PERBEDAAN DERAJAT SAHABAT


Aqidah :
PERBEDAAN DERAJAT SAHABAT
oleh : Izzudin Karimi
Para sahabat memiliki derajat dan kedudukan mulia di sisi Allah dan RasulNya, kedudukan mulia ini karena mereka adalah para sahabat Rasulullah saw, namun derajat dan kedudukan mereka di antara mereka tidak sama, artinya sebagian sahabat mempunyai derajat yang lebih tinggi dari sebagian yang lain.

Derajat tertinggi umat ini diraih oleh khulafa’ rasyidin yang empat, yang tertinggi dari mereka adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Usman kemudian Ali, sesuai dengan urutan khilafah mereka.

Setelah mereka adalah para sahabat as-sabiqun al-awwalun, para sahabat yang berinfak dan berjihad sebelum Fathu Hudaibiyah berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hadid: 10).

Ayat di atasa menyatakan bahwa orang-orang yang berinfak dan berperang sebelum perdamaian Hudaibiyah lebih afdhal daripada orang-orang yang berinfak dan berperang setelahnya.

Perdamaian Hudaibiyah sendiri terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun enam hijriyah. Orang-orang yang masuk Islam berinfak dan berperang sebelum itu adalah lebih baik daripada orang-orang yang berinfak dan berperang sesudahnya. Hal ini bisa kita ketahui melalui sejarah keislaman mereka, kita merujuk kepada al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah milik Ibnu Hajar atau al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ashab milik Ibnu Abdul Bar atau buku-buku lainnya tentang sahabat, dari sana diketahui sahabat ini masuk Islam sebelum atau sesudahnya.

Fathu (penaklukan) dalam ayat di atas adalah perdamaian Hudaibiyah. Ini adalah salah satu pendapat dari dua pendapat tentang ayat ini dan inilah yang benar dalilnya adalah kisah antara Abdur Rahman bin Auf dengan Khalid dan ucapan al-Barra bin Azib, “Kamu menganggap Fath adalah Fathu Makkah, memang Fathu Makkah adalah sebuah Fath sementara kami menganggap bahwa Fath adalah Baiat Ridhwan pada hari Hudaibiyah.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Ada yang berkata bahwa yang dimaksud dengan Fath adalah Fathu Makkah dan ini adalah pendapat kebanyakan ahli tafsir.

Antara Muhajirin dan Anshar

Muhajirin adalah orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah pada zaman Nabi sebelum Fathu Makkah. Sedangkan Anshar adalah penduduk Madinah di mana Nabi berhijrah kepada mereka.

Ahlus Sunnah wal Jamaah mendahulukan Muhajirin di atas Anshar karena orang-orang Muhajirin menggabungkan antara hijrah dan nusrah (mendukung) sementara orang-orang Anshar hanya nusrah saja.

Muhajirin meninggalkan keluarga dan harta mereka serta tanah kelahiran mereka, mereka pindah ke bumi yang asing, semua itu adalah hijrah kepada Allah dan RasulNya demi menolong Allah dan RasulNya. Sedangkan Anshar, Nabi saw mendatangi mereka di negeri mereka, mereka menolong Nabi, tanpa ragu mereka melindungi Nabi seperti mereka melindungi istri dan anak-anak mereka sendiri.

Dalil didahulukannya Muhajirin adalah firman Allah, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (At-Taubah: 100). Ayat ini menyebut Muhajirin sebelum Anshar.

Firman Allah, “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar.” (At-Taubah: 117). Ayat ini mendahulukan Muhajirin kemudian Anshar.

Firman Allah tentang harta fai’, “Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka.” (Al-Hasyr: 8). Kemudian, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin).” (Al-Hasyr: 9).

Ahli Badar

Ahli Badar adalah para sahabat yang ikut serta dalam perang Badar, perang besar pertama Rasulullah saw melawan orang-orang Musyrikin Makkah, para sahabat yang ikut di dalamnya memiliki kedudukan khusus di sisi Allah setelah kemenangan tersebut, Allah melongok mereka dan berfirman, “Lakukan apa yang kalian mau lakukan karena Aku telah mengampuni kalian.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Dosa apapun yang terjadi dari mereka diampuni untuk mereka karena kebaikan besar ini yang Allah berikan melalui tangan mereka.

Hadits ini menunjukkan bahwa dosa apapun yang terjadi dari mereka diampuni. Ia mengandung berita gembira bahwa mereka tidak mati di atas kekufuran karena mereka diampuni, ini menuntut satu dari dua perkara:

Bahwa mereka tidak mungkin kafir setelah itu atau kalaupun salah satu dari me ditakdirkan kafir maka dia akan diberi taufik untuk taubat dan kembali kepada Islam. Apapun, ini adalah berita gembira besar bagi mereka dan kita tidak mengetahui seorang pun yang kafir setelah itu.

Ahli Baiat Ridhwan

Baiat Ridhwan adalah baiat yang diambil oleh Rasulullah saw di Hudaibiyah bulan Dzul Qa’dah tahun enam hijriah manakala beliau mendengar bahwa Usman bin Affan yang beliau utus ke Makkah untuk bernegoisasi dengan orang-orang Makkah dibunuh, maka beliau membaiat para sahabat untuk menuntut darah Usman.

Kisahnya, Nabi pergi ke Makkah hendak umrah, beliau membawa hadyu dan diiringi sahabat-sahabatnya yang berjumlah seribu empat ratus orang, mereka hanya ingin umrah. Ketika mereka tiba di Hudaibiyah sebuah tempat dekat Makkah, sekarang ia berada di jalan menuju Jeddah, sebagian daerahnya masuk ke dalam daerah Haram, orang-orang kafir Quraisy menghalang-halangi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya karena mereka merasa sebagai tuan rumah dan pelindung Ka’bah, “Kenapa Allah tidak mengadzab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Anfal: 34).

Di perang ini Allah menunjukkan kepada NabiNya sebagian tanda-tanda kekuasaanNya yang menjadi indikator bahwa akan lebih baik jika Rasulullah dan para sahabat mengalah karena ia mengandung kebaikan dan kemaslahatan, tanda tersebut adalah berhentinya unta Rasulullah ia menolak untuk berjalan sampai mereka berkata, “Qaswa mogok.” Nabi membelanya, “Demi Allah qaswa’ tidak mogok, itu bukan tabiatnya akan tetapi ia dihentikan oleh yang menghentikan gajah.” Kemudian Nabi bersabda, “Demi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, mereka tidak memintaku suatu syarat di mana dengannya mereka mengagungkan batasan-batasan Allah niscaya aku akan berikan kepada mereka.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Terjadilah tawar menawar, Rasulullah mengirim Usman bin Affan karena dia memiliki kerabat di Makkah yang melindunginya. Nabi mengutusnya ke Makkah untuk mengajak mereka masuk Islam dan menyampaikan bahwa Nabi hanya datang untuk umrah dan mengagungkan Ka’bah. Lalu muncul desas-desus bahwa Usman dibunuh. Hal itu membuat kaum muslimin bersedih maka Nabi mengundang para sahabat untuk berbaiat. Nabi membaiat mereka untuk siap berperang melawan penduduk Makkah yang telah membunuh utusan Rasulullah. Karena memang utusan itu tidak boleh dibunuh, maka sahabat membaiat Nabi untuk berperang dan tidak berlari dari kematian.

Allah berfirman tentang para pembaiat itu, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Fath: 18-19).

Allah mensifati mereka dengan iman, ini adalah rekomendasi dari Allah bahwa sahabat yang membaiat di bawah pohon adalah Mukmin yang diridhai Di antara para pembaiat tersebut adalah Abu Bakar,Umar, Usman dan Ali. Nabi sendiri telah bersabda, “Tidak masuk Neraka seseorang yang membaiat di bawah pohon.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Keridhaan ditetapkan oleh al-Qur’an dan keselamatan dari Neraka ditetapkan oleh Sunnah.

Baiat ini terjadi di bawah pohon seperti yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits di atas, maka me terkadang disebut dangan Ashab Syajarah dan pohon ini adalah pohon bidara. Ada yang berkata: pohon sejenis pohon pisang. Ini adalah perbedaan yang tidak bermanfaat. Pohon ini memiliki bayangan. Nabi duduk di bawahnya membaiat sahabat-sahabat. Pohon ini ada pada masa Nabi, Abu Bakar dan permulaan Khilafah Umar, ketika Umar dilapori “Orang-orang mendatanginya untuk shalat di sana” maka Umar menebangnya.

Ibnu Hajar di al-Fath 7/448 berkata, “Aku menemukan riwayat ini di Ibnu Saad dengan sanad yang shahih. Akan tetapi di Shahih al-Bukhari dari Ibnu Umar berkata, ‘Kami kembali tahun depan – yakni setelah perdamaian Hudaibiyah – maka tidak ada dua orang dari kami yang sepakat tentang pohon di mana kami membaiat Rasulullah di bawahnya.”

Ini tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dari Ibnu Saad karena dilupakannya pohon tersebut tidak tidak berarti ia tidak ada atau tidak diingat kembali setelahnya.

Adapun penebangan Umar terhadap pohon ini maka ia adalah langkah penjagaan terhadap tauhid, ini adalah jasa baik Umar karena jika pohon tersebut tumbuh sampai sekarang maka tidak menutup kemungkinan disembah selain Allah.

Dari Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s