Seputar kuburan


Dari Jabir r.a. berkata, Rasulullah SAW telah melarang mengapur kuburan, duduk-duduk diatasnya, mendirikan bangunan diatasnya, meninggikan makam melebihi tanah galiaan, dan menulis diatasnya.” (HR. Abu Daud, Sanadnya shahih)
Hadits Rasulullah SAW “Janganlah kamu sholat menghadap kuburan….” (HR.Muslim II:668 No. 972, ‘Aunul Ma’bud IX/49 no.3213, Tirmidzi II/257 no.1055, An Nasaa’i II/67)
dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Seluruh bumi adalah tempat sujud (kpd Allah), kecuali kuburan dan kamar mandi” (HR. Shahihul Jami’us Shagir no.2767, ‘Aunul Ma’bud II/58 no.488, Tirmidzi I/199 no.316.
Dari Aisyah dan Abdullah bi Abbas ra. berkata : tatkala Rasulullah didatangi (malaikat maut), beliau menutupkan kain bergaris ke wajahnya. Bila beliau merasakan sesak maka dibuka penutup wajahnya. Dan Rasulullah saw. bersabda, “Allah Ta’ala melAKnat kaum yahudi dan nasrani yang telah menjadikan kuburan para nabinya sebagai masjid.” zBeliau mewanti-wanti (mengingatkan agar kita tidak melakukan seperti apa yg mereka lakukan itu. (Muttafaqun ‘Alaih, Fathul Bari VIII/140 no. 4444, Muslim I/377 no. 531, An Nasaa’i/II:40).
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah bersabda : “Janganlah kamu menjadikan kuburan sebagai arena perayaan dan jangan (pula) kamu menjadikan rumah2 kamu sbg kuburan (yg tiada kegiatan ibadah), dimana saja kamu berada, maka bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya sholawatmu pasti sampai kepadaku (HR. Shahihul Jami’us Shaghir no.7226 dan ‘Aunul Ma’bud VI/31 no.2026)

… Ringkasan Buku …
http://buku-islam.blogspot.com

Judul : Larangan Shalat di Masjid yang dibangun di Atas Kubur
Penulis : Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani
Penerbit : Pustaka Imam Asy Syafi’i
Cetakan : I – April 2004 M
Halaman : xviii + 275

Ini adalah satu buku ilmiyah yang perlu dan penting untuk dipelajari oleh
kaum muslimin. Karena memuat pokok permasalahan yang mendasar dalam
kaitannya dengan penegakan tauhid dan menutup jalan menuju kemusyrikan.
secara garis besar buku ini berfokus pada dua hal:
1. Hukum pendirian masjid di atas kuburan.
2. Hukum shalat di masjid masjid yang didirikan di atas kuburan.

Lebih detailnya pembahasan pada masing masing bab adalah:

BAB SATU
Hadits-hadits tentang larangan menjadikan kuburan sebagai masjid

BAB DUA
Arti menjadikan makam sebagai masjid

BAB TIGA
Membangun masjid di atas kuburan termasuk dosa besar

BAB EMPAT
Beberapa syubhat dan jawabannya

BAB LIMA
Hikmah diharamkannya membangun masjid di atas kuburan

BAB ENAM
Dimakruhkan shalat di masjid yang dibangun di atas kubur

BAB TUJUH
Semua ketentuan hukum ini mencakup seluruh masjid kecuali masjid Nabawi

Berikut akan saya kutipkan sebagian dari isi buku tersebut yang semoga
bermanfaat buat pembaca. Dengan meringkasnya dan tidak menyertakan takhrij
lengkap dari hadits yang saya kutip, semata mata demi ringkasnya tulisan
ini.

[HADITS HADITS TENTANG LARANGAN MENJADIKAN KUBURAN SEBAGAI MASJID]
—————————————————————–
[] Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha dia bercerita, Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda ketika beliau sakit dan dalam
keadaan berbaring:

“Allah melaknat orang orang Yahudi dan orang orang Nasrani. Mereka telah
menjadikan kuburan Nabi Nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

‘Aisyah berkata: “Kalau bukan karena takut (laknat) itu, niscaya kuburan
beliau akan ditempatkan di tempat terbuka, hanya saja beliau takut
kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid.” (HR. Bukhari (III/156, 198
dan VIII/114).

[] Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia bercerita, Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Allah memerangi orang orang Yahudi, karena mereka telah menjadikan makam
Nabi Nabi mereka sebagai tempat bersujud.” (HR. Al Bukhari II/422).

[] Dari al Harits an Najrani, dia bercerita, aku pernah mendengar Nabi
shallallahu’alaihi wa sallam menyampaikan lima hal sebelum wafat. Beliau
bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya orang orang sebelum kalian telah menjadikan makam
Nabi Nabi mereka dan orang orang shalih di antara mereka sebagai masjid.
Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesungguhnya aku
melarang kalian melakukan hal tersebut.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah
(II/83/2 dan II 376), dan sanadnya shahih menurut syarat Muslim).

[ARTI MENJADIKAN MAKAM SEBAGAI MASJID]
————————————–
Yang mungkin dipahami dari kalimat ‘menjadikan kuburan sebagai masjid’
adalah tiga pengertian:

PERTAMA: Shalat di atas makam, dengan pengertian sujud di atasnya.
KEDUA: Sujud dengan menghadap ke arahnya dan menjadikannya kiblat shalat dan
do’a.
KETIGA: Mendirikan masjid di atas makam dan tujuan mengerjakan shalat di
dalamnya.

[] Mengenai pengertian yang pertama, Ibnu Hajar al Haitami mengatakan di
dalam kitab, az Zawaajir (I/121): “Menjadikan makam sebagai masjid berarti
shalat di atasnya atau dengan menghadap ke arahnya.”
Pengertian pertama ini didukung oleh beberapa hadist berikut ini:

“Janganlah kalian shalat menghadap ke arah makam dan jangan pula shalat di
atasnya.” (Diriwayatkan oleh ath Thabrani dalam al Mu’jamul Kabiir
(III/145/2)).

[] (Untuk pengertian yang kedua).
Dapat saya (syaikh Albani) katakan, pengertian itulah yang secara jelas
dilarang, di mana Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadap ke
arahnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim (III/62)).

[] Sedangkan makna ketiga, Imam al Bukhari telah menyampaikannya, di mana
dia telah menerjemahkan hadits pertama dengan mengatakan, “BAB MAA YUKRAHU
MIN ITTIKHAADZIL MASAAJID ‘ALAL QUBUUR (BAB DIMAKRUHKAN MEMBANGUN MASJID DI
ATAS KUBURAN).”
Dengan demikian, dia telah mengisyaratkan bahwa larangan menjadikan kuburan
sebagai masjid berkonsekuensi pada larangan membangun masjid. Dan ini sudah
sangat jelas.

[MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN TERMASUK DOSA BESAR]
——————————————————
Setiap orang yang memperhatikan secara seksama hadits hadits mulia tersebut,
maka akan tampak jelas olehnya dan tanpa ada keraguan sama sekali bahwa
membangun masjid di atas kuburan itu adalah haram, bahkan merupakan salah
satu perbuatan dosa besar, karena adanya laknat Allah dan penyifatan para
pelakunya sebagai makhluk paling jahat (buruk) di sisi Allah Tabaaraka wa
Ta’ala. Dan hal itu tidak akan di dapat oleh orang yang tidak melakukan
perbuatan dosa besar.

1. MADZHAB SYAFI’I MENYATAKAN BAHWA PERBUATAN TERSEBUT TERMASUK DOSA BESAR
Di dalam kitab az Zawaajir ‘an Iqtiraafil Kabaa ir (I/20), ahli fiqih, Ibnu
Hajar al Haitami mengatakan: “Dosa besar ketiga, keempat, kelima, keenam,
ketujuh, kedelapan, dan yang kesembilan puluh adalah menjadikan kuburan
sebagai masjid, menyalakan obor di atasnya, menjadikannya sebagai berhala,
berjalan berputar putar mengelilinginya, dan shalat menghadapnya.”

2. MENURUT MADZHAB HANAFI, PEMBANGUNAN MASJID DI ATAS MAKAM ITU MAKRUH
DENGAN PENGERTIAN HARAM
Makruh dengan pengertian syari’at ini telah dikemukakan oleh madzhab Hanafi,
di mana Imam Muhammad, murid Abu Hanifah, di dalam bukunya al Aatsaar (hal.
45) mengatakan: “Kami tidak memandang perlu adanya penambahan dari apa yang
ada pada kuburan. Dan kami memakruhkan mengecat, menyemen kuburan dan
membangun masjid di sekitarnya.”

Makruh menurut pandangan penganut madzhab Hanafi ini adalah dengan
pengertian haram, sebagaimana yang sudah sangat populer di kalangan mereka.

3. MADZHAB MALIKI MENGHARAMKAN
Di dalam Tafsirnya (X/38), setelah menyebutkan hadits kelima, al Qurthubi
mengemukakan : “Ulama ulama kami mengatakan, ‘Diharamkan bagi kaum muslimin
untuk menjadikan makam para Nabi dan ulama sebagai masjid.’ ”

4. MADZHAB HAMBALI JUGA MENGHARAMKAN

Madzhab Hambali juga mengharamkan pembangunan masjid di atas makam,
sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Syarhul Muntahaa, I/353, dan juga
kitab lainnya. Bahkan sebagian mereka menetapkan tidak sahnya shalat di
masjid yang di bangun di atas makam.

[PERSONAL VIEW]
—————
Dari ringkasan ini dan dari membaca buku karya Syaikh Albani tersebut, insya
Allah kita bisa mengetahui bahwa dalam Islam itu dilarang menjadikan kuburan
sebagai masjid atau tempat sujud atau tempat ibadah. Dengan demikian tidak
boleh mendirikan masjid di kuburan. Dengan demikian pula, masjid dan kuburan
tidak boleh dihimpunkan. Ini merupakan suatu konsekuensi yang jelas dalam
hal ini.

Kesimpulan ini tentu saja akan berseberangan dengan kenyataan yang ada pada
sebagian masyarakat. Tetapi perlu kita ingat,

“Hai orang orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan
ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu BERLAINAN PENDAPAT TENTANG
SESUATU, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul
(Sunnahnya), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An
Nisaa’: 59).

Maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul Nya. Sedangkan Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits haditsnya
diantaranya,

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha dia bercerita, Rasulullah shallallahu’alaihi
wa sallam pernah bersabda ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring:

“Allah melaknat orang orang Yahudi dan orang orang Nasrani. Mereka telah
menjadikan kuburan Nabi Nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

‘Aisyah berkata: “Kalau bukan karena takut (laknat) itu, niscaya kuburan
beliau akan ditempatkan di tempat terbuka, hanya saja beliau takut
kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid.” (HR. Bukhari (III/156, 198
dan VIII/114).

Maka ta’atilah Rasul Nya, karena dengan begitu kita telah menta’ati Allah.

“Barang siapa yang mentaati Rasul, maka sesungguhnya ia telah mentaati
Allah.” (An Nisaa’: 80).

Demikian semoga bermanfaat.

Ringkasan buku ini dibuat oleh Chandraleka
di Depok, 18 September 2007

Shalat di Masjid Yang Ada Kuburannya
Selasa, 02 Mei 06

Sudah menjadi kesepakatan para ulama, termasuk tokoh ulama dari kalangan empat mazhab, bahwa membangun masjid di atas kuburan adalah terlarang (diharamkan), ber-dasarkan beberapa hadits berikut ini:

1. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika sedang terbaring sakit beliau bersabda, “Allah telah melaknat orang-orang yahudi dan nashrani yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat peribadatan).” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaberkata, “Kalau bukan karena alasan itu niscaya kuburan beliau ditampakkan (di kubur di tempat terbuka di luar rumahnya), sebab dikhawatirkan kuburan beliau dijadikan masjid.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

2. Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Semoga Allah memerangi orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat peribadatan).” (HR. al-Bukhari)

3. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam hadits yang lain, “Mereka adalah kaum yang apabila ada seorang hamba yang shalih atau seorang laki-laki yang shalih meninggal dunia, mereka bangun masjid di atas kuburannya, dan mereka juga melukis lukisan (mereka) itu di dalamnya, mereka tersebut adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

4. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ingatlah bahwa sesungguhnya umat sebelum kalian, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid, karena itu ingatlah (dan) janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, karena sesunguhnya aku melarang yang demikian itu.” (HR. Imam Muslim)

Dan masih banyak hadits lain yang semakna dengan hadits-hadits di atas. Demikian juga halnya para ulama telah bersepakat bahwa shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan juga terlarang, baik kuburan tersebut di arah kiblat, atau di bagian belakang, di samping kanan atau sebelah kiri.

Jika kuburan yang ada di dalam masjid tersebut ada di bagian arah kiblat, maka larangan shalat di masjid tersebut adalah lebih tegas lagi, sebagaimana Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian shalat menghadap ke kuburan.” (HR. Muslim, Abu Dawud dll)

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya yang lain, “Janganlah kalian shalat menghadap ke arah kuburan dan jangan pula kalian shalat di atas kuburan.” (HR. At-Tibrani)

Bahkan menurut mazhab Hambali melakukan shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan adalah batal atau tidak sah. (Tahziir As-Saajid hal.41, 126)

Syeikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz rahimahullah ditanya, “Apa hukum shalat di masjid yang terdapat di dalamnya kuburan?”

Dijawab oleh beliau, “Tidak diperbolehkan melaksanakan shalat di masjid yang terdapat kuburan di dalamnya. Kuburan tersebut wajib dibongkar dan dipindahkan ke pemakaman umum, sebab apabila ada satu kubur terdapat di suatu tempat khusus, maka tempat itu disebut kuburan. Oleh karena itu tidak boleh dibiarkan kuburan berada di dalam masjid baik itu kuburan (yang diklaim) sebagai kuburan wali ataupun selainnya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, telah melarang dan memperingatkan dengan tegas tentang hal itu, dan beliau telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena melakukan hal serupa, sebagaimana sabdanya,
“Allah telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat peribadatan).” (HR. Al-Bukhari & Muslim).

Dan juga ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Beliau telah memperingatkan (kalian) tentang apa yang mereka lakukan”. (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Umu Salamah dan Umu Habibah radhiyallahu ‘anhuma, menceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang gereja yang pernah mereka lihat di daerah Habsyah, yang di dalamnya terdapat gambar-gambar, (mendengar hal itu) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
“Mereka adalah kaum yang apabila ada seorang hamba yang shalih atau seorang laki-laki yang shalih meninggal dunia, mereka bangun masjid di atas kuburan-nya, dan mereka juga melukis lukisan (mereka) itu di dalamnya, mereka tersebut adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Juga sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Ingatlah bahwa sesungguhnya umat sebelum kalian, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid, karena itu ingatlah (dan) janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, karena sesunguhnya aku melarang yang demikian itu.” (HR. Imam Muslim)

Beliau telah melarang menjadikan kuburan sebagai masjid, beliau melaknat orang-orang yang melakukannya dan juga mengkhabar-kan bahwa mereka adalah sejelek-jelek makhluk, maka wajib atas kita untuk hati-hati terhadap peringatan itu.

Orang yang shalat di sisi kuburan, juga orang yang membangun masjid di atas kuburan adalah termasuk mereka yang menjadikan kuburan sebagai masjid. Maka wajib menjauhkan kuburan dari masjid serta jangan menjadikan kuburan berada di dalam masjid, sebagai realisasi keta’atan kita terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Shalat di masjid yang ada kuburannya selain beresiko mendatangkan bisikan syaithan agar berdo’a kepada si mayit, memohon pertolongan (istighotsah) kepadanya, shalat, atau sujud kepadanya, sehingga pelakunya terjerumus kepada syirik besar, juga merupakan perbuatan orang yahudi dan nashrani yang wajib untuk kita selisihi.

Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah, menjelaskan hukum shalat di masjid yang terdapat di dalamnya kuburan, beliau berkata, “Kandungan isi dari hadits-hadits di atas (tentang larangan membangun masjid di atas kuburan/menjadikan kuburan sebagai masjid) adalah larangan mengerjakan shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan. Apabila dilarang membangun masjid di atas kuburan, maka larangan yang lebih utama adalah mengerjakan shalat di dalam masjid tersebut, sebagaimana halnya seseorang dilarang menjual khamr, maka lebih keras lagi adalah larangan meminumnya.”

Ketika Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kaum muslimin untuk membangun masjid, maka kandungan perintah-Nya adalah agar masjid tersebut diperguna-kan untuk melaksanakan shalat, karena itulah tujuan utama pembangunan masjid. Demikian juga halnya tatkala Dia melarang membangun masjid di atas kuburan, maka kandungan larangan-Nya adalah terlarang menger-jakan shalat di dalam masjid tersebut. Hal ini sangatlah jelas bagi orang yang berakal. (Tahziir As-Saajid hal.30-31)

Beliau juga memberikan perincian: Apabila tujuan seseorang melaksanakan shalat di masjid tersebut adalah untuk mencari dan mengharapkan keberkahan dari penghuni kuburan tersebut, maka sholatnya tidak sah (shalatnya batal). Namun apabila tujuan melaksanakan shalat di masjid tersebut adalah bukan untuk mencari keberkahan dari penghuni kuburan, maka shalatnya tidak batal, namun tetap dimakruhkan. (Tahziir As-Saajid hal.122-123)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, pernah ditanya, “Apakah sah melaksanakan shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan? Sedangkan di masjid itu orang-orang melaksanakan shalat Jama’ah & Jum’at.”

Beliau menjawab, “Alhamdulillah, telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa tidak diperbolehkan membangun masjid di atas kuburan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya orang- orang sebelum kalian biasa menjadikan kuburan sebagai masjid, karena itu janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal itu.”

Karena itu tidak diperbolehkan mengubur jenazah di dalam masjid. Jika masjidnya yang ada terlebih dahulu, maka kuburannya harus dihilangkan atau dibongkar jika kuburannya masih baru, dan jika kuburannya yang ada terlebih dahulu, maka masjidnya harus dibongkar atau bentuk kuburannya dihilangkan, karena masjid yang berada di atas kuburan tidak boleh dipergunakan untuk melaksanakan shalat fardhu maupun shalat sunnah, hal itu terlarang. (Majmu’ Fatawa 1/107, 2/192)

Hukum yang telah dijelaskan di atas dikecualikan bagi masjid Nabawi di Madinah, berdasarkan beberapa dalil berikut ini:

1. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Shalat di masjid ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dibandingkan masjid lainnya kecuali Masjidil Haram (Mekkah)”. (HR. al-Bukhari, Muslim dll)

2. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tempat yang ada antara rumahku dan mimbarku adalah Raudhah (suatu taman) dari taman-taman surga”. (HR. al-Bukhari, Muslim dll)

3. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah menambatkan kendaraan kalian (maksudnya mengadakan perjalanan jauh untuk mencari berkah) kecuali di tiga masjid; Masjidil Haram (Mekkah), Masjidil Aqsho dan Masjid ini (Masjid Nabawi).” ( Muttafaqun ‘Alaihi)

4. Tentang keutamaan Masjid Nabawi dibandingkan masjid yang lain sudah ada sebelum adanya kuburan beliau di dalam masjid, jadi keutamaan Masjid Nabawi bukan karena adanya kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalamnya.

5. Kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelumnya ada di luar masjid, bukan di dalam masjid seperti yang ada sekarang, lebih tepatnya kuburan beliau tersebut ada di dalam kamar istrinya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu ketika Khalifah Al-Walid Ibnu Abdul Malik rahimahullah memerintah pada tahun 88 Hijriyah, beliau memperluas Masjid Nabawi dan memasukkan kamar-kamar istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam masjid, termasuk kamar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, pada saat itu “generasi shahabat” sudah berlalu, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mencegah perbuatannya.

6. Perluasan masjid sudah sering dilakukan oleh generasi sebelumnya, seperti Khalifah Umar Bin Khattab, Khalifah Utsman Bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhuma namun mereka tidak memperluas Masjid Nabawi ke arah rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jadi apa yang lakukan oleh Khalifah Al-Walid Bin Abdul Malik itu adalah kesalahan, semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni kesalahannya dan perbu-atannya itu jelas-jelas bertentangan dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah dijelaskan di atas. (Abu Abdillah Dzahabi)