Tauhid Asma Wa Shifat


Tauhid Asma Wa Shifat PDF Print E-mail


Written by Abuarsyad
Tuesday, 13 October 2009 18:00

Makna tauhidul asma wash-shifat (mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifat-Nya) adalah meyakini secara mantap bahwa Allah swt. menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan suci dari segala sifat kekurangan, dan bahwa Dia berbeda dengan seluruh makhluk-Nya.

Caranya adalah dengan menetapkan (mengakui) nama-nama dan sifat-sifat Allah yang Dia sandangkan untuk Dirinya atau disandangkan oleh Rasulullah saw dengan tidak melakukan tahrif (pengubahan) lafazh atau maknanya, tidak ta’thil (pengabaian) yakni menyangkal seluruh atau sebagian nama dari sifat itu, tidak takyif (pengadaptasian) dengan menentukan esensi dan kondisinya, dan tidak tasybih (penyerupaan) dengan sifat-sifat makhluk.

Dari definisi di atas, jelaslah bahwa tauhidul asma wash-shifat berdiri di atas tiga asas. Barang siapa menyimpang darinya, maka ia tidak termasuk orang yang mengesakan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya. Ketiga asas itu adalah:

1. menyakini bahwa Allah Maha Suci dari kemiripan dengan makhluk dan dari segala kekurangan.

2. mengimani seluruh nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa mengurangi atau menambah-nambahi dan tanpa mengubah atau mengabaikannya.

3. menutup keinginan untuk mengetahui kaifiyyah (kondisi) sifat-sifat itu.

Adapun asas yang pertama, yakni meyakini bahwa Allah Maha Suci dari kemiripan dengan makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya, ini didasarkan pada firman Allah swt.:

“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya. ” [QS. Al-Ikhlash (112): 4]

“Maka janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah.” [QS. An-Nahl (16): 74]

Al-Qurtubi, saat menafsirkan firman Allah, ”Tidak ada yang sama dengan-Nya sesuatu apapun, ” mengatakan, ”Yang harus diyakini dalam bab ini adalah bahwa Allah swt., dalam hal keagungan, kebesaran, kekuasaan, dan keindahan nama serta ketinggian sifat-Nya, tidak satu pun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya dan tidak pula dapat diserupakan dengan makhluk-Nya. Dan sifat yang oleh syariat disandangkan kepada Pencipta dan kepada makhluk, pada hakikatnya esensinya berbeda meskipun lafazhnya sama. Sebab, sifat Allah Yang Tidak Berpemulaan (qadim) pasti berbeda dengan sifat makhluk-Nya.

Al-Wasithi mengatakan, ”Tidak ada Dzat yang sama dengan Dzat-Nya; tidak ada nama yang sama dengan nama-Nya; tidak ada perbuatan yang sama dengan perbuatan-Nya; tidak ada sifat yang sama dengan sifat-Nya kecuali dari sisi lafazhnya saja. Maha Suci Dzat Yang Qadim dari sifat-sifat makhluk. Sebagaimana adalah mustahil makhluk memiliki sifat-sifat Pencipta. Dan, inilah mazhab para pemegang kebenaran, yakni Alus Sunah Wal Jama’ah.

Sayyid Qutb mengatakan, saat menafsirkan ayat tersebut di atas, ”Fitrah pasti akan mengimani hal ini. Bahwa Pencipta segala sesuatu tidak akan dapat disamakan dalam hal sekecil apa pun oleh makhluk-Nya.”

Dan masuk dalam asas pertama ini, menyucikan Allah swt. dari segala yang bertentangan dengan sifat yang Dia sandangkan untuk Dirinya atau dengan sifat yang disandangkan oleh Rasulullah saw. Jadi mengesakan Allah dalam hal sifat-sifat-Nya menuntut seseorang Muslim untuk meyakini bahwa Allah tidak mempunyai istri, teman, tandingan, pembantu, dan syafi’ (pemberi syafa’at), kecuali atas izin-Nya. Dan juga menuntut seorang Muslim untuk menyucikan Allah dari sifat tidur, lelah, lemah, mati, bodoh, zalim, lalai, lupa, kantuk, dan sifat-sifat kekurangan lainnya.

Adapun asas kedua, mewajibkan kita untuk membatasi diri pada nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nama-nama dan sifat-sifat itu harus ditetapkan berdasarkan wahyu, bukan logika. Jadi, tidak boleh menyandangkan sifat atau nama kepada Allah kecuali sejauh yang ditetapkan oleh Allah untuk Dirinya atau ditetapkan oleh Rasulullah saw. Sebab Allah swt. Maha Tahu tentang Dirinya, sifat-sifat-Nya ,dan nama-nama-Nya. Ia berfirman:

“Katakanlah, kalian yang lebih tahu atau Allah?” [QS. Al-Baqarah (2): 140]

Nah, bila Allah yang lebih mengetahui tentang Dirinya dan para Rasul-Nya adalah orang-orang jujur dan selalu membenarkan segala informasi dari-Nya, pasti mereka tidak akan menyampaikan selain dari apa yang diwayukan oleh-Nya kepada mereka. Karenanya, dalam urusan mengukuhkan atau menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah wajib merujuk kepada informasi dari Allah dan Rasul-Nya. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, ”Tidak boleh menyandangkan sifat kepada Allah selain dari apa yang disandangkan oleh Dirinya sendiri atau oleh Rasul-Nya; tidak boleh melangkahi Al-Qur’an dan Al-Hadist.”

Nu’aim bin Hammad, guru Imam Al-Bukhari, mengatakan, ”Barangsiapa menyamakan Allah dengan makhluk, maka ia kafir. Barangsiapa menolak sifat Allah yang disandangkan-Nya untuk Dirinya atau disandangkan oleh Rasul-Nya, maka ia kafir. Dan dalam sifat-sifat Allah yang disandangkan oleh-Nya atau oleh Rasul saw. tidak ada kesamaan atau kemiripan dengan sifat-sifat makhluk-Nya.”

Adapun asas yang ketiga menuntut manusia yang mukallaf untuk mengimani sifat-sifat dan nama-nama yang ditegaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa bertanya tentang kaifiyyah (kondisi)-Nya, dan tidak pula tentang esensinya. Sebab, mengetahui kaifiyyah sifat hanya akan dicapai manakala mengetahui kaifiyyah Dzat. Karena sifat-sifat itu berbeda-beda, tergantung pada penyandang sifat-sifat tersebut. Dan Dzat Allah tidak berhak dipertanyakan esensi dan kaifiyyah-Nya. Maka, demikian pula sifat-sifat-Nya, tidak boleh dipertanyakan kaifiyyah-Nya.

Karenanya, ketika para ulama salaf ditanya tentang kaifiyyah istiwa (cara Allah bersemayam) mereka menjawab, ”Istiwa itu sudah dipahami, sedang cara-caranya tidak diketahui; mengimaninya (istiwa) adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.” Jadi, kaum salaf sepakat bahwa kaifiyyah istiwa itu tidak diketahui oleh manusia dan bertanya tentang hal itu adalah bid’ah.

Jika ada seseorang bertanya kepada kita, ”Bagaimana cara Allah turun ke langit dunia?” Maka kita tanyakan kepadanya, “Bagaimana Dia?” Jika ia mengatakan, ”Saya tidak tahu kaifiyyah Dia.” Maka kita jawab, “Makanya kita tidak tahu kaifiyyah Dia. Sebab untuk mengetahui kaifiyyah sifat harus mengetahui terlebih dahulu kaifiyyah dzat yang disifati itu. Karena, sifat itu adalah cabang dan mengikuti yang disifati. Jadi, bagaimana Anda menuntut kami untuk menjelaskan cara Allah mendengar, melihat, berbicara, istiwa, padahal Anda tidak tahu bagaimana kaifiyyah Dzat-Nya. Maka, jika Anda mengakui bahwa Allah adalah wujud yang hakiki yang pasti memiliki segala sifat kesempurnaan dan tidak ada yang menandinginya, maka mendengar, melihat, berbicara, dan turunnya Allah tidak dapat digambarkan dan tidak bisa disamakan dengan makhluk-Nya.

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengetahui bahwa tauhidul asma wash-shifat ini dapat rusak dengan beberapa hal berikut:

1. Tasybih.

Yakni menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. Seperti yang dilakukan orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih bin Maryam dengan Allah swt; orang Yahudi menyerupakan ‘Uzair dengan Allah; orang-orang musyrik menyerupakan patung-patung mereka dengan Allah; beberapa kelompok yang menyerupakan wajah Allah dengan wajah makhluk, tangan Allah dengan tangan makhluk, pendengaran Allah dengan pendengaran makhluk, dan lain sebagainya.

2. Tahrif.

Artinya mengubah atau mengganti. Yakni mengubah lafazh-lafazh nama Allah dengan menambah atau mengurangi atau mengubah harakah i’rabiyyah, atau mengubah artinya, yang oleh para ahli bid’ah diklaim sebagai takwil, yaitu memahami satu lafazh dengan makna yang rusak dan tidak sejalan dengan makna yang digunakan dalam bahasa Arab. Seperti pengubahan kata dalam firman Allah wa kallamallahu musa taklima menjadi wa kallamallaha. Dengan demikian, mereka bermaksud menafikan sifat kalam (berbicara) dari Allah swt.

At-Tahrif secara bahasa bermakna menyimpangkan sesuatu dari hakikat bentuk dan kebenarannya. Adapun menurut istilah syariat makna adl memalingkan sebuah ucapan dari makna zhahir yg semula dipahami kepada makna lain yg tdk ditunjukkan oleh rangkaian kalimatnya. Perbuatan At-Tahrif terbagi kepada dua jenis:
a. At-Tahrif yg dilakukan pada teks lafadz. Jenis yg ini terbagi kepada tiga bentuk:
1. Mengubah harakatnya. Di antara seperti bacaan dari sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.”
Mereka membaca dgn memberi harakat fathah pada kata dgn tujuan utk mengubah makna yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam yg mengajak Allah Subhanahu wa Ta’ala utk berbicara bukan sebaliknya.
2. Menambahkan huruf yg demikian itu seperti men-tahrif bacaan اسْتَوَى yg arti tinggi menjadi اسْتَوْلَى yg arti berkuasa.
3. Menambahkan kalimat yg demikian itu seperti menambahkan kata yg arti rahmat pada firman Allah وَجَاءَ رَبُّكَ yg arti “telah datang Rabbmu” sehingga menjadi وَجَاءَ رَحْمَةُ رَبِّكَ yg arti “telah datang rahmat Rabbmu.”
b. At-Tahrif yg dilakukan pada makna kata tanpa mengubah harakat dan lafadznya. Contoh seperti ucapan sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ

“Bahkan kedua tangan-Nya terbentang.”
Mereka mengatakan bahwa yg dimaksud dgn tangan-Nya adl kekuasaan atau ni’mat-Nya atau yg selain itu.
Di sini perlu ditegaskan bahwa ahli bid’ah yg suka melakukan At-Tahrif tdk menamakan dgn At-Tahrif tetapi menyebut sebagai At-Ta`wil yg arti menafsirkan. Hal ini krn mereka tahu bahwa kata At-Tahrif berkonotasi jelek dan tercela di dlm Al-Qur`an. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوا يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

“Yaitu orang2 Yahudi mereka mentahrif perkataan dari tempat-tempatnya.”
Pada ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menisbatkan perbuatan At-Tahrif kepada kaum Yahudi. Ini menunjukkan bahwa konotasi makna adl jelek. Mereka mengganti istilah At-Tahrif dgn istilah At-Ta`wil agar lbh diterima oleh banyak kalangan dan dlm rangka melariskan dagangan kebid’ahan mereka di antara orang2 yg tdk bisa membedakan antara keduanya.

3. Ta’thil (pengabaian, membuat tidak berfungsi).

Yakni menampik sifat Allah dan menyangkal keberadaannya pada Dzat Allah swt., semisal menampik kesempurnaan-Nya dengan cara membantah nama-nama dan sifat-sifat-Nya; tidak melakukan ibadah kepada-Nya, atau menampik sesuatu sebagai ciptaan Allah swt, seperti orang yang mengatakan bahwa makhluk-makhluk ini qadim (tidak berpermulaan dan menyangkal bahwa Allah telah mencipatkan dan membuatnya).

At-Ta’thil secara bahasa makna meninggalkan dan mengosongkan. Adapun menurut istilah syariat makna adl menolak makna yg benar di dlm Al-Qur`an dan As-Sunnah. At-Ta’thil terbagi kepada dua jenis:
1. At-Ta’thil yg bersifat global yaitu menolak nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara menyeluruh sebagaimana yg dilakukan oleh kelompok Al-Jahmiyyah Al-Qaramithah para ahli filsafat dan yg selain mereka.
2. At-Ta’thil yg bersifat parsial yaitu menolak sebagian dan menetapkan sebagian yg lain sebagaimana yg dilakukan oleh kelompok Al-Mu’tazilah yg menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan nama-nama-Nya. Demikian pula kelompok Al-Asya’irah Al-Kullabiyyah dan Al-Maturidiyyah yg menolak sebagian sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan sebagian yg lainnya.

4. Takyif (mengkondisikan) menentukan kondisi dan menetapkan esensinya.

At-Takyif makna meyakini sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm bentuk tertentu yg dibayangkan di alam pikiran atau menanyakan bagaimana bentuk walaupun tanpa menyerupakan dgn sesuatu yg wujud. Berarti At-Takyif berbeda dari At-Tamtsil dari satu sisi dan sama dari sisi yg lainnya. Perbedaan kedua At-Takyif menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sesuatu yg tdk ada wujud di luar alam pikiran sedangkan At-Tamtsil menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sesuatu yg ada wujud di luar alam pikiran. Adapun kesamaan kedua sama-sama perbuatan menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn yg selainnya. Sehingga tiap orang yg melakukan At-Tamtsil pasti melakukan pula At-Takyif tetapi tdk sebaliknya.

Manhaj dalam memahami nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa melakukan tasybih, tahrif, ta’thil dan takyif ini merupakan mazhab salaf, yakni kalangan sahabat, semoga Allah meridhai mereka semua, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in.

Asy-Syaikani mengatakan, “Sesungguhnya, mazhab salaf, yakni kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, adalah memberlakukan dalil-dalil tentang sifat-sifat Allah sesuai dengan zhahirnya tanpa melakukan tahrif, takwil yang dipaksakan, dan tidak pula ta’thil yang mengakibatkan terjadinya banyak ta’wil. Dan jika mereka ditanya tentang sifat-sifat Allah, meraka membacakan dalil lalu menahan diri dari mengatakan pendapat itu dan ini, seraya mengatakan, Allah mengatakan demikian dan kami tidak mengetahui lebih dari itu.

Kami tidak akan memaksakan diri untuk berbicara apa yang tidak kami ketahui dan apa yang tidak Allah izinkan untuk kami lampaui. Jika si penanya itu menginginkan penjelasan melebihi dari yang zahir, maka mereka segera melarangnya agar tidak menenggelamkan dalam hal yang tidak berguna dan mencegah dari mencari apa yang tidak mungkin mereka capai selain terjerumus dalam bid’ah dan dalam hal yang tidak diajarkan Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat dan tabi’in. Dan pada masa itu, pendapat tentang al-asma wa ash-shifat adalah satu. Dan cara memahaminya juga sama.

Kesibukan mereka saat itu adalah melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan tugaskan kepada mereka untuk dilaksanakan. Yakni beriman kepada Allah, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat dan pusa, haji, jihad, infaq, mencari ilmu yang bermanfaat, membimbing manusia kepada kebaikan, memerintah yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, dan sebagainya. Dan, mereka tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak dibebankan kepada mereka atau dengan hal-hal yang kalaupun dilaksanakan tidaklah merupakan ibadah, seperti mencari hakikat nama-nama dan sifat-sifat itu. Karenanya, pada masa itu agama Islam bersih dari debu-debu bid’ah.

sumber: dakwatuna

Mendalami Tauhid Al-Asma` wash Shifat

penulis Al-Ustadz Abdul Mu’thi
Syariah Kajian Utama 22 – Mei – 2007 02:23:02

Di antara kita mungkin banyak yg belum paham bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki banyak nama dan sifat. Namun tentu saja nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala berbeda dgn nama dan sifat makhluk-Nya krn tdk ada sesuatupun yg serupa dgn Dia. Di antara perbedaan nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala penuh dgn kesempurnaan sedangkan nama dan sifat makhluk mengandung banyak kekurangan. Pemahaman yg benar tentang nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi dampak yg besar terhadap keimanan seseorang. Sebalik pemahaman yg keliru bisa menyebabkan seseorang kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang dimaksud dgn tauhid ini ialah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn seluruh nama dan sifat yg dimiliki-Nya. Keyakinan ini mengandung dua perkara:
1. Penetapan yg dimaksud adl menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala seluruh nama dan sifat-Nya. mk tidaklah kita menetapkan nama bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dgn nama yg Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula tidaklah kita menetapkan sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dgn sifat yg Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Peniadaan yg dimaksud adl meniadakan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala seluruh nama dan sifat yg telah ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Meniadakan pula semua penyerupaan dgn nama dan sifat makhluk. Jika ada keserupaan dari sisi asal makna kata namun hakikat tetaplah berbeda. Jadi yg ditiadakan adl keserupaan dari segala sisi bukan pada sebagiannya.
Barangsiapa tdk mau menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuatu yg sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya berarti dia mu’aththil dan penolakan serupa dgn penolakan Fir’aun. Sebab seorang yg tdk mau menetapkan nama dan sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia telah meniadakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana Fir’aun yg tdk mengimani keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi barangsiapa mau menetapkan lalu menyerupakan nama dan sifat tersebut dgn makhluk berarti dia menyamai kaum musyrikin yg mengibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab seorang yg menyerupakan nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sesuatu yg ada pada makhluk pada hakikat dia mengibadahi sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala krn Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk sama dgn makhluk-Nya. Kemudian barangsiapa mau menetapkan sesuatu yg sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakan dgn yg selain-Nya berarti dia seorang muwahhid . Wallahu a’lam bish-shawab.
Penetapan dan peniadaan ini memiliki dali-dalil yg sangat otentik dan akurat dari dua arah yg tdk diragukan lagi keabsahan yaitu syariat dan naluri logika. Adapun dari syariat di antara firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلِلَّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

“Ha milik Allah nama-nama yg paling baik mk berdoalah kepada-Nya dgn menyebut nama-nama itu dan tinggalkanlah orang2 yg menyimpang dari kebenaran mengenai nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan atas segala yg telah mereka kerjakan.”

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tak ada sesuatupun yg serupa dengan-Nya dan Dia-lah yg Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

فَلاَ تَضْرِبُوا لِلَّهِ اْلأَمْثَالَ إِنَّ اللهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Maka janganlah kalian mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah. Sesungguh Allah mengetahui sedang kalian tdk mengetahui.”

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً

“Dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yg kalian tdk memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguh pendengaran penglihatan dan hati seluruh itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
Sedangkan dalil dari naluri logika yaitu kita mengatakan bahwa berbicara tentang nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk pemberitaan yg tdk mungkin akal kita mampu menangkap rincian tanpa tuntunan wahyu. Oleh krn itu seharus kita mencukupkan diri dgn tiap yg diberitakan oleh wahyu saja dan tdk melampauinya.
Menggabungkan antara penetapan dan peniadaan dlm masalah nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hakikat tauhid. tdk mungkin mencapai kebenaran hakikat tauhid kecuali dgn penetapan dan peniadaan. Karena mencukupkan diri dgn penetapan semata tidaklah mencegah timbul penyerupaan dan penyekutuan. Sedangkan mencukupkan diri dgn peniadaan berarti penolakan yg murni.
Sebagai contoh jika engkau berkata “Si Zaid bukan seorang pemberani.” Berarti engkau telah meniadakan sifat pemberani dari si Zaid sekaligus menolak Zaid dari sifat pemberani. Jika engkau berkata “Zaid adl seorang pemberani.” Berarti engkau telah menetapkan sifat pemberani bagi Zaid tetapi tdk menolak kemungkinan bahwa selain Zaid juga pemberani. Jika engkau berkata “Tak ada seorang pun yg pemberani kecuali Zaid.” Berarti engkau telah menetapkan sifat pemberani bagi Zaid dan meniadakan dari selain Zaid. Dengan demikian engkau telah mengesakan Zaid dlm perkara keberanian.
Jadi tdk mungkin mengesakan seseorang dlm suatu perkara kecuali dgn menggabungkan antara peniadaan dan penetapan.
Di sini kita perlu menegaskan bahwa seluruh sifat yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi diri-Nya merupakan sifat-sifat kesempurnaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala lbh banyak menyebutkan secara rinci daripada mengglobalkan. Karena bila pemberitaan dan kandungan-kandungan yg ditunjukkan semakin banyak mk akan tampak kesempurnaan dzat yg disifatkan dengan yg sebelum tdk diketahui.
Oleh krn itu sifat-sifat yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya lbh banyak diberitakan daripada sifat-sifat yg ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari diri-Nya. Adapun seluruh sifat yg telah ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari diri-Nya merupakan sifat-sifat kekurangan yg tdk pantas bagi Dzat-Nya seperti sifat kelemahan letih aniaya dan sifat menyerupai para makhluk.
Kebanyakan sifat ini disebutkan secara global. Sebab hal itu lbh mendukung utk mengagungkan dzat yg disifatkan dan lbh sempurna dlm menyucikannya. Sedangkan penyebutan sifat-sifat itu secara rinci tanpa alasan bisa menjadi ejekan dan pelecehan terhadap dzat yg disifati.
Jika anda memuji seorang raja dgn mengatakan kepada “Anda adl seorang yg dermawan pemberani teguh memiliki hukum yg kuat perkasa atas musuh-musuhmu” dan sifat-sifat terpuji lain sungguh hal ini termasuk sanjungan yg sangat besar terhadapnya. Bahkan di dlm terdapat nilai pujian yg lbh dan menampakkan kebaikan-kebaikan sehingga menjadikan sebagai seorang yg dicintai dan dihormati krn anda telah memperinci sifat-sifat yg ditetapkan baginya.
Demikian pula jika anda mengatakan kepada “Anda adl seorang raja yg tdk bisa disamai oleh seorang pun dari raja-raja dunia yg berada di masamu” sungguh hal ini juga merupakan sanjungan yg bernilai lebih krn anda telah mengglobalkan sifat-sifat yg ditiadakan darinya.
Jika anda mengatakan kepada “Engkau adl seorang raja yg tdk pelit tdk penakut tdk faqir dan engkau bukan seorang penjual sayur bukan seorang tukang sapu bukan dokter hewan dan bukan tukang bekam” dan rincian-rincian yg semacam itu dlm meniadakan segala keaiban yg tdk pantas bagi kemuliaan sungguh hal ini akan dianggap sebagai ejekan dan pelecehan terhadap haknya.
Walaupun yg mayoritas pada sifat-sifat yg ditiadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari Dzat-Nya adl disebutkan secara global namun terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dgn rinci pula krn beberapa sebab:
1. Untuk meniadakan sesuatu yg diklaim oleh para pendusta terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dlm firman-Nya:

مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ

“Allah sekali-kali tdk mempunyai anak dan sekali-kali tdk ada sesembahan yg berhak diibadahi beserta-Nya.”
2. Untuk menepis anggapan akan suatu kekurangan pada kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dlm firman-Nya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوْبٍ

“Dan sesungguh telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yg ada antara kedua dlm enam hari dan tidaklah sedikitpun kami ditimpa keletihan.”
Di dlm Al-Qur`an terlalu banyak ayat yg berbicara tentang nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara rinci. Di antara firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

هُوَ اللهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ. هُوَ اللهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Dialah Allah yg tiada sesembahan yg berhak diibadahi selain Dia yg mengetahui yg ghaib dan yg nyata Dia-lah yg Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yg tiada sesembahan yg berhak diibadahi selain Dia yg Maha Memiliki yg Maha Suci yg Maha Sejahtera yg Mengaruniakan keamanan yg Maha Memelihara yg Maha Perkasa yg Maha Kuasa yg Maha Sombong. Maha Suci Allah dari segala yg mereka persekutukan. Dialah Allah yg Maha Menciptakan yg Mengadakan yg membentuk rupa yg mempunyai nama-nama yg baik. Seluruh yg di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya. Dialah yg Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Ayat-ayat ini mengandung lbh dari 15 nama dan tiap nama bisa mengandung satu atau dua sifat bahkan bisa pula lebih. Juga di antara firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُدْخَلاً يَرْضَوْنَهُ وَإِنَّ اللهَ لَعَلِيْمٌ حَلِيْمٌ. ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوْقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللهُ إِنَّ اللهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ. ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ يُوْلِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ اللهَ سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ. ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ اْلأَرْضُ مُخْضَرَّةً إِنَّ اللهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ. لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَإِنَّ اللهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ. أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى اْلأَرْضِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

“Sesungguh Allah akan memasukkan mereka ke dlm suatu tempat yg mereka menyukainya. Dan sesungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Demikianlah dan barangsiapa membalas seimbang dgn penganiayaan yg pernah ia derita kemudian ia dianiaya pasti Allah akan menolongnya. Sesungguh Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Yang demikian itu adl krn sesungguh Allah memasukkan malam ke dlm siang dan memasukkan siang ke dlm malam dan bahwasa Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. yg demikian itu adl krn sesungguh Allah dialah yg haq dan sesungguh apa saja yg mereka seru selain Allah adl batil dan sesungguh Allah Dialah yg Maha Tinggi lagi Maha Besar. Apakah kalian tiada melihat bahwasa Allah menurunkan air dari langit lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguh Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. Kepunyaan Allah-lah segala yg ada di langit dan segala yg ada di bumi. Dan sesungguh Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Apakah kamu tiada melihat bahwasa Allah menundukkan bagimu apa yg ada di bumi dan bahtera yg berlayar di lautan dgn perintah-Nya? Dan dia menahan langit jatuh ke bumi melainkan dgn izin-Nya? Sesungguh Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
Ayat ini berjumlah tujuh ayat yg saling beriringan. Masing-masing ayat ditutup dgn dua nama dari nama-nama Allah sedangkan tiap nama mengandung satu atau dua sifat bahkan bisa pula lebih.
Mengenai peniadaan yg disebutkan secara global di antara sebagaimana dlm firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tak ada sesuatupun yg serupa dengan-Nya.”

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Apakah kamu mengetahui ada seorang yg sama dgn Dia ?”

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tdk ada seorangpun yg setara dgn Dia.”
Di sini kita ingin kembali menegaskan bahwa kesamaan dlm perkara nama dan sifat tidaklah menunjukkan kesamaan antara dzat-dzat yg diberi nama dan disifati. Hal ini bisa dibuktikan melalui dalil-dalil syariat logika dan panca indera.
1. Bukti dari dalil yg syar’i di antara bahwasa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang Dzat-Nya:

إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا

“Sesungguh Allah memberi pengajaran yg sebaik-baik kepadamu. Sesungguh Allah adl Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Di dlm ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Demikian pula di dlm ayat yg lain Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa manusia mendengar dan melihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيْعًا بَصِيْرًا

“Sesungguh Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yg bercampur yg Kami hendak menguji . Karena itu Kami jadikan dia seorang yg mendengar dan melihat.”
Namun tentu pendengaran Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk sama dgn pendengaran manusia walaupun sama-sama diberi nama dan disifati dgn mendengar. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita akan hal ini dgn firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tak ada sesuatu pun yg serupa dengan-Nya dan Dia-lah yg Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
2. Bukti dari dalil yg logis yaitu bahwa perkara yg maknawi dan sebuah sifat akan terkait dan terbedakan dari yg lain sesuai dgn apa yg dinisbatkan kepadanya. Bila segala sesuatu berbeda-beda dari sisi hakikat dzat mk pastilah segala sesuatu berbeda-beda pula dari sisi sifat dan perkara maknawi yg dinisbatkan kepadanya. Oleh krn itu sifat tiap dzat yg diberikan pada sesuai dgn yg dinisbatkan kepada dan tdk mungkin kurang atau melebihi dzat yg disifatkan. Sebagai contoh kita mensifatkan manusia dgn kelembutan dan juga mensifatkan besi yg meleleh dgn kelembutan. Padahal kita mengetahui bahwa jenis kelembutan itu berbeda-beda makna sesuai dgn apa yg dinisbatkan kepadanya.
3. Adapun bukti dari dalil secara panca indera yaitu bahwasa kita menyaksikan gajah memiliki fisik kaki serta kekuatan dan nyamuk juga memiliki fisik kaki serta kekuatan. Di sini tentu kita mengetahui perbedaan antara fisik kaki serta kekuatan keduanya.
Jika kita sudah mengetahui bahwa kesamaan dlm perkara nama dan sifat di antara para makhluk tidaklah berkonsekuensi keserupaan dlm bentuk hakikat padahal mereka adl makhluk yg diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. mk tdk ada keserupaan antara Dzat yg Maha pencipta dgn makhluk ciptaan-Nya dlm hakikat nama dan sifat tentu lbh utama dan jelas. Bahkan kesamaan antara Dzat Yang Maha Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya dlm perkara nama dan sifat adl sesuatu yg amat sangat tdk mungkin terjadi. Wallahu a’lam bish-shawab.

Prinsip dlm Menetapkan Nama dan Sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala
Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah Ahlus Sunnah menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak diragukan lagi bahwa menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala haruslah dgn prinsip-prinsip yg benar. Ahlus Sunnah menyucikan nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menolak dan menetapkan tanpa menyerupakan . Ada empat perkara yg diingkari oleh Ahlus Sunnah dlm menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai berikut:

1. At-Tahrif
At-Tahrif secara bahasa bermakna menyimpangkan sesuatu dari hakikat bentuk dan kebenarannya. Adapun menurut istilah syariat makna adl memalingkan sebuah ucapan dari makna zhahir yg semula dipahami kepada makna lain yg tdk ditunjukkan oleh rangkaian kalimatnya. Perbuatan At-Tahrif terbagi kepada dua jenis:
a. At-Tahrif yg dilakukan pada teks lafadz. Jenis yg ini terbagi kepada tiga bentuk:
1. Mengubah harakatnya. Di antara seperti bacaan dari sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.”
Mereka membaca dgn memberi harakat fathah pada kata dgn tujuan utk mengubah makna yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam yg mengajak Allah Subhanahu wa Ta’ala utk berbicara bukan sebaliknya.
2. Menambahkan huruf yg demikian itu seperti men-tahrif bacaan اسْتَوَى yg arti tinggi menjadi اسْتَوْلَى yg arti berkuasa.
3. Menambahkan kalimat yg demikian itu seperti menambahkan kata yg arti rahmat pada firman Allah وَجَاءَ رَبُّكَ yg arti “telah datang Rabbmu” sehingga menjadi وَجَاءَ رَحْمَةُ رَبِّكَ yg arti “telah datang rahmat Rabbmu.”
b. At-Tahrif yg dilakukan pada makna kata tanpa mengubah harakat dan lafadznya. Contoh seperti ucapan sebagian ahli bid’ah terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ

“Bahkan kedua tangan-Nya terbentang.”
Mereka mengatakan bahwa yg dimaksud dgn tangan-Nya adl kekuasaan atau ni’mat-Nya atau yg selain itu.
Di sini perlu ditegaskan bahwa ahli bid’ah yg suka melakukan At-Tahrif tdk menamakan dgn At-Tahrif tetapi menyebut sebagai At-Ta`wil yg arti menafsirkan. Hal ini krn mereka tahu bahwa kata At-Tahrif berkonotasi jelek dan tercela di dlm Al-Qur`an. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوا يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

“Yaitu orang2 Yahudi mereka mentahrif perkataan dari tempat-tempatnya.”
Pada ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menisbatkan perbuatan At-Tahrif kepada kaum Yahudi. Ini menunjukkan bahwa konotasi makna adl jelek. Mereka mengganti istilah At-Tahrif dgn istilah At-Ta`wil agar lbh diterima oleh banyak kalangan dan dlm rangka melariskan dagangan kebid’ahan mereka di antara orang2 yg tdk bisa membedakan antara keduanya.

2. At-Ta’thil
At-Ta’thil secara bahasa makna meninggalkan dan mengosongkan. Adapun menurut istilah syariat makna adl menolak makna yg benar di dlm Al-Qur`an dan As-Sunnah. At-Ta’thil terbagi kepada dua jenis:
1. At-Ta’thil yg bersifat global yaitu menolak nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara menyeluruh sebagaimana yg dilakukan oleh kelompok Al-Jahmiyyah Al-Qaramithah para ahli filsafat dan yg selain mereka.
2. At-Ta’thil yg bersifat parsial yaitu menolak sebagian dan menetapkan sebagian yg lain sebagaimana yg dilakukan oleh kelompok Al-Mu’tazilah yg menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan nama-nama-Nya. Demikian pula kelompok Al-Asya’irah Al-Kullabiyyah dan Al-Maturidiyyah yg menolak sebagian sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan sebagian yg lainnya.

3. At-Tamtsil
At-Tamtsil secara bahasa makna menyerupakan sesuatu dgn sesuatu yg lain. Adapun menurut istilah syariat makna adl meyakini bahwa sifat-sifat Allah yg Maha Pencipta serupa dgn sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. At-Tamtsil terbagi dua jenis:
1. Menyerupakan makhluk dgn Dzat Yang Maha Pencipta yaitu menetapkan utk makhluk sesuatu yg telah menjadi kekhususan Dzat yg Maha Pencipta. Hal ini sebagaimana yg dilakukan oleh kaum Nasrani ketika mereka mengatakan bahwa Nabi ‘Isa adl Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Menyerupakan Dzat yg Maha Pencipta dgn makhluk ciptaan-Nya yaitu menetapkan utk Dzat yg Maha Pencipta sesuatu yg telah menjadi kekhususan makhluk-Nya. Hal ini sebagaimana yg dilakukan oleh kaum Yahudi ketika mereka mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adl Dzat yg faqir pelit dan lemah.

4. At-Takyif
At-Takyif makna meyakini sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm bentuk tertentu yg dibayangkan di alam pikiran atau menanyakan bagaimana bentuk walaupun tanpa menyerupakan dgn sesuatu yg wujud. Berarti At-Takyif berbeda dari At-Tamtsil dari satu sisi dan sama dari sisi yg lainnya. Perbedaan kedua At-Takyif menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sesuatu yg tdk ada wujud di luar alam pikiran sedangkan At-Tamtsil menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sesuatu yg ada wujud di luar alam pikiran. Adapun kesamaan kedua sama-sama perbuatan menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn yg selainnya. Sehingga tiap orang yg melakukan At-Tamtsil pasti melakukan pula At-Takyif tetapi tdk sebaliknya.

Kelompok-kelompok yg Sesat
Secara garis besar kelompok-kelompok yg sesat dlm perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi menjadi dua golongan:
1. Al-Mu’aththilah yaitu orang2 yg mengingkari nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala baik secara keseluruhan atau sebagiannya. Mereka mengingkari krn keyakinan bahwa menetapkan berarti menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn makhluk-Nya. Keyakinan mereka ini adl batil dan bertentangan dgn dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah. Untuk membuktikan kebatilan keyakinan mereka bisa dilihat dari beberapa sisi di antaranya:
a. Keyakinan mereka ini mengandung beberapa konsekuensi yg batil di antara berkonsekuensi terjadi kontradiksi di antara firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada sebagian ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Dzat-Nya. Pada ayat yg lain Allah Subhanahu wa Ta’ala meniadakan penyerupaan-Nya dgn yg selain-Nya. Jika menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn makhluk-Nya mk telah terjadi kontradiksi di antara firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebagian telah mendustakan sebagian yg lain.
b. Kesamaan antara dua hal dlm perkara nama atau sifat tidaklah menuntut keserupaan antara hakikat kedua dari segala sisi. Kita bisa melihat dua orang yg sama-sama disebut dgn manusia mendengar dan melihat. Namun bukan berarti kedua sama dlm sifat kemanusiaan pendengaran dan penglihatan dari segala sisi. Pasti sifat-sifat yg dimiliki oleh kedua sangat berbeda hakikatnya. Bila perbedaan hakikat nama dan sifat terjadi di kalangan makhluk walaupun ada kesamaan pada sebagian sisi mk perbedaan hakikat nama dan sifat antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan makhluk-Nya tentu lbh nyata dan lbh besar.
2. Al-Musyabbihah yaitu orang2 yg menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi menyerupakan dgn nama dan sifat-sifat para makhluk. Mereka menyerupakan krn berkeyakinan bahwa hal itu merupakan kandungan makna yg terdapat di dlm nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. Tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak manusia berbicara dgn sesuatu yg mereka pahami. Kita meyakini bahwa keyakinan mereka ini adl batil. Bisa dibuktikan kebatilan keyakinan mereka dari beberapa sisi di antaranya:
a. Menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn makhluk-Nya adl kebatilan yg ditolak oleh naluri logika dan syariat. Sebab kandungan-kandungan makna yg terdapat di dlm nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah tdk mungkin merupakan perkara yg batil.
b. Bahwasa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak manusia berbicara dgn sesuatu yg mereka pahami dari sisi asal makna kata atau kalimat. Adapun bentuk dan hakikat yg berkaitan dgn nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mereka ketahui dan ilmu hanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai contoh ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sifat ‘mendengar’ dan ‘melihat’ bagi Dzat-Nya niscaya kita bisa memahami maksud kata ‘mendengar’ dan ‘melihat’ dari sisi asal makna kata. ‘Mendengar’ arti mampu menangkap segala suara dan ‘melihat’ arti mampu menangkap apa saja yg bisa dilihat. Namun tdk seorang pun di antara manusia yg dapat mengetahui hakikat pendengaran dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh krn itu hakikat sifat mendengar dan melihat yg ada di kalangan manusia berbeda dgn hakikat sifat mendengar dan melihat yg dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.

Al-Ilhad dlm Masalah Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Al-Ilhad secara bahasa makna miring atau menyimpang dari sesuatu. Disebut liang lahad dlm kuburan dgn nama itu krn lubang berada di bagian samping dari kuburan dan bukan di tengahnya. Adapun menurut istilah syariat makna adl menyimpang dari syariat yg lurus kepada salah satu bentuk kekafiran.
Al-Ilhad dlm perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala arti menyimpang dari kebenaran yg wajib utk ditetapkan pada nama dan sifat-sifat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِلّّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

“Ha milik Allah nama-nama yg baik mk berdoalah kepada-Nya dgn menyebut nama-nama yg baik itu dan tinggalkanlah orang2 yg menyimpang dari kebenaran dlm perkara nama-nama-Nya. Niscaya mereka akan mendapat balasan terhadap apa yg telah mereka kerjakan.”
Al-Ilhad dlm perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi kepada lima jenis sebagai berikut:
1. Menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebuah nama atau lebih yg tdk ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi Dzat-Nya. Hal ini sebagaimana yg dilakukan oleh para ahli filsafat ketika mereka menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sebutan yg arti unsur pembuat. Demikian pula yg dilakukan oleh kaum Nasrani ketika mereka menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sebutan tuhan bapak dan menamakan Nabi ‘Isa dgn sebutan tuhan anak. Semua ini adl penyimpangan dlm perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sepantas juga kaum muslimin menghindari memanggil nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sebutan ‘Gusti’ atau ‘Pangeran’ seperti ucapan: “Wahai Gusti ampunilah aku” atau “Wahai Pangeran tolonglah aku.” Hal ini sebaik dihindari krn dikhawatirkan termasuk dlm bentuk penamaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sesuatu yg Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk menamai diri-Nya dengan dan tdk pula dinamai oleh Rasul-Nya. Karena nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adl perkara tauqifiyyah yakni tdk bisa ditetapkan kecuali dgn pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Bila kita menamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sesuatu yg tdk Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi Dzat-Nya berarti kita telah menyimpang dlm perkara nama-Nya. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.
2. Mengingkari satu nama atau lebih yg telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi Dzat-Nya. Perbuatan ini adl kebalikan dari yg pertama. mk pengingkaran terhadap nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala baik secara keseluruhan atau sebagian merupakan perbuatan Al-Ilhad. Hal ini sebagaimana yg dilakukan oleh sebagian manusia yg menolak nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti kelompok Al-Jahmiyyah. Mereka mengingkari dan menolak nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn alasan agar tdk menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn benda-benda yg ada di alam ini. Pendapat mereka ini jelas merupakan kebatilan murni dan tdk bisa diterima. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan sebuah nama bagi Dzat-Nya mk kita harus menetapkan pula dan tdk ada alasan utk menolaknya. Jika kita mengingkari atau menolak berarti kita telah menyimpang dlm perkara nama-Nya. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.
3. Menetapkan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi mengingkari sifat-sifat-Nya. Hal ini sebagaimana yg dilakukan oleh kaum Al-Mu’tazilah. Sebagai contoh mereka menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adl Dzat Yang Maha Mendengar namun tanpa pendengaran Maha Melihat namun tanpa penglihatan Maha Mengetahui namun tanpa ilmu Maha Kuasa namun tanpa kekuasaan dan seterusnya. Sebagian mereka mengatakan bahwa nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yg banyak itu pada hakikat hanyalah satu nama saja tdk lebih. Pendapat-pendapat mereka ini sangat tdk logis bagi siapa saja yg memiliki akal pikiran. Terlebih lagi jika diukur dgn penilaian Al-Qur`an dan As-Sunnah. Tidaklah ditetapkan sebuah nama pada sesuatu melainkan krn dia memiliki sifat yg sesuai dgn namanya. Dan tiap nama pasti menunjukkan kepada suatu sifat yg sesuai dengannya. mk bagaimana mungkin dinyatakan bahwa nama-nama yg banyak pada hakikat hanya menunjukkan pada satu nama? Ini jelas penyimpangan dlm perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi juga menyerupakan dgn nama dan sifat-sifat para makhluk. Hal ini sebagaimana dilakukan kelompok Al-Musyabbihah. Seharus kita menetapkan nama dan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menyerupakan dgn nama dan sifat-sifat para makhluk. Jika tdk berarti kita telah melakukan penyimpangan dlm perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.
5. Mengambil pecahan kata dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu menjadikan sebagai nama utk sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yg dilakukan oleh kaum musyrikin di masa jahiliah. Mereka menamakan sebagian berhala mereka dgn pecahan kata yg diambil dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti Al-Laatta yg diambil dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala Al-Ilah Al-‘Uzza yg diambil dari nama Allah Al-‘Aziz Al-Manaat yg diambil dari nama Allah Al-Mannan. Ini adl penyimpangan dlm menggunakan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seharus nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi perkara yg khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tdk mengambil pecahan-pecahan kata sebagai nama utk sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan perbuatan Al-Ilhad.
Demikianlah jenis-jenis penyimpangan dlm perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ahlus Sunnah tdk berbuat Al-Ilhad bahkan mereka menyikapi nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dgn yg diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri. Mereka menetapkan pula seluruh makna yg telah ditunjukkan oleh nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu krn mereka meyakini bahwa menyelisihi prinsip ini merupakan perbuatan Al-Ilhad dlm perkara nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.

Buah Keimanan kepada Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
Beriman kepada nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan suatu perkara yg sia-sia tanpa manfaat. Bahkan hal itu mengandung berbagai manfaat yg sangat positif terhadap tauhid dan ibadah seorang hamba. Lebih dari itu beriman kepada nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adl wujud dari tauhid dan ibadah hamba itu sendiri. dlm tulisan ini kita akan menyebutkan sebagian manfaat tersebut antara lain:
1. Merealisasikan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga seorang hamba tdk menggantungkan harapan rasa takut dan ibadah kepada yg selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Menyempurnakan rasa cinta dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dgn kandungan nama-nama-Nya yg baik dan sifat-sifat Nya yg tinggi.
3. Merealisasikan peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Demikianlah yg bisa kita tuliskan di sini semoga bermanfaat bagi segenap kaum muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

1 Walaupun ada yg mengatakan bahwa hal ini dibolehkan bila ditinjau dari sisi penerjemahan namun dlm praktik lbh mengarah kepada penamaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sesuatu yg Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk menamakan diri-Nya dengan tdk pula oleh Rasul-Nya. Sehingga sebaik memanggil nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn nama-nama-Nya seperti; “Ya Rabbi” atau “Ya Allah.”

Sumber: http://www.asysyariah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s