO, APAKAH SHOLATNYA BATAL? DAN APA YANG DILARANG DARIPADANYA? 

  

 

  

 Dari Anas ra., ia berkata: Tirai Aisyah ra. Menutupi seluruh rumahnya, lalu nabi saw. Berkata: “Hilangkanlah daripadaku tiraimu ini, karena gambar-gambarnya itu menimpaku (menggangu) terhadap sholatku”. 

Shahih Bukhari | No. 378

KITAB SHALAT  

    SHOLAT DIATAS HAMPARAN ( TEMPAT TIDUR ) 

 
 Dari Urwah bahwasannya Nabi saw sholat sedangkan Aisyah tidur melintang antara beliau dan kiblat ditempat tidur mereka berdua.” 

Kumpulan Hadits ttg Sifat Sholat Nabi. 

 Dari Ikrimah, ia berkata:”Saya shalat di belakang seorang Syaikh di Makkah dan dia mengucapakan dua puluh dua takbir (ketika shalat). Aku lalu mengatakan hal itu kepada Ibnu Abbas bahwa dia (Syaikh) adalah tolol. Ibnu Abbas berkata:”Kehilangan kamu ibumu. Orang tua itu telah mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan oleh Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad saw).” 

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Ahmad, Rasulullah SAW berdiri di dekat pembatas. Jarak antara beliau dan pembatas sekitar 3 hasta. Menurut Bukhari dan Muslim, jarak antara tempat sujudnya dan tembok cukup untuk dilalui seekor kambing. 

Rasulullah SAW bersabda ”Janganlah engkau sholat kecuali dengan pembatas, dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di depanmu dikala sholat. Jika dia memaksakan 

kehendaknya lewat di depanmu, bunuhlah dia karena sesungguhnya ia bersama dengan setan.” 

(HR. Ibnu Khuzimah); dan juga ”Jika seseorang dari kalian melakukkan sholat pada pembatas 

hendaknya mendekatkan pada batas itu sehingga setan tidak dapat memutus sholatnya.” (HR Abu 

Daud, Bazzar dan Hakim). 

Apabila Beliau sholat di tempat terbuka, tidak ada sesuatu sebagai pembatas (didepan tempat sholat), maka beliau menancapkan tombak didepannya. Lalu beliau melakukan sholat menghadap pembatas itu, sedangkan orang-orang bermakmum dibelakangnya. Hal ini sebagaimana dikatakan Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah. Beliau bersabda, ”Apabila seseorang diantara kalian 

meletakkan tiang sepanjang pelana di depannya, maka sholatlah menghadapnya dan hendaknya 

tidak menghiraukan orang yang lewat dibelakang tiang itu.” (HR Muslim dan Abu Daud). 

Ibnu Khuzimah, Thabrani dan Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan sesuatu yang melewati antara dirinya dan pembatasnya. Pernah Beliau SAW sholat lalu lewat didepannya seekor kambing. Maka Rasulullah SAW mendahuluinya maju kedepan sampai perutnya menempel di dinding (sehingga kambing itu melewati belakang Beliau). 

Suatu ketika Rasulullah SAW sholat wajib, Beliau SAW menggenggam tangannya. Usai sholat 

mereka bertanya “Wahai Rasulullah, adakah sesuatu yang baru dalam sholat?” Beliau menjawab 

“Tidak, hanya saja setan hendak lewat di depanku. Lalu aku cekik sampai lidahnya terasa dingin di tanganku. Demi Alloh, seandainya saudaraku, Nabi Sulaiman tidak mendahuluiku, maka aku akan ikat setan itu pada sebuah tiang masjid sehingga dapat dilihat anak-anak kecil penduduk Madinah.” (HR Ahmad, Daruquthni dan Thabrani). 

Rasulullah SAW bersabda ”Apabila seseorang melakukkan sholat menghadap sesuatu sebagai 

pembatas dari orang lain, maka apabila seseorang melampaui batas didepannya itu maka hendaknya mendorong sekuatnya atau semampunya (dalam riwayat lain disebutkan : hendaknya menghalanginya dua kali). Jika ia tetap menerobos maka bunuhlah ia. Sesungguhnya dia adalah setan.” (HR Bukhari dan Muslim); juga Beliau bersabda ”Apabila orang yang lewat di depan orang yang sholat itu mengetahui dosanya, niscaya dia akan lebih baik berdiri 40 (empat puluh) tahun daripada berlalu didepan orang yang sholat.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Rasulullah SAW bersabda ”Sholat seseorang menjadi putus apabila tidak dibatasi dengan 

semacam pelana didepannya lalu dilewati oleh wanita haid (balig), keledai dan anjing hitam” 

7 Dari 26 

Abu Dzar berkata ”Wahai Rasulullah, apakah bedanya anjing hitam dan anjing berwarna 

merah?” Beliau menjawab ”Anjing hitam adalah setan.” (HR Muslim, Abu Daud & Khuzaimah). 

Rasulullah SAW melarang orang melakukan sholat menghadap kubur dengan sabdanya 

”Janganlah kalian sholat menghadap kubur dan janganlah duduk diatasnya.” (HR Muslim, Abu 

Daud & Ibnu Khuzimah). 

C. Niat2 

Rasulullah SAW bersabda ”Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung dari niatnya, dan 

sesungguhnya setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya (HR Bukhari & Muslim) 

D. Takbir 

Dalam hadits riwayat Muslim dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa Rasulullah SAW membuka sholatnya dengan ucapan Allohu Akbar (Alloh Mahabesar). Beliaupun memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar dalam sholatnya, sebagaimana sabda Beliau SAW ”Tidaklah sholat 

seseorang itu menjadi sempurna sampai ia berwudhu dengan benar, lalu berkata Allohu 

Akbar”(HR Thabrani) 

Beliau SAW juga bersabda ”Kunci sholat adalah suci, tahrimnya3 pengharamannya adalah takbir 

dan thalilnya4, penghalalannya adalah salam.” (HR Abu Daud, Tirmidzi & Hakim). 

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Hakim disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengangkat suaranya dalam takbir sehingga terdengar oleh orang-orang yang makmum dibelakangnya. Rasulullah SAW bersabda ”Apabila imam mengucapkan Allohu Akbar, maka katakanlah Allohu 

Akbar” (HR Ahmad dan Baihaqi). 

E. Mengangkat Tangan 

Terkadang Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan takbir5, dan terkadang mengangkatnya setelah takbir6, dan terkadang (mengangkat tangan) setelah ucapan takbir7. 

Beliau SAW mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka rapat (tidak renggang dan tidak menggenggam)8. Dan Rasulullah SAW mengangkatnya sampai sejajar dengan kedua bahunya dan terkadang sampai kedua telinganya9. 

F. Meletakkan Tangan Kanan Diatas Tangan Kiri (Bersedekap) 

Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya10. Beliau SAW bersabda 

”Sesungguhnya para Nabi memerintahkan kepada kita agar mempercepat saat berbuka dan mengakhirkan waktu sahur dan agar meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri kita dalam sholat.” (HR Ibnu Hibban dan Dhiya). 

2 Dalam kitab Raudhatu ath-Thalibin (1/224 cet. Al-Maktab al-Islami) Nawawi berkata, “Niat adalah maksud. Seseorang 

yang akan melakukan sholat tertentu dalam hatinya telah terdetik maksud sholat yang akan dilakukannya seperti sholat 

Dzuhur, sholat fardhu, dan lainnya. Kemudian maksud ini dinyatakan bersamaan dengan awal takbir.” 

3 Yaitu melarang perbuatan-perbuatan yang dilarang Alloh. 

4 Yaitu menghalalankan apa saja yang dilakukan diluar sholat. 

5 HR Bukhari & Abu Daud. 

6 HR Bukhari & Nasa’i 

7 HR Bukhari & Nasa’i 

8 HR Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, Tamam & Hakim dan disahkan olehnya serta disetujui oleh Dzahabi. 

9 HR Bukhari & Abu Daud 

10 HR Muslim dan Abu Daud dan telah ditakhrij dalam Irwa’ (352). 

8 Dari 26 

G. Meletakkan Kedua Tangan (Bersedekap) di Dada 

Nabi SAW meletakkan tangan kanan diatas punggung tangan kirinya, pergelangan dan lengan11, dan memerintahkan demikain kepada sahabat-sahabatnya12. Terkadang Beliau SAW mengenggam lengan kirinya dengan jari-jari tangan kanannya13. Beliau SAW meletakkan keduanya diatas dada14. 

H. Khusyu dan Memandang Tempat Sujud 

Dalam hadits riwayat Baihaqi dan Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW dalam sholat menundukkan kepalanya dan pandangannya tertuju ke tanah. Rasulullah melarang mengangkat pandangannya ke langit sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud. Larangan itu dipertegas dengan sabdanya ”Hendaknya orang-orang menghentikan mengarahkan 

pandangannnya ke langit pada waktu sholat atau tidak dapat kembali lagi kepada mereka(d al am 

riwayat lain disebutkan : atau mata-mata mereka tercolok)”. (HR Bukhari, Muslim & Siraj). 

Dalam hadits lain disebutkan ”Apabila kalian melakukan sholat maka hendaknya janganlah 

menolah-noleh karena Alloh akan menghadapkan wajahNya kepada wajah hambanya ketika 

sholat selama ia tidak menolah-noleh.” (HR Tirmidzi dan Hakim) 

Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Ya’la disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang 3 perkara dalam sholat. Yaitu sholat dengan cepat seperti ayam yang mematuk, duduk diatas tumit seperti duduknya anjing, dan menolah-noleh seperti musang. Beliau SAW juga bersabda ”Sholatlah seperti halnya sholat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau 

melihat Alloh. Jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Thabrani, 

Ibnu Majah & Ahmad). 

Beliau telah sholat dengan baju yang terbuat dari wol yang bergambar, lalu Rasulullah SAW 

melihat sepintas gambar-gambar itu. Usai sholat Beliau SAW bersabda ”Bawalah bajuku ini 

kepada Abu Jahm dan bawalah kepadaku kain yang kasar Abu Jahm. Karena bajuku ini telah mengalihkan perhatian sholatku tadi. (dalam riwayat lain dikatakan : Sesungguhnnya aku telah melihat gambarnya saat sholat dan hampir saja aku tergoda).” (HR Bukhari, Muslim & Malik). 

Aisyah mempunyai kain bergambar untuk tirai, Rasulullah SAW sholat menghadapnya. Lalu 

Rasulullah SAW bersabda ”Jauhkanlah kain itu, sesungguhnya gambarnya mengganggu 

sholatku.” (HR Bukhari & Muslim). 

Beliau SAW bersabda ”Tidak sempurna sholatnya orang yang telah terhidang makannya, serta 

ketika menahan keluarnya angin dan buang air.” (HR Bukhari & Muslim). 

DO’A DAN BACAAN DALAM SHOLAT 

A. Doa-Doa Pembuka 

Rasulullah SAW membuka bacaan dengan doa-doa yang banyak dan bermacam-macam. Beliau 

SAW memuji Alloh, mengagungkanNya dan menyanjungNya. Rasulullah telah memerintahkan 

11 HR Abu Daud, Nasa’I dan Ibnu Khuzimah dengan sanad yang benar dan disahkan oleh Ibnu Hibban. 

12 HR Malik, Bukhari dan Abu ‘Uwanah. 

13 HR Nasa’I dan Daruquthni dengan sanadnya yang sahih. 

14 HR Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah. 

9 Dari 26 

demikian bagi yang tidak benar sholatnya. Beliau bersabda ”Tidak sempurn sholat seseorang 

sehingga ia bertakbir, bertahmid dan menyanjungNya serta membaca ayat-ayat al-Qur’an yang 

dihapal.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Dalam bacaan pembukaan, terkadang Beliau SAW membaca doa sebagai berikut : 

1. Allohumma baa’id baini wa baina khothoyaya…… dan seterusnya. 

2. Wajjahtu wajhiya lilladzi fathorossamawaati wal ardh.. ….. dan seterusnya. 

3. Subhaanaka Allohumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wadduka walaa ilaha ghoiruka, yang artinya ”Mahasuci Engkau ya Alloh, Maha Terpuji Engkau, Mahamulia Engkau serta Mahatinggi kehormatanMu dan tiada tuhan selain Engkau (HR Ibnu Mundih dan Nasa’i) 

4. Dan lain-lain. 

B. Tata Cara Bacaan Dalam Sholat 

1. Membaca Ta’awwudz. 

Kemudian Rasulullah SAW membaca ta’awwudz dengan mengucapkan” A’ udzubillahi 

minasyaithonirrojim min hamazihi wanafkhihi wanafatsihi” (Aku berlindung kepada Alloh dari 

godaan setan yang terkutuk dari semburannya, kesombongannya, dan embusannya) (HR Abu 

Daud, Ibnu Majah, Daruquthni & Hakim). 

Terkadang Beliau SAW menambahinya dengan ”A’udzubillahis-samii’il’alim minasy- 

syaithoonirrojim” (Aku berlindung kepada Alloh Yang Mahamendengan lagi Mahamengetahui 

dari godaan setan yang terkutuk) (HR Abu Daud, Tirmidzi & Ahmad). 

Setelah itu Beliau SAW membaca ”Bismillahir-rahman-nirrahim” (Dengan nama Alloh Yang 

Mahapengasih dan Mahapenyayang) (dengan tanpa mengangkat/mengeraskan suara). (HR 

Bukhari, Muslim & Ahmad) 

2. Membaca Surat al-Faatihah, Ayat per Ayat 

Kemudian Rasulullah SAW membaca surat al-Faatihah dengan memotong setiap ayat : 

a. Bismillaahir-rahmanir-rahim. 

b. Alhamdulillaahirab-bil’aalamiin. 

c. Sampai dengan akhir ayat. 

Demikian Rasulullah SAW membaca al-Fatihah sampai akhir surah. Beliau SAWtid ak 

menyambung ayat dengan ayat berikutnya. Demikian yang diriwayatkan Abu Daud dan 

Sahmi. 

3. Membaca al-Faatihah Sebagi Rukun Dan Keutamaannya 

Beliau selalu mengagunggkan surat ini dengan sabdanya ”Tidak sah sholat seseorang apabila 

belum membaca surah al-Faatihah (dan seterusnya). (HR Bukhari, Muslim dan Baihaqi) 

4. Mengeraskan Bacaan Bagi Makmum 

Sebelumnya Rasulullah SAW membolehkan makmum membaca al-Fatihah dengan keras. Akan tetapi pada suatu sholat Subuh Beliau SAW merasa terganggu oleh bacaan seorang makmum. Setelah selesei sholat Beliau SAW bersabda ”Apakah kalian tadi ikut membaca bacaan 

imam?” Mereka menjawab “Benar, akan tetapi dengan cepat wahai Rasulullah” Rasulullah 

10 Dari 26 

berkata “Janganlah kalian lakukan kecuali kalian membaca al-Fatihah. Sesungguhnya tidak 

sah sholat seseorang kecuali membacanya.” (HR Bukhari, Abu Daud & Ahmad). 

Tetapi kemudian membaca cara ini dilarang oleh Nabi SAW. Yaitu ketika Rasulullah SAW kembali dari sholatjah r (sholat yang dibolehkan membaca al-Qur’an dengan keras). Dalam sebuah riwayat dikatakan pertisiwa itu terjadi pada sholat Subuh. Beliau bersabda ”Adakah tadi 

kalian mengikutiku membaca al-Qur’an dengan suara keras?” Seseorang menjawab ”Aku wahai Rasulullah” Nabi SAW berkata ”Kenapa ada yang membaca demikian sehingga mengganggu bacaanku?” Abu Hurairah berkata ”Maka para sahabatberhenti membaca al- Qur’an dengan keras dalam sholat dimana Rasulullah mengeraskan bacaannya ketika mereka mendengar teguran dari Rasulullah. (Mereka membaca tanpa suara pada sholat dimana imam tidak mengeraskan bacaan)” (HR Malik, Humaidi, Abu Daud dan Bukhari). 

Maka berdiam saat imam membaca al-Qur’an menjadi syarat kesempurnaan bermakmum. 

Rasulullah SAW bersabda ”Sesungguhnya dijadikannya imam itu agar diikuti oleh makmum, 

maka apabila mengucapkan takbir, ikutilah mengucapkan takbir. Janganlah membaca al- 

Qur’an, diam dan dengarkanlah.” (HR Abu Daud, Muslim & Abu Uwanah). 

Oleh karena itu makmum yang mendengarkan bacaan imam tidak perlu lagi turut membacanya. 

Sabda Rasulullah SAW ”Barang siapa yang sholat bermakmum maka bacaan imam adalah 

menjadi bacaannya juga.” (HR Daruquthni, Ibnu Majah & Ahmad). Ini untuk sholat-sholat 

yangjahr (imam mengeraskan bacaannya). 

5. Kewajiban Membaca Tanpa Suara 

Adapun pada sholat-sholat yang harus membaca tanpa suara, Rasulullah SAW telah 

menetapkan kehaursan membaca al-Qur’an padanya. Jabir berkata ”Kami membaca al- 

Faatihah dan surah al-Qur’an pada sholat Dzuhur dan Ashar dibelakang imam pada dua 

rakaat pertama, sedangkan pada dua rakaat berikutnya membaca al-Faatihah (saja).” 

(Riwayat Ibnu Majah). 

6. Imam Mengucapkan Amin Dengan Mengangkat Suara 

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW selesai membaca al-Faatihah, Beliau SAW mengucapkan amin dengan suara jelas dan panjang. Orang- orang yang bermakmumpun dianjurkan untuk mengucapkannya. Sabda Beliau SAW” Ap abila 

imam sholat mengucapkan ”Ghoiril maghdhuubi’alaihim waladhaaliin” maka katakanlah ”Amin”. (Sesungguhnya malaikiat berkata ”Amin” dan imampun mengucapkan ”Amin”). Dalam lafal lain disebutkan bahwa jika seorang imam sholat mengucapkan amin, maka ikutilah dengan mengucapkan amin. Apabila ucapan amin itu bersama dengan ucapan malaikat, (Dalam lafal lain disebutkan : Apabila seseorang mengucapkan amin dalam sholat, dan para malaikat di langit mengucapkan amin dengan bersamaan) niscaya dosa-dosanya akan diampuni.” (HR Bukhari, Muslim & Nasa’i). 

Rasulullah SAW juga bersabda ”Tidak ada suatu yang paling menjadikan orang-orang Yahudi 

iri kepada kalian kecuali ucapan salam dan amin (dibelakang imam).” (HR Bukhari, Ibnu 

Majah dan Ahmad). 

7. Bacaan Setelah Membaca al-Faatihah. 

Setelah membaca al-Faatihah, Rasulullah SAW membaca surah lainnya. Terkadang membaca 

surah panjang dan kadang surah pendek karena suatu penyebab seperti sedang dalam 

11 Dari 26 

perjalanan, sakit batuk atau sakit lainnya. Atau mendengar tangis anak kecil sebagaimana yang 

disebutkan oleh Anas bin Malik ra. 

8. Boleh Hanya Membaca al-Faatihah 

Mu’adz pernah sholat Isya berjamaah dengan Rasulullah SAW di akhir waktu, lalu pulang. Disana ia sholat lagi bersama sahabat-sahabatnya sebagai imam. Dlam jamaah itu terdapat seorang anak muda bernama Sulaim dari bani Salamah. Anak muda itu merakan sholatnya terlalu lama, maka ia keluar dan sholat sendiri di pojok masjid. Usai sholat ia bergegas keluar masjid dan menunggang untanya langsung meninggalkan tempat itu. 

Setelah sholat Mu’adz diberitahu akan kejadian ini. Ia berkata ”Sungguh hal ini perbuatan 

munafik!. Aku akan laporkan apa yang diperbuatnya kepada Rasulullah.” Anak muda itu juga 

berkata ”Aku juga akan adukan apa yang dilakukan kepada Rasulullah.” 

Keesokan harinya mereka datang kepada Rasulullah. Mu’adz mengadukan apa yang dilakukan 

anak muda itu, dan anak muda itupun melaporkan apa yang diperbuat oleh Mu’adz. Ia berkata 

”Wahai Rasulullah dia telah sholat yang lama denganmu. Lalu ia pulang dan mengimami kami dengan lama”. Rasulullah menjawab ”Wahai Mu’adz akankah engaku membuat fitnah?” Rasulullah bertanya kepada anak muda itu ”Apa yang engkau lakukan dalam sholatmu?” Ia menjawab ”Aku membaca al-Faatihah, lalu berdoa memohon surga kepada Allah, dan berlindung dari siksa neraka. Aku tidak tahu apa yang engaku baca dengan suara lirih dan yang dibaca Mu’adz” Nabi menyahut ”Aku dan Mu’adz seperti ini (telunjuk dan jari tengah).” Anak muda itu berkata ”Akan tetapi Mu’adz akan tahu kalau musuh datang, sedangkan mereka telah diberitahu bahwa musuh telah datang di tempat mereka.” Orang yang meriwayatkan hadits ini berkata ”Kaum tersebut kemudian datang menyerang dan anak muda itu gugur sebagai syahid. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz ”Setelah peristiwa itu bagaimana kamu dengan orang yang mengadukanmu kepadaku?” Mu’adz menjawab ”Wahai Rasulullah, Allah Mahabenar dan saya keliru. Anak muda itu telah gugur sebagai syahid.” 

(HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ahmad, Abu Daud, Bukhari & Muslim) 

9. Membaca al-Faatihah Dengan Suara Keras dan Tanpa Suara Pada Sholat Lima Waktu Dan 

Sholat Lainnya. 

Pada sholat Subuh dan pada rakaat pertama dan kedua pada sholat Maghrib dan ’Isya, Rasulullah SAW membaca al-Faatihah dan surah lainnya dengan suara keras. Sedangkna pada sholat Dzuhur dan Ashar Beliau SAW membacanya dengan tanpa suara. Para sahabat mengetahui apa yang dibaca oleh Rasulullah SAW dalam sholat-sholat yang tanpa suara dari gerakan jenggotnya dan terkadang Nabi SAW sendiri memperdengarkan bacaannya. Demikian penjelasan Bukhari dan Abu Daud. 

Beliau SAW juga membaca dengan mengangkat (mengeraskan) suara pada sholat Jum’at , ’Idul 

Fitri, ’Idul Adha, Istisqa’ (sholat meminta hujan), dan sholat Kusuf (gerhana). 

C. Bacaan-Bacaan Sholat Nabi SAW 

Bacaan sholat Rasulullah SAW bermacam-macam. Kadang Nabi SAW membaca surat ar-Rum (60 

ayat), kadang ash-Shaffat (182 ayat), kadang surat Zalzalah (7 ayat) dan lain-lain. 

D. Bacaan Tartil dan Memerdukan Suara 

12 Dari 26 

Perintah Allah terhadap Rasulullah SAW adalah agar membaca al-Qur’an dengan tartil, tidak pelan, dan tidak terlalu cepat. Tetapi dibaca kalimat per kalimat sehingga bacaan satu surah lebih lama daripada dibaca dengan biasa. 

Beliau SAW bersabda ”Kelak akan dikatakan kepada orang yang membaca al-Qur’an ”Bacalah, 

telitilah dan tartillah sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu 

adalah diakhir ayat yang engkau baca.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi). 

Beliau menyuruh para sahabatnya untuk membaca al-Qur’an dengan suara merdu dalam sabdanya 

”Hiasilah al-Qur’an dengan suaramu. Sesungguhnya suara yang bagus dapat menjadikan al- 

Qur’an bertambah indah.” (HR Bukhari, Abu Daud & Hakim). 

Beliau juga bersabda ”Sesungguhnya orang yang bagus suaranya adalah apabila engkau 

mendengarkan suara bacaan al-Qur’an sedangkan kamu mengira bahwa dia adalah orang yang 

takut kepada Allah.” (HR Thabrani, Ibnu Mubarak & Abu Nu’aim). 

E. Membetulkan Bacaan Imam Yang Salah 

Abu Daud, Ibnu Hibban dan Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh membetulkan imam yang salah membaca al-Qur’an. Beliau pernah melakukan sholat dan salah dalam membaca al-Qur’an. Usai sholat Beliau bertanya kepada Ubay, ”Apakah engkau sholat 

bermakmum dengan saya?” Ubay menjawab ”Benar” Beliau menimpali ” Kenapa tidak 

membetulkan bacaanku yang salah?” 

F. Berta’awwudz Dan Meludah Saat Sholat Untuk Menghilangkan Gangguan 

Dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan bahwa Utsman bin Abi ’Ash berkata kepada 

Rasulullah SAW ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menggangguku ketika aku 

membaca al-Qur’an saat sholat sehingga sholatku kacau.” Rasulullah SAW bersabda ”Itulah setan yang bernama Khinzib. Jika engkau merasakan keahdirannya, bacalah ta’awwudz dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali.” 

Utsman berkata ”Aku kemudian melakukannya sehingga Allah mengeyahkan setan dariku.” 

TATA CARA RUKU DAN BACAANNYA 

Setelah membaca al-Qur’an, Beliau SAW diam sejenak. Lalu Beliau SAW mengangkat kedua tangannya sebagaimana yang telah dijelaskan pada penjelasan di depan dalam Takbiratul Ihram. Kemudian mengucapkan Allahu Akbar, lalu ruku. 

A. Tata Cara Ruku 

Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua lututnya . Beliau SAW memerintahkan sahabatnya melakukan yang demikian. Juga memerintahkan orang yang tidak benar sholatnya. 

Kedua telapak tangan Beliau SAW tampak menekan kedua lututnya (seakan-akan mencengkram keduanya). Beliau SAW merenggangkan jari-jarinya. Lalu memerintahkannya kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Jika engkau ruku letakkanlah kedua tangnmu di atas 

lututumu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu menjadi mapan 

ditempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban). 

13 Dari 26 

Beliau SAW merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya. Ketika ruku Beliau SAW membentangkan dan meluruskan punggungnya sampai-sampai jika dituangkan air dari diatasnya tidak akan tumpah, Lalu, Beliau SAW bersabda kepada orang yang tidak benar sholatnya”Jika 

engkau ruku, letakkanlah tangamu pada kedua lututmu. Lalu, bentanglah punggungmu dan 

tekanlah tanganmu dalam rukumu.” (HR Ahmad & Abu Daud). 

Rasulullah SAW tidak membungkuk terlalu kebawah dan tidak pula mendongakkan terlalu keatas. 

Akan tetapi tengah-tengah di antara keduanya. 

B. Wajib Thumaninah Dalam Ruku 

Beliau SAW dengan thumaninah (tenang) dan memerintahkan demikian kepada orang yang tidak 

benar sholatnya sebagaimana yang dijelaskan diatas. Sabda Beliau SAW ”Sempurnakanlah ruku 

dan sujudmu. Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya, sesungguhnya aku benar-benar 

melihat kamu dari balik punggungku saat kamu ruku dan sujud.” (HR Bukhari & Muslim). 

Dalam riwayat Ath-Thayalisi dan Ahmad, Abu Hurairah berkata ”Kekasihku Rasulullah SAW 

melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-nolah 

seperti musang dan duduk sepeti kera.” 

Rasulullah SAW juga bersabda ”Pencuri yang paling jahat adalah pencurian yang mencuri dalam 

sholatnya.” Para sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana yang dimaksud dengan mencuri dalam sholat itu?” Rasulullah menjawab ”Yaitu orang yang tidak sempurna ruku dan sujudnya dalam sholat.” (HR Thabrani dan Hakim). 

Ketika sedang sholat, Beliau SAW melirik orang yang sujud dan ruku dengan punggung tidak 

lurus. Usai sholat Beliau SAW bersabda ”Wahai kaum muslimin, sesungguhnya tidak sah sholat 

seseorang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku dan sujud.” (HR Ibnu Majah & 

Ahmad). 

C. Bacaan-Bacaan Ruku 

Dalam ruku Rasulullah SAW membaca bacaan yang beragam. Terkadang membaca sebuah bacaan 

dan di lain kesempatan membaca bacaan lain. Diantara bacaan Beliau SAW adalah 

a.”Sub hana rabbiyal’adhim” (3x) (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung”) (Dibaca 3 kali) (HR. Ahmad, Abu Daud & Ibnu Majah). Terkadang membacanya lebih dari 3 kali (yang menunjukkan lamanya sholat Beliau SAW). 

Bahkan pada suatu kali dalam sholatlai l Beliau SAW membacanya dengan mengulang-ulang sehingga lama ruku’nya sama dengan lama berdirinya. Padahal Beliau membaca 3 surah panjang (al-Baqarah, an-Nisaa dan Ali Imran) diselingi dengan doa-doa dan istighfar. 

b.”Sub hana rabbiyal’adhimi wabihamdih” (3x) (”Mahasuci dan Mahaagung Allah, segala puji 

bagiNya”) (Dibaca 3 kali) (HR Abu Daud, Daruquthni, Ahmad & Thabrani). 

c.”Sub hanaka allahumma wabihamdika allahummagh firli” (”Mahasuci Engkau wahai Thuhan 

dan dengan memujiMu ampunilah aku”) 

Rasulullah SAW memperbanyak dao ini dalam ruku dan sujudnya. 

d. Dan lain-lain. 

D. Larangan Membaca Al-Qur’an Saat Ruku 

Beliau SAW melarang membaca al-Qur’an saat ruku dan sujud dalam sabdanya” Ketahu ilah 

sesungguhnya aku melarang bacaan al-Qur’an saat ruku. Hendalah kalian mengagungkan Tuhan 

14 Dari 26 

Yang Mahaperkasa. Sedangkan dalam bersujud hendaknya bersungguh-sungguhlah berdoa karena 

doa itu tentu dikabulkan.” (HR Muslim & Abu Uwanah). 

E. Bangun dari Ruku (I’tidal) dan Bacaannya 

Kemudian Rasulullah SAW bangkit dari ruku sambil mengucapkan ”Sami allahu liman hamidah” 

(Allah mendengar ornag yang memujiNya”) (HR Bukhari & Muslim). 

Beliau SAW memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya 

”Tidak sempurna sholat seseorang sehingga bertakbir. Kemudian ruku lalu mengucapkan Sami’a 

Allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya) sampai berdiri dengan tegak” 

(HR Abu Daud dan Hakim) 

Ketika berdiri dengan tegak Beliau mengucapkan ”Rabbanaa walakal hamdu” (”Wahai Tuhan 

kami dan segala puji hanyalah milik-Mu”) (HR Bukhari dan Ahmad) 

Rasulullah SAW memerintahkan demikian kepada semua orang yang sholat, baik makmum maupun bukan makmum dalam sabdanya ”Sholatlah seperti kalian melihatku sholat” (HR Bukhari & Ahmad). 

Rasulullah SAW juga bersabda ”Sesungguhnya imam dijadikan tiada lain untuk diikuti. Jika imam 

mengucapkan ’Sami’a Allhu liman Hamidah’, maka ucapkanlah Allahumma walakal hamdu.’ Pasti Allah mendengar ucapan kalian. Sesungguhnya Allah berfirman melalui ucapan RasulNya, ’Sami’a Allahu liman Hamidah’.” (HR Muslim, Abu Uwanah, Ahmad & Abu Daud). 

Penyebab masalah ini dipertegas dalam hadits lain ”Sesungguhnya barangsiapa yang ucapannya 

itu berbarengan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosa-dosa yang telah 

dilakukannya sebelumnya.” (HR Bukhari & Muslim). 

Rasulullah SAW mengangkat tangan saat berdiri i’tidal seperti telah dijelaskan pada takbiratul 

ihram didepan, dengan mengucapkan bacaan berikut : 

1.”Rabbanaa walakal hamdu” (HR Bukhari & Muslim). Masalah mengangkat tangan ini 

sanadnya benar-benar dari Rasulullah SAW. Pendapat ini juga diperkuat oleh jumhur ulama 

dan sebagian penganut mazhab Hanafi. 

2.”Rabbana lakal hamdu” (HR. Bukhari & Muslim). 

3.”Allahumma rabbana walakal hamdu” (HR Bukhari & Muslim) 

4.”Allahumma rabbana lakal hamdu” (HR Bukhari & Muslim). 

5. Rasulullah SAW memerintahkan berbuat demikian dalam sabdanya ”Apabila imam 

mengucapkan ’Sami’a Allahu liman hamidah’ maka ucapkanlah ’Allahumma Rabbana lakal hamdu’. Barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari & Muslim). 

6. Terkadang Beliau SAW menambah dengan lafal ”Milussamawaati wamil ul ardli wamil 

umaasyikta min syai in ba’du.” (Mencakup seluruh langit dan bumi dan semua yang Engkau 

kehendaki selain dari itu.” (HR Muslim & Abu Uwanah). 

7. Dan lain-lain. 

F. Memperpanjang Berdiri I’tidal dan Kewajiban Thumuninah. 

15 Dari 26 

Lama berdiri i’tidal Rasulullah SAW sama seperti rukunya, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Bahkan kadang Rasulullah SAW berdiri lama sampai dianggap lupa oleh sahabatnya karena lamanya Beliau berdiri. Demikian yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad. 

Rasulullah SAW bersabda ”Kemudian tegakkanlah kepalamu sampai engkau berdiri tegak 

(sampai semua tulang kembali menempati tempatnya masing-masing). (Dalam sebuah riwayat 

dikatakan : Apabila kamu berdiri i’tidal, maka tegakkanlah kepalamu sampai tulang-tulang 

kembali kepada posisinya semula).” (HR Bukhari, Muslim, Hakim & Ahmad). 

Beliau juga bersabda ”Allah tidak akan melihat sholat seorang hamba yang tidak meluruskan 

tulang punggungnya antara ruku dan sujudnya.” (HR Ahmad & Thabrani) 

TATA CARA DAN BACAAN SUJUD SERTA DUDUK DIANTARA DUA SUJUD 

Setelah i’tidal Rasulullah SAW bertakbir dan turun bersujud. Beliau SAW memerintahkan yang 

demikian ini kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Tidaklah sempurna sholat 

seseorang sampai ia mengucapkan ’Sami’ Allahu liman hamidah’ sampai tegak berdiri. Kemudian 

mengucapkan takbir, lalu bersujud sampai ruas tulang belakangnya kembali sempuran.” (HR Abu 

Daud & Hakim). 

Dalam hadits riwayat Abu Ya’la dan Ibnu Khuzaimah disebutkan bahwa jika hendak sujud, Nabi SAW mengucapkan takbir (dan Beliau SAW merenggangkan tangannya dari lambungnya), lalu bersujud. Sedangkan dalam riwayat Nasa’i dan Daruquthni disebutkan bahwa kadang Beliau SAW mengangkat kedua tanganya bila hendak bersujud. 

A. Turun Bersujud Dengan Mendahulukan Kedua Tangan 

Rasulullah SAW meletakkan kedua tangannya di atas tanah sebelum kedua lututnya. Beliaupun 

memerintahkan sahabatnya melakukan hal demikian ”Apabila seseorang dari kalian hendak 

bersujud, hendaknya tidak melakukannya seperti duduknya unta. Tetapi hendaknya meletakkan 

tangannya sebelum meletakkan kedua lututnya.” (HR Abu Daud dan Nasa’i). 

Beliau SAW bersabda, ”Sesungguhnya kedua tangan turut bersujud sebagaimana sujudnya wajah. 

Apabila seseorang dari kalian meletakkan wajahnya diatas tanah, maka hendaklah meletakkan juga kedua tangannya. Apabila mengangkat wajahnya maka hendaknya mengangkat juga kedua tangannya.” (HR Ibnu Khuzaimah, Ahmad & Siraj). 

Dalam bersujud Beliau meletakkan telapak tangannya, mengembangkannya15, serta mengarahkannya ke arah kiblat16. Beliau meletakkan kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya17, dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya18. 

Dalam hadits riwayat Abu Daud dan Ahmad disebutkan bahwa Nabi SAW menekan hidung dan 

dahinya ke tanah. Beliau berkata kepada orang yang sholatnya tidak benar ”Jika engkau bersujud 

maka lakukanlah dengan menekan.” 

Dalam riwayat lain disebutkan ”Bila engkau bersujud, maka lakukanlah dengan cara menekan 

wajah dan kedua tanganmu sampai seluruh ruas tulangmu kembali ke tempatnya.” (HR Ibnu 

Khuzaimah.) 

15 HR Abu Daud dan Hakim serta dibenarkan olehnya serta disetujui oleh Zahabi. 

16 HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi dan Hakim serta dibenarkan olehnya dan setujui oleh Zahabi. 

17 HR Baihaqi dengan sanad yang sahih, Ibnu Abi Syaibah (1/82/2) dan Siraj dari jalur lain. 

18 HR Abu Daud dan Tirmidzi serta dibenarkan olehnya dan Ibnu Mulqin (27/2). Disebutkan dalam kitab Irwa’u al-Ghalil 

(309) 

16 Dari 26 

Beliau bersabda, ”Tidak sah sholat seseorang yang hidungnya tidak menyentuh tanah sebagai 

mana halnya dahinya.” (HR Daruquthni, Thabrani dan Abu Na’im). 

Beliau menekan kedua lututnya dan ujung kedua telapak kakinya. Menghadapkan ujung jarinya ke arah kiblat, merapatkan tumitnya dan menegakkan telapak kakinya.Beliau pun menyuruh berbuat demikian. 

Inilah tujuh anggota yang dipergunakan Nabi SAW untuk bersujud, yaitu dua telapak tangan, dua lutut, dua kaki, dahi dan hidung. Rasulullah SAW menjadikan dua anggota terakhir (dahi dan hidung) menjadi satu dalam sujud. Beliau SAW bersabda ”Aku perintahkan untuk bersujud, 

(dalam riwayat lain disebutkan : Kami diperintahkan untuk bersujud dengan menggunakan 7 anggota badan) yaitu dahi, (dan menunjuk hidungnya dengan tangan) serta kedua tangan, (Dalam lafal lain disebutkan : Dua telapak tangan, dua lutut, ujung kedua telapak kaki, dan kami tidak boleh menyibak19 baju dan rambut).” (HR Bukhari dan Muslim). 

Beliau bersabda ”Apabila seorang hamba bersujud, hendaklah menyertakan 7 anggota badan 

(wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua telapak tangan).” (HR Muslim, Abu Uwanah 

dan Ibnu Hibban). 

Dalam hadits riwayat Muslim, Abu Uwanah dan Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi SAW 

berkomentar terhadap orang yang sholat sedangkan rambutnya diikat dari belakang, ”Orang yang 

sholatnya seperti itu sama halnya dengan orang yang sholat menggelung rambunya.”20Bel iau 

juga bersabda ”Yang demikain ini menjadi tempat duduk setan.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi). 

Rasulullah SAW tidak membentangkan kedua lengannya21, akan tetapi Beliau SAW mengangkat kedua lengannya, menjauhkan dari sisinya sehingga tampak bulu ketiak putihnya dari belakang22. Apabila seekor anak domba menerobos di bawah lengannya, tentu dengan mudah dapat melewatinya23. 

Beliau SAW melebarkan lengannya sehingga seorang sahabatnya berkata ”Mungkin kami bisa 

menerobos di bawah ketiaknya, saking lebarnya jarak antara lengan dan lambungnya dalam 

bersujud.” Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Beliau SAW 

memerintahkan melakukan hal itu dalam sabdanya ”Apabila engkau bersujud, letakkanlah 

tanganmu dan angkatlah kedua sikumu.” (HR Muslim dan Abu Uwanah). 

”Bersujudlah kamu dengan lurus dan janganlah membentangkan kedua lenganmu seperti 

membentangkannya (dalam lafal lain disebutkan : Seperti membentangkan kakinya) anjing.”(HR 

Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad). 

”Janganlah seseorang dari kalian membentangkan kedua lengannya seperti anjing 

membentangkan kakinya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi). 

19 Maksudnya adalah menyibak lengan baju dan rambut agar tidak terurai ke bawah pada waktu ruku dan sujud 

sebagaimanan disebutkan dalam kitab an-Nihayah. Larangan inii tidak hanya pada waktu sholat. Bahkan apabila sebelum masuk sholat dia melakukannya, maka menurut jumhur ulama tidak dibolehkan. Hal ini diperkuat oleh larangan Nabi SAW pada seorang laki-laki yang menyibak rambutnya saat sujud. 

20 Maksudnya adalah menyibak lengan baju dan rambut agar tidak terurai ke bawah pada waktu ruku atau sujud 

sebagaimana disebutkan dalam kitab an-Nihayah. Larangan ini tidak hanya pada waktu sholat. Bahkan apabila sebelum 

masuk sholat dia melakukannya maka menurut jumhur ulama tidak dibolehkan. Hal ini diperkuat oleh larangan Nabi SAW 

pada seorang laki-laki yang menyibak rambutnya saat sujud. 

21 HR Bukhari & Abu Daud. 

22 HR Bukhari & Muslim. Desebutkan dalam Irwa’u al-Ghalil (354) 

23 HR Muslim, Abu ‘Uwanah dan Ibnu Hibban 

17 Dari 26 

”Janganlah kamu membentangkan kedua lenganmu (seperti binatang). Tetapi tegakkanlah lengamu dan jauhkanlah dari lambungmu. Karena bila engkau melakukan seperti itu maka setiap anggota badan ikut bersujud denganmu.” (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim) 

B. Kewajiban Thumuninah Dalam Sujud 

Rasulullah SAW selalu memerintahkan agar menyempurnakan ruku dan sujud. Orang yang tidak melakukannya diperumpamakan seperti orang yang lapar. Ia memakan satu atau dua butir kurma yang tidak mengenyangkan sama sekali. Beliau SAW bersabda ”Orang yang demikian itu adalah 

pencuri yang paling buruk.” 

Beliau SAW menyatakan tieak sah sholat orang yang ruku dan sujudnya tidak lurus, sebagaimana 

yang telah diuraikan pada bab Ruku. 

C. Doa-doa Sujud 

Dalam sujudnya Rasulullah SAW membaca beberapa zikir dan doa yang berbeda-beda, 

diantaranya sebagai berikut : 

1.”Subhana rabbiyal a’la” (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi”), tiga kali atau lebih. 

Pernah dalam sholat malam Rasulullah SAW mengucapkan berulang-ulang sehingga lama sujudnya hampir sama dengan berdirinya. Padahal dalam berdirinya Beliau SAW membaca 3 surah yang panjang (al-Baqarah, an-Nisaa dan Ali Imran), diselingi dengan bacaan doa dan istighfar sebagaimana yang dijelaskan dalam sholatlai l (malam, tahajjud) 

2.”Subhaana rabbiyal a’la wabihamdih.” (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi dan segala 

puji bagiNya”). 

3. ”Subbuuhun qudduusun rabbul malaaikati warruuhu.” (”Mahasuci dan Mahakudus, Tuhan 

malaikat dan ruh). 

4.”Subhaanaka allahumma rabbanaa wabihamdika allahummaghfirlii.” (”Mahasuci Engkau, 

wahai Tuhan, Tuhan kami dan dengan memujiMu wahai Tuhan, ampunilah aku”). (HR 

Bukhari dan Muslim). Bacaan ini banyak Beliau SAW baca pada saat ruku dan sujudnya 

sebagaimana yang diperintahkan al-Qur’an. 

5. Dan lain-lain. 

D. Larangan Membaca Al-Qur’an Ketika Sujud 

Rasulullah SAW melarang membaca al-Qur’an ketika ruku dan sujud. Namun Beliau SAW menyuruh untuk bersungguh-sungguh dan memperbanayk doa waktu sujud sebagaimana diterangkan dalam bab Ruku. 

Rasulullah SAW bersabda ”Seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia 

sedang sujud maka perbanyaklah doa (dalam sujud).” (HR Muslim, Abu Uwanah dan Baihaqi). 

E. Melamakan Sujud 

Lama Rasulullah SAW melakukan sujud adalah hampir sama dengan lama Beliau SAW melakukan ruku. Bahkan lebih lama lagi jika Beliau SAW sedang menghadapi masalah yang sulit sebagaimana dikatakan oleh sahabat Beliau ” Rasulullah SAW keluar menemui pada waktu sholat 

Dhuhur atau Ashar. Ketika itu Beliau menggendong Hasan dan Husen. Rasulullah SAW maju lalu meletakkan gendongannya disebelah kanannya. Kemudian bertakbir untuk melakukan sholat, lalu sujud dalam sholatnya itu. Beliau SAW bersujud lama sekali.” Perawi berkata ”Aku mengangkat kepalaku diantara orang banyak. Tapi ternyata anak kecil itu berada diatas punggung Beliau, 

18 Dari 26 

padahal Beliau sedang sujud. Kemudian aku kembali sujud. Ketika Rasulullah SAW selesai melakukan sholat, orang-orang bertanya ”Wahai Rasulullah engkau melakukan sujud dalam sholatmu ini lama sekali sehingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau engkau sedang menerima wahyu.” Beliau bersabda ”Semua itu tidak terjadi tetapi cucuku ini naik diatas punggungku dan aku tidak senang tergesa-gesa sampai anak ini puas dengan keinginannya.” 

F. Keutamaan Sujud 

Rasulullah SAW bersabda ”Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada 

hari kiamat kelak.” Para sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana Anda mengenal mereka padahal mereka berada diantara banyak makhluk?” Beliau bersabda ”Bagaimana pendapatmu jika diantara kumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahinya dan pada kaki-kakinya” Bukankah engkau dapat mengenalinya?” Jawab mereka ”Ya.” Beliau bersabda ”Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya yang bekas sujud dan cahaya putih diwajar, tangan dan kaki yang bekas wudhu.” (HR Ahmad dan 

Tirmidzi). 

Beliau SAW juga bersabda ”Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka maka Allah 

memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang menyembah Allah lalu malaikat mengeluarkan mereka. Mereka dikenal karena ada bekas sujud pada wajahnya dan Allah mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud sehingga mereka dikeluarkan dari neraka. Semua anggota anak Adam akan dimakan oleh api neraka kecuali tanda bekas sujud.” 

(HR Bukhari & Muslim). 

G. Sujud Diatas Tanah Dan Tikar 

Rasulullah SAW biasa sujud diatas tanah karena masjid Beliau tidak beralaskan tikar atau lainnya. 

Banyak hadits yang menerangkan hal ini diantaranya hadist Abu Said al-Khudri. 

Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa para sahabat melakukan sholat berjamaah bersama Beliau ketika cuaca sangat panas. Jika diantara mereka ada yang tidak sanggup menempelkan dahinya ke tanah, maka dia membentangkan kainnya dan sujud diatas kain tersebut. 

Rasulullah SAW bersabda ”Bumi seluruhnya telah dijadikan sebagai masjid dan alat untuk 

bersuci (tayamum) bagiku dan seluruh umatku. Untuk itu dimana saja seseorang dari umatku menemui waktu sholat maka disitulah masjidnya dan alat bersucinya. Sebelumku mereka tidak dapat melakukan demikain karena meraka sholat di gereja-gereja dan kuil-kuil.” (HR Ahmad dan 

Baihaqi). 

Terkadang Beliau SAW melaksanakan sholat diatas tanah yang becek. Hal ini pernah terjadi pada pagi hari tanggal 12 Ramadhan ketika turun hujan dan halaman masjid tergenang air sedangkan atapnya terbuat dari pelepah kurma. Sehingga Rasulullah SAW terpaksa sujud diatas tanah yang becek. Abu Sa’id al-Khudri dalam riwayat Bukhari dan Muslim berkata ”Saya melihat Rasulullah dan dikening serta hidung Beliau terlihat bekas lumpur.” 

Sementara itu dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa kadang Rasulullah SAW sholat diataskhum rah (tikar atau anyaman selebar sapu tangan) atau diatas tikar kecil. Nabi SAW pernah sujud diatas tikar yang sudah hitam karena sudah lama dipakai. 

H. Bangkit Dari Sujud (I’tidal) 

Rasulullah SAW mengangkat kepalanya dari sujud (i’tidal) seraya mengucapkan takbir. Beliau 

SAW memerintahkan orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukan yang demikian,”T idak 

sempurna sholat seseorang hinga sujud sampai tulang punggungnya tenang, kemudian 

19 Dari 26 

mengucapkan Allhu Akbar. Lalu bangkit dari sujud sehingga duduk dengan tegak.” (HR Ahmad 

dan Abu Daud). 

Terkadang Beliau SAW mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan takbir. Kemudian membentangkan kaki kiri dan duduk diatas telapaknya dengan tenang. Beliau SAW juga menyuruh orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukannya dan Beliau bersabda kepada orang itu 

”Jika kamu bersujud maka hendaknya kamu menekan. Apabila bangkit dari sujud (i’tidal) maka 

duduklah diatas betis kirimu.” (HR Bukhari dan Baihaqi). 

Beliau SAW menegakkan kaki kanannya dan menghadapkan jari-jari kanannya ke arah kiblat. 

I. Thumuninah Ketika Duduk Diantara Dua Sujud 

Terkadang Rasulullah SAW duduk dengan menegakkan telapak kaki dan tumit kedua kakinya. Rasulullah SAW melakukan duduk diantara dua sujud dengan thumuninah sehingga tuliang belakangnya rata dan mapan. Beliau SAW juga menyuruh orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukan hal itu. Beliau SAW bersabda ”Tidak sempurna sholat seseorang diantara kamu 

sehingga dia melakukan yang demikian.” (HR Abu Daud dan Hakim). 

Beliau SAW melamakan duduknya sehingga hampir sama dengan sujudnya. Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Terkadang Beliau SAW diam lama sampai ada yang mengatakan ”Beliau telah lupa.” 

J. Doa Ketika Duduk Diantara Dua Sujud 

Ketika duduk diantara dua sujud Rasulullah SAW membaca doa sebagai berikut : 

1.”Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii, wahdinii, wa’aanifinii, warzuqnii.” (”Ya Allah 

ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku petunjuk, 

jadikanlah aku sehat dan berilah rizki.” (HR Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

2.”Rabbighfirlii rabbighfirlii.” (Wahai Tuhan, ampunilah aku, ampunilah aku”) 

Beliau kadang membaca kedua doa tersebut ketika sholat malam24. Kemudian Beliau bertakbir dan sujud yang kedua kalinya. Beliau menyuruh orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukan yang demikian. Beliau SAW mengatakan kepadanya setelah menyuruhnya untuk melakukan thumuninah ketika duduk antara dua sujud ”Kemudian hendaknya kamu mengucapkan Allahu 

Akbar. Lalu sujud sehingga ruas-ruas tulang punggungmu rata atau mapan. Kemudian melakukan 

hal itu dalam semua sholat kamu.” (HR Abu Daud dan Hakim). 

Nabi SAW kadang mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan takbir. Beliau SAW 

melakukan sujud kedua sebagaimana sujud pertama kemudian bangkit sambil mengucapkan takbir. 

Beliau SAW menyruh melakukan itu kepada orang yang salah dalam sholatnya sebagaimana perkataan Beliau kepada orang tersebut setelah menyuruhnya untuk melakukan sujud yang kedua. Kemudian Beliau mengangkat kepalanya dan bertakbir. Beliau mengatakan kepadanya”Kemudian 

lakukanlah hal itu dalam setiap ruku dan sujud. Jika kamu melakukannya maka sempurnalah sholatmu. Tapi jika kamu menguranginya sedikit saja dari hal itu maka kamu telah mengurangi sholatmu.” (HR Ahmad dan Tirmidzi). 

24 Doa-doa ini tidak khusus dibaca pada sholat sunnah saja, melainkan disyariatkan juga untuk sholat fardhu, karena sholat 

sunnah dan fardhu tidaklah berbeda. Demikianlah menurut Imam Syafi’I, Ahmad dan Ishaq. Mereka mengatakan bahwa 

doa-doa ini boleh dibaca pada waktu sholat fardhu dan sholat sunnah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. 

Imam Thahawi juga mengatakan demikain sebagaimana disebutkan dlam kitab Musykil al-Atsar. Pandangan yang benar 

akan menguatkan hal itu. Karena dalam semua bagian sholat telah disyariatkan adanya doa, maka sepatutnya hal itu juga 

berlaku disini. Hal ini tidak sulit untuk dipahami. 

20 Dari 26 

Setelah itu Beliau SAW duduk tegak. Yaitu duduk diatas telapak kaki kirinya dengan tegak sampai setiap ruas tulang punggungnya mapan. Kemudian Nabi SAW bangkit ke rakaat kedua dengan tangan bertumpu ke tanah. Demikian diriwayatkan Bukhari dan Syafi’i. 

Menurut riwayat Abu Ishaq dan Bihaqi Nabi SAW bertumpu pada kedua tangannya jika berdiri ke rakaat berikutnya. Lalu ketika berdiri pada rakaat kedua, Beliau SAW mengawali bacaan dengan alhamdulillah tanpa diam lebih dahulu. Demikian menurut Muslim dan Abu Uwanah. Pada rakaat kedua ini Nabi SAW melakukan seperti yang Beliau SAW lakukan pada rakaat pertama, hanya saja bacaannya lebih pendek. 

Nabi SAW telah memerintahkan orang yang sholatnya salah untuk membaca al-Faatihah pada setiap rakaat sebagaimana sabda Beliau kepada orang tersebut setelah membaca al-Faatihah pada rakaat pertama, ”Kemudian lakukanlah seperti itu pada seluruh sholatmu.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Dalam riwayat lain disebutkan ”Pada setiap rakaat dalam sholatmu.” (HR. Ahmad). Dalam riwayat lain Beliau SAW bersabda ”Pada setiap rakaat ada bacaan (al-Faatihah).” (HR Ibnu Majah dan Ibu Hibban). 

TASYAHHUD AWAL 

Rasulullah SAW duduk tasyahud setelah rakaat kedua, jika sholat yang dilakukannya hanya dua rakaat, seperti sholat Subuh. Menurut Nasa’i Beliau SAW dudukiftirasy’ (duduk diatas telapak kaki kiri yang dihamparkan dalam telapak kaki kanan yang ditegakkan), seperti ketika Beliau duduk diantara dua sujud. Demikian juga apabila Beliau SAW duduk pada tasyahhud awal dalam sholat tiga atau empat rakaat. 

Beliau SAW menyuruh orang yang salah sholatnya untuk melakukan hal itu sebagaimana sabdanya 

”Bila kamu duduk dipertengahan sholat, hendaklah kamu melakukan thumuninah. Lalu hamparkanlah 

telapak kaki kirimu kemudian bacalah tasyahud.” (HR Abu Daud dan Baihaqi). 

Dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah, Thayalisi dan Ahmad, Abu Hurairah r.a mengatakan bahwa Nabi SAW telah melarangnya duduk diatas tumit seperti duduknya anjing. Dalam hadits Muslim dan Abu Uwanah, Nabi SAW melarang duduk diatas tumit seperti duduknya setan. 

Muslim dan Abu Uwanah meriwayatkan bahwa apabila duduk tasyahhud, Nabi SAW meletakkan tangan kanan diatas paha kanannya (dalam riwayat lain disebutkan : pada lutut kanannya) dan meletakkan telapak tangan kirinya pada paha kiri (dalam riwayat lain disebutkan : pada lutut kirinya). Merenggangkan telapak tangannya diatas lutut. 

Menurut Nasa’i, Nabi SAW meletakkan siku kanan diatas pada kanannya. Nabi SAW melarang 

bertumpu pada tangan kirinya pada waktu duduk tasyahud dalam sholat sebagaimana sabdanya” Cara 

semacam itu adalah cara sholat orang Yahudi.” (HR Baihaqi dan Hakim). 

Dalam hadits lain disebutkan ”Janganlah engkau duduk seperti itu karena duduk seperti itu adalah 

duduknya orang yang sedang diazab.” (HR Ahmad dan Abu Daud). 

Dalam hadits lain disebutkan ”Duduk seperti itu adalah cara duduk orang-orang yang dimurkai Allah.” 

(HR Abdur Razzaq). 

A. Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Duduk Tasyahhud. 

Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa Nabi SAW merenggangkan 

telapak tangan kiri diatas lutut kirinya. Tetapi Beliau SAW menggenggam semua jari tangan 

21 Dari 26 

kanannya dan mengacungkan telunjuknya ke kiblat. Lalu mengarahkan pandangan mata ke 

telunjuknya. 

Pada riwayat yang sama disebutkan bahwa ketika Beliau SAW mengacungkan telunjuknya ibu 

jarinya memegang jari tengah. Terkadang ibu jari dan jari tengahnya membentuk lingkaran. 

Abu Daud dan Nasa’i meriwayatkan bahwa Nabi SAW menggerak-gerakkan jari telunjuknya sembil berdoa. Beliau bersabda ”(Gerakan jari telunjuk) lebih ditakuti setan daripada pukulan besi.” (HR Ahmad dan Bukhari). 

Sebagian sahabat Nabi SAW telah mengambil suatu perbuatan atau meniru perbuatan sahabat yang lain yaitu menggerakkan telunjuknya sambil berdoa. Beliau SAW melakukan ini dalam dua tasyahhudnya (tasyahhud awal dan akhir). 

Dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Nasa’i disebutkan bahwa Nabi SAW pernah melihat seorang sahabat berdoa sambil mengacungkan dua jarinya. Lalu Beliau SAW bersabda sambil mengacungkan telunjuknya kepada orang itu ”Satu saja! Satu saja!.” 

B. Kewajiban Duduk Tasyahhud Awal Dan Membaca Doa 

Nabi SAW membaca doa tahiyat setiap dua rakaat. Yang pertama kali Beliau SAW lakukan dalam duduk (pada rakaat kedua) adalah membaca “At-tahiyyatu lillah.” Apabila Beliau lupa melakukan duduk (tasyahhud) pada dua rakaat yang pertama maka Beliau melakukan sujud sahwi. Beliau SAW menyuruh melakukan itu, ”Bila kamu sekalian duduk pada setiap dua rakaat ucapkanlah at- 

tahiyyat. Kemudian hendaklah seseorang memilih doa yang disenanginya dan memohon (apa yang 

diminta) kepada Allah Yang Mahaperkasa dan Mahamulia.” (HR Nasa’i, Ahmad, dan Thabrani). 

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW mengajarkan tasyahhud kepada para sahabatnya seperti Beliau mengajarkan surah-surah al-Qur’an. Menurut sunnah (hadits riwayat Abu Daud dan Hakim), bacaan tasyahhud ini diucapkan dengan samar. 

C. Macam-Macam Bacaan Tasyahhud 

Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabatnya berbagai macam bacaan tasyahhud. 

1. Tasyahhud Ibnu Mas’ud 

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan tasyahhud sambil 

menggenggam tangannya seperti Beliau mengajarkan surah al-Qur’an, 

”Attahiyyatulillah, washolawaatu wath-thoyyibaatu,a ssalaam u’alaika ayyuhannabiyyu….. . (Semua ucapan penghormatan, pengagungan, dan pujian hanya milik Allah. Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah akan diberikan untukmu, wahai Nabi…. ……)(dan 

seterusnya). 

2. Tasyahhud Ibnu Abbas. 

Ibnu Abbas berkata ”Rasulullah telah mengajarkan kepada kami tasyahhud sebagaimana Beliau 

mengajarkan kepada kami surah al-Qur’an dimana bacaan tersebut berbunyi, 

”Attahiyyaatul mubaarakaatush sholawaatuth thoyyibaatulillah,assalaamu’a laika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi bawarakaatuh. ….. (Segala ucapan penghormatan, berkah dan karunia, ucapan pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah. Semua perlindungan dan pmeliharaan akan diberikan untukmu, wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan karuniaNya. 

…..)(dan seterusnya). 

3. Tasyahhud Ibnu Umar 

22 Dari 26 

Rasulullah SAW mengucapkan dalam tasyahhudnya, 

”Attahiyyatulillah, washolawaatu wath-thoyyibaatu,assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh….. (Semua ucapan penghormatan milik Allah, begitu pula kurnia dan pengagungan. Segala pertolongan dan pemeliharaan akan diberikan untukmu, wahai Nabi……….) (dan seterusnya). 

4. Dan lain-lain. 

Perlu diperhatikan :25 

Lafalassala amu ’ala ika ini hanya diucapkan pada saat Rasulullah SAW masih hidup saja oleh para sahabat. Ketika Rasulullah SAW sudah meninggal, para sahabat tidak lagi menggunakan kata- kata assalaamu’alaika lagi tetapi menggantinya dengan menggunakan kataassa la amu ’alannab i. Demikian yang telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud. 

Ibnu Mas’ud berkata ”(Tasyahhud No. 1 itu digunakan) Pada saat itu Beliau (Nabi SAW) berada 

bersama kami, namun setelah Beliau SAW wafat, kami mengucapkan’ Assalaamu’alan nabi…. … ( 

sampai dengan selesei)’.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah, 

II/90/I juga oleh Siraj dan Abu Ya’la dalamMu snadnya II, halaman 528 hadits ini ditakhrij dalam 

kitab Irwaa’ul Ghaliil No. 321. 

Demikian juga Ibnu Hajar yang berkata ” Benar telah sahih riwayat itu tanpa keraguan (karena telah tetap riwayat tersebut dalam sahih al-Bukhari). Dan sungguh aku telah jumpai mutaba’an (riwayat yang lain) yang menguatkannya.” ’Abdur razzaq berkata : Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku, ia berkata, ’Atha’ mengabarkan kepadaku bahwasannya para sahabat dahulu ketika Nabi SAW masih hidup mengucapkan assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu. Setelah Beliau SAW wafat mereka mengucapkanassalaamu’alann abi. Riwayat ini sanadnya shahih. 

Untuk lebih jelas pembahasan masalah ini silahkan membaca buku ”Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddin Dan Ahli Hadits Abad Ini” karangan Mubarak bin Mahfudh Bamuallim LC. Diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i, dalam bab ’Sunnah-Sunnah Yang Dihidupkan Oleh Imam Al- Albani’, halaman 101. 

D. Shalawat Nabi, Tempat Dan Lafalnya 

Rasulullah SAW membaca shalawat untuk dirinya pada tasyahhud awal dan lainnya. Beliau SAW menganjurkan umatnya untuk melakukan itu seperti Beliau memerintahkan untuk mengucapkan shalawat setelah mengucapkan salam kepadanya. Beliau SAW mengajarkan kepada para sahabat berbagai macam lafal shalawat. Diantaranya adalah sebagai berikut, 

1.“Allahumma sholi ‘ala muhammad, wa’ala ahli baitih, wa’ala azwaajihi, wadzurriyyatihi, 

kamaa shollaita ‘ala aali ibraahim, innaka hamiidun majiid, wabaarik ‘ala muhammad, wa’ala azwaajihii wadzurriyyatihi, kamaa baarakta ‘ala baitihi aali ibraahim innaka hamiidun majid(Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad26 keluarganya, istrinya, dan 

25 Tulisan ini diambil dari buku ”Biografi Syaikh Al-Albani, Mujaddin Dan Ahli Hadits Abad Ini” karangan Mubarak bin 

Mahfudh Bamuallim LC. Diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i, dalam bab ’Sunnah-Sunnah Yang Dihidupkan Oleh 

Imam Al-Albani’, halaman 101. 

26 Pengertian shalawat Nabi yang paling baik telah dikemukakan oleh Abu ‘Aliyah bahwa maksud Allah bershalawat 

kepada Nabi adalah Allah memuji dan memuliakannya. Sedangkan maksud Malaikat bershalawat kepada Nabi adalah 

mereka memohon kepada Allah untuk memberi kedudukan terpuji dan terhormat kepada Beliau. Ibnu Hajar dalam kitab 

23 Dari 26 

keturunannya sebagaimana Engkau (Allah) telah berikan kepada keluarga Ibrahim. …… (dan 

seterusnya). 

Inilah lafal shalawat yang biasa dibaca Nabi SAW. 

2.“Allahumma sholli ‘ala muhammad, wa’ala aali muhammad, kamaa shollaita ‘ala ib-roohiim, 

wa’ala ib-rohiim, innaka hamiidun majiid, Allahumma baarik ‘ala muhammad, wa’ala aali muhammad, kamaa baarokta ‘ala ib-roohiim, wa’ala ib-rohiim, innaka hamiidun majiid” (Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan kepada keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung ………(dan seterusnya). 

3.Dan lain-lain. 

E. Bangkit Ke Rakaat Ketiga Dan Keempat 

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW bangkit ke rakaat ketiga seraya mengucapkan takbir. Beliau SAW memerintahkan orang yang shalatnya salah untuk melakukan itu sebagaimana sabdanya, ”Kemudian lakukanlah seperti itu pada setiap rakaat dan 

sujud”. 

Nabi SAW mengucapkan takbir ketika bangkit dari duduk, kemudian Beliau SAW berdiri. Beliau SAW kadang mengangkat kedua tangnnya bersamaan dengan mengucapkan takbir. Demikian yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Daud. 

Apabila Beliau SAW hendak bangkit ke rakaat keempat, Beliau SAW mengucapkan” A lla hu 

akbar”. Beliau SAW mengangkat kedua tangnnya bersamaan saat takbir. Beliau SAW menyuruh 

orang yang shalatnya salah untuk melakukan seperti ini. 

Kemudian Beliau SAW duduk tegak diatas kaki kirinya sampai ruas tulang punggungnya mapan (lurus). Lalu, Beliau SAW bangkit seraya bertumpu dengan tangannya ke tanah. Demikian diriwayatkan Bukhari dan Abu Daud. 

F. Membaca Qunut Nazilah Pada Shalat Lima Waktu Karena Terjadi Musibah Yang Menimpa 

Kaum Muslim 

Imam Bukhari dan Ahmad meriwayatkan bahwa apabila Nabi SAW bermaksud memohon kebaikan atau kecelakaan bagi seseorang, Beliau SAW membaca qunut (do’a dalam shalat pada posisi berdiri) pada rakaat terakhir setelah bangkit dari ruku, yaitu setelah mengucapkan 

sami’allaahu liman hamidah, allaahumma rabbana lakal hamdu. Beliau SAW mengucapkannya 

dengan suara keras seraya mengangkat kedua tangannya dan para makmum dibelakang Beliau 

SAW mengamininya (membaca amin). 

Nabi SAW membaca qunut pada shalat-shalat wajib, tetapi Beliau SAW hanya melakukannya apabila memohon kebaikan atau malapetaka untuk suatu kaum. Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Daruquthni dan Ibnu Khuzaimah. 

Beliau SAW pernah membaca do’a qunut sebagai berikut ”Allahumma anjil waliidabnal waliid, 

wasalamatabna hisyam, wa’ayyaasyabna abii rabii’at, allahummasydud wath ataka ‘ala mudhoro waj’alhaa ‘alaihim kasinii yuusuf, allahummal’an lahyaana wara’laan wadzakwaana wa’ushoyyata ‘ashotillaha warasuulah” (Ya Allah selamatkanlah Walid bin Walid, Salamah bin Hisyam dan ’Ilyas bin Abi Rabi’ah. Ya Allah kuatkanlah cengkeramanMu kepada suku Mudhar 

Fathul Bari mengemukakan pendapat yang populer tentang makna Allah bershalawat kepada Nabi yaitu Allah memberi rahmat kepadanya. Pembahasan secara mendetail telah dipaparkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab Jala’ul Afham. 

sumber : Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Albani Rahimahullah & Shahih bukhari