<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Waterboyry&#039;s Weblog</title>
	<atom:link href="http://waterboyry.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://waterboyry.wordpress.com</link>
	<description>Hasbunallah Wa ni&#039;mal wakill &#34;Cukuplah Allah sebagai pelindung/tempat bergantung/penolong dan tempatku memohon serta berserah diri&#34;</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Aug 2010 01:58:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='waterboyry.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Waterboyry&#039;s Weblog</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://waterboyry.wordpress.com/osd.xml" title="Waterboyry&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://waterboyry.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jangan Sampai Mencela Waktu</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/07/15/jangan-sampai-mencela-waktu/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/07/15/jangan-sampai-mencela-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 22:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedia]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Jangan Sampai Mencela Waktu Jumat, 02 Juli 2010 00:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam &#8211; Aqidah // &#8220;Sial banget hari ini, kami selalu kalah jika bertanding pas hari Rabu?&#8220;, ujar seseorang ketika kalah bertanding futsal. &#8220;Bulan Suro, bulan penuh petaka!&#8220;, kata seseorang yang sering menaruh sial pada bulan Suro ketika ia dapati berbagai musibah. Bolehkah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=742&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>Jangan Sampai Mencela Waktu</div>
<div>Jumat, 02 Juli 2010 00:00		 		 			 			Muhammad Abduh Tuasikal		 		 					 							<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam.html"> Belajar  Islam </a> &#8211; 					 						 							<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah.html"> Aqidah </a></div>
<p><!-- Start addthis module --></p>
<div><!-- AddThis Button BEGIN --> //  <a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" border="0" alt="AddThis  Social Bookmark Button" /></a>  <!-- AddThis Button END --></div>
<p><!-- End addthis module --></p>
<div><a title="E-mail" href="http://rumaysho.com/component/mailto/?tmpl=component&amp;link=aHR0cDovL3J1bWF5c2hvLmNvbS9iZWxhamFyLWlzbGFtL2FxaWRhaC8zMTA2LWphbmdhbi1zYW1wYWktbWVuY2VsYS13YWt0dS5odG1s"><img src="http://rumaysho.com/images/M_images/emailButton.png" alt="E-mail" /></a> <a title="Cetak" rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3106-jangan-sampai-mencela-waktu.html?tmpl=component&amp;print=1&amp;layout=default&amp;page="><img src="http://rumaysho.com/images/M_images/printButton.png" alt="Cetak" /></a> <a title="PDF" rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3106-jangan-sampai-mencela-waktu.pdf"><img src="http://rumaysho.com/templates/ja_nickel/images/pdf_button.png" alt="PDF" /></a></div>
</div>
</div>
<p><!-- JoomlaWorks "Disqus Comment System for Joomla!" Plugin (v2.1) starts here --><img src="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_clock_1.jpg" alt="rsz_clock_1" width="200" height="150" />&#8220;<em>Sial banget hari ini, kami selalu kalah jika  bertanding pas hari Rabu?</em>&#8220;, ujar seseorang ketika kalah bertanding  futsal.</p>
<p>&#8220;<em>Bulan Suro, bulan penuh petaka!</em>&#8220;, kata seseorang yang  sering menaruh sial pada bulan Suro ketika ia dapati berbagai musibah.</p>
<p>Bolehkah mencela waktu seperti itu?</p>
<p>Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan  orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan  mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka  ini. Allah Ta’ala berfirman,<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">وَقَالُوا  مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا  يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ  إِلَّا يَظُنُّونَ</p>
<p>”<em>Dan mereka berkata: &#8220;Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan  di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan  kita selain masa (waktu)&#8221;, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai  pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.</em>”  (QS. Al Jatsiyah [45] : 24). Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang  tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini  berarti kebiasaan yang jelek.</p>
<p>Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan  mencela waktu.</p>
<p>Dalam <em>shohih Muslim</em>, dibawakan Bab dengan judul ’<em>larangan  mencela waktu (ad-dahr)</em>’. Di antaranya terdapat hadits dari Abu  Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">قَالَ  اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا  الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ</p>
<p>”<em>Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. <strong>Dia  mencela waktu</strong>, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah  yang membolak-balikkan malam dan siang</em>.” (HR. Muslim no. 6000)</p>
<p>Dalam lafadz yang lain, beliau <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">قَالَ  اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ  الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى  أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ  قَبَضْتُهُمَا</p>
<p>”<em>Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia  mengatakan ’Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah  seseorang di antara kalian mengatakan ’Ya khoybah dahr’ (dalam rangka  mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang  membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya</em>.”   (HR. Muslim no. 6001)</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah </em>dalam <em>Syarh Shohih Muslim</em> (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu)  ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan,  hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan  ’<em>Ya khoybah dahr</em>’ (ungkapan mencela waktu, pen) dan ucapan  celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.</p>
<p>Setelah dikuatkan dengan berbagai dalil di atas, jelaslah bahwa  mencela waktu adalah <strong>sesuatu yang telarang</strong>. Kenapa  demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur  siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa  bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka  sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah <em>’Azza wa Jalla</em>.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa mencela waktu bisa membuat kita terjerumus  dalam dosa bahkan bisa membuat kita terjerumus dalam syirik akbar  (syirik yang mengekuarka pelakunya dari Islam). Perhatikanlah rincian  Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em> dalam <em>Al  Qoulul Mufid ’ala Kitabit Tauhid</em> berikut.</p>
<p><strong>Mencela waktu itu  terbagi menjadi tiga macam:</strong></p>
<p><strong>Pertama; </strong>jika  dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, kasus semacam ini  diperbolehkan.  Misalnya ucapan, ”<em>Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas</em>”  atau semacamnya. Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung  pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth <em>’alaihis  salam</em>,</p>
<p dir="rtl">هَـذَا  يَوْمٌ عَصِيبٌ</p>
<p>”<em>Ini adalah hari yang amat sulit.</em>&#8221; (QS. Hud [11] : 77)</p>
<p><strong>Kedua; </strong>jika<strong> </strong>menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan  perkara menjadi baik dan buruk, maka ini bisa termasuk syirik akbar. Karena hal ini  berarti kita meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah yaitu kita  menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Barangsiapa meyakini  ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sebagaimana seseorang meyakini  bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.</p>
<p><strong>Ketiga;</strong> jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang  dibenci, maka ini adalah haram  dan tidak sampai derajat syirik. Tindakan semacam ini termasuk tindakan  bodoh (alias ’dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama.  Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah  yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan  maupun kejelekan. Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu  semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya  tidaklah mencela Allah secara langsung. –Demikianlah rincian dari beliau  <em>rahimahullah</em> yang sengaja kami ringkas-</p>
<p>Maka perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu tertentu atau  bulan tertentu adalah bulan sial atau bulan celaka atau bulan penuh bala  bencana, ini sama saja dengan mencela waktu dan ini adalah <strong>sesuatu  yang terlarang</strong>. Mencela waktu bisa jadi haram, bahkan bisa  termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan melakukan perbuatan  semacam ini. Oleh karena itu, jagalah selalu lisan ini dari banyak  mencela. Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang ketika  bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa  malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada malaikat yang akan  mengawasi tindak-tanduk kita.</p>
<p dir="rtl">وَلَقَدْ  خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ  أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى  الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17)</p>
<p>”<em>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui  apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat  kepadanya daripada urat lehernya,</em><em> </em><em>(yaitu) ketika dua  orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah  kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” </em>(QS. Qaaf [50] : 16-17)</p>
<p>Semoga Allah memberi taufik untuk menjaga lisan ini dari murka-Nya.</p>
<p>Artikel <a href="http://rumaysho.com/undefined/" target="_blank">www.rumaysho.com</a></p>
<p>Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/742/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=742&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/07/15/jangan-sampai-mencela-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" medium="image">
			<media:title type="html">AddThis  Social Bookmark Button</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/M_images/emailButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">E-mail</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/M_images/printButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">Cetak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/templates/ja_nickel/images/pdf_button.png" medium="image">
			<media:title type="html">PDF</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_clock_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rsz_clock_1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Pria Memakai Pakaian Warna Kuning Dan Merah</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/07/15/hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/07/15/hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 21:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedia]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=739</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Pria Memakai Pakaian Warna Kuning Dan Merah Jumat, 09 Juli 2010 13:00 Muhammad Abduh Tuasikal Hukum Islam &#8211; Umum // Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Beberapa hari di pikiran ini menemukan sedikit problema. Ketika kami mengajarkan kitab fiqh Asy Syaukani Ad Durorul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=739&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>Hukum Pria Memakai Pakaian Warna Kuning Dan Merah</div>
<div>Jumat, 09 Juli 2010 13:00		 		 			 			Muhammad Abduh Tuasikal		 		 					 							<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam.html"> Hukum Islam </a> &#8211; 					 						 							<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum.html"> Umum </a></div>
<p><!-- Start addthis module --></p>
<div><!-- AddThis Button BEGIN --> //  <a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" border="0" alt="AddThis  Social Bookmark Button" /></a> <!-- AddThis Button END --></div>
<p><!-- End addthis module --></p>
<div><a title="E-mail" href="http://rumaysho.com/component/mailto/?tmpl=component&amp;link=aHR0cDovL3J1bWF5c2hvLmNvbS9odWt1bS1pc2xhbS91bXVtLzMxMTQtaHVrdW0tcHJpYS1tZW1ha2FpLXBha2FpYW4td2FybmEta3VuaW5nLWRhbi1tZXJhaC5odG1s"><img src="http://rumaysho.com/images/M_images/emailButton.png" alt="E-mail" /></a> <a title="Cetak" rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html?tmpl=component&amp;print=1&amp;layout=default&amp;page="><img src="http://rumaysho.com/images/M_images/printButton.png" alt="Cetak" /></a> <a title="PDF" rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.pdf"><img src="http://rumaysho.com/templates/ja_nickel/images/pdf_button.png" alt="PDF" /></a></div>
</div>
</div>
<p><!-- JoomlaWorks "Disqus Comment System for Joomla!" Plugin (v2.1) starts here --><img src="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_red_yellow.jpg" alt="baju kuning merah" width="200" height="150" /><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan  salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya</em>.</p>
<p>Beberapa hari di pikiran ini menemukan sedikit problema. Ketika kami  mengajarkan kitab fiqh Asy Syaukani <em>Ad Durorul Bahiyah</em>, saat  memasuki bahasan hal-hal yang semestinya dihindarkan ketika akan  melaksanakan shalat, Asy Syaukani menyinggung masalah warna pakaian yang  terlarang, di antaranya adalah pakaian warna kuning dan merah. Karena  menemui kebuntuan dalam pikiran, kami berusaha mencari pembahasan yang  memuaskan mengenai larangan tersebut. Hasil penelusuran kami inilah yang  akan kami sajikan dalam tulisan kali ini. Semoga Allah memberikan  kemudahan.</p>
<p><strong>Hukum Asal Pakaian</strong></p>
<p>Perlu diketahui suatu kaedah yang biasa disampaikan oleh para ulama,  “Hukum asal pakaian adalah mubah (artinya: dibolehkan)”. Dalilnya adalah  firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="rtl">هُوَ الَّذِي  خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ  فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ</p>
<p>“<em>Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk  kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh  langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.</em>” (QS. Al Baqarah:  29)</p>
<p>Oleh karena itu, barangsiapa yang mengklaim bahwa pakaian warna  tertentu itu haram atau terlarang dikenakan, tentu saja ia harus  membawakan dalil. Jika tidak ada dalil, maka asalnya dibolehkan.</p>
<p><strong>Tiga Warna Pakaian Pria  yang Ditinjau</strong></p>
<p>Para ulama berselisih pendapat mengenai <strong>hukum warna pakaian  laki-laki</strong> dalam tiga masalah berikut.</p>
<ol>
<li>Warna      merah polos yang tidak bercampur dengan warna lainnya.  Sedangkan jika      warna merah pada pakaian tersebut bercampur dengan  warna lainnya, maka ini      dibolehkan berdasarkan kesepakatan para  ulama.</li>
<li>Warna      yang dicelup dengan ‘<strong><em>ushfur</em></strong> (sejenis tumbuhan dan      menghasilkan warna merah secara dominan<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn1">[1]</a>).       Adapun jika menghasilkan warna merah selain dengan ‘ushfur, maka  termasuk      dalam pembahasan nomor satu.</li>
<li>Warna      yang dicelup dengan <strong><em>za’faron</em></strong> (sejenis tumbuhan yang      menghasilkan warna kuning). Adapun jika  dicelup dengan warna kuning dari      selain za’faron, seperti ini  dibolehkan berdasarkan kesepakatan para      ulama.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn2">[2]</a></li>
</ol>
<p><img src="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_safflower.jpg" alt="'ushfur" width="200" height="150" />Tanaman &#8216;<em>ushfur </em>(english: Safflower)</p>
<p><img src="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_saffron1.jpg" alt="tanaman za'faron" width="200" height="150" />Tanaman <em>za&#8217;faron</em> (english: Safron)</p>
<p><strong>Pakaian yang Dicelup ‘<em>Ushfur</em></strong></p>
<p>Pakaian ini terlarang berdasarkan hadits-hadits berikut ini:</p>
<p>Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash,</p>
<p dir="rtl">حَدَّثَنَا  مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِى  أَبِى عَنْ يَحْيَى حَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ  الْحَارِثِ أَنَّ ابْنَ مَعْدَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ جُبَيْرَ بْنَ نُفَيْرٍ  أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَخْبَرَهُ  قَالَ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَىَّ ثَوْبَيْنِ  مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ « إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ  تَلْبَسْهَا ».</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna; Telah  menceritakan kepada kami Mu&#8217;adz bin Hisyam; Telah menceritakan kepadaku  Bapakku dari Yahya; Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bin  Al Harits; Bahwa Ibnu Ma&#8217;dan; Telah mengabarkan kepada kaminya, Jubair  bin Nufair; Telah mengabarkan kepadanya, dan &#8216;Abdullah bin &#8216;Amru bin Al  &#8216;Ash; Telah mengabarkan kepadanya, dia berkata; Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melihat aku memakai dua potong pakaian  yang dicelup ‘<em>ushfur</em>, lalu beliau bersabda, &#8220;<em>Sesungguhnya  ini adalah pakaian orang-orang kafir, maka janganlah kamu memakainya.</em>”  (HR. Muslim no. 2077)</p>
<p>Dalam riwayat lainnya disebutkan,</p>
<p dir="rtl">حَدَّثَنَا  دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَيُّوبَ الْمَوْصِلِىُّ  حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ نَافِعٍ عَنْ سُلَيْمَانَ الأَحْوَلِ عَنْ  طَاوُسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَأَى النَّبِىُّ -صلى  الله عليه وسلم- عَلَىَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ « أَأُمُّكَ  أَمَرَتْكَ بِهَذَا ». قُلْتُ أَغْسِلُهُمَا. قَالَ « بَلْ أَحْرِقْهُمَا  ».</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Daud bin Rusyaid; Telah menceritakan  kepada kami &#8216;Umar bin Ayyub Al Mushili; Telah menceritakan kepada kami  Ibrahim bin Nafi&#8217; dari Sulaiman Al Ahwal dari Thawus dari &#8216;Abdillah bin  &#8216;Amru ia berkata; Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam pernah melihat saya  sedang mengenakan dua potong pakaian yang dicelup ‘<em>ushfur</em>, maka  beliau bersabda, &#8220;<em>Apakah ibumu yang menyuruh seperti ini?</em>&#8221; Aku  berkata, “<em>Aku akan mencucinya</em>”. Beliau bersabda: <em>&#8216;Jangan,  akan tetapi bakarlah</em>.&#8217; (HR. Muslim no. 2077)</p>
<p>Hadits ‘Ali bin Abi Tholib,</p>
<p dir="rtl">حَدَّثَنَا  يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ  إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِىِّ  بْنِ أَبِى طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى  عَنْ لُبْسِ الْقَسِّىِّ وَالْمُعَصْفَرِ وَعَنْ تَخَتُّمِ الذَّهَبِ  وَعَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِى الرُّكُوعِ.</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata; &#8216;Aku  membaca Hadits Malik dari Nafi&#8217; dari Ibrahim bin &#8216;Abdullah bin Hunain  dari Bapaknya dari &#8216;Ali bin Abi Thalib, ia berkata, &#8220;<em>Rasulullah  shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah melarang berpakaian yang dibordir  (disulam) dengan sutera, memakai pakaian yang dicelup ‘ushfur, memakai  cincin emas, dan membaca Al Qur&#8217;an saat ruku’</em>.&#8221; (HR. Muslim no.  2078)</p>
<p>Para ulama berselisih pendapat mengenai pakaian yang dicelup ‘ushfur.  Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama sesudahnya  membolehkan mengenakan pakaian semacam itu. Pendapat ini juga dipilih  oleh Imam Asy Syafi’i, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik. Akan tetapi,  Imam Malik berkata bahwa lebih baik selain pakaian tersebut. Sekelompok  ulama lainnya memakruhkannya karena larangan yang dimaksudkan dibawa  kepada hadits di mana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah  mengenakan pakaian <em>hullah hamro’</em> (pakaian berwarna merah).  Sebagaimana Al Barro’ bin ‘Azib berkata,</p>
<p dir="rtl">كَانَ  النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; مَرْبُوعًا ، وَقَدْ رَأَيْتُهُ فِى  حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْهُ</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah seorang  laki-laki yang berperawakan sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), saya  melihat beliau mengenakan pakaian merah, dan saya tidak pernah melihat  orang yang lebih bagus dari beliau</em>” (HR. Bukhari no. 5848)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim, Al Barro’ bin ‘Azib mengatakan,</p>
<p dir="rtl">كَانَ رَسُولُ  اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً مَرْبُوعًا بَعِيدَ مَا بَيْنَ  الْمَنْكِبَيْنِ عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ عَلَيْهِ  حُلَّةٌ حَمْرَاءُ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ -صلى الله  عليه وسلم-.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam itu berperawakan  sedang, perpundak bidang, rambutnya lebat terurai ke bahu hingga sampai  kedua cuping telinganya. Pada suatu ketika, beliau pernah mengenakan  pakaian berwarna merah, tidak ada seorangpun yang lebih tampan dari  beliau</em>”<em> </em>(HR. Muslim no. 2337)</p>
<p>Juga ada riwayat dari Ibnu ‘Umar yang menceritakan,</p>
<p dir="rtl">وَأَمَّا  الصُّفْرَةُ فَإِنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211;  يَصْبُغُ بِهَا ، فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَصْبُغَ بِهَا</p>
<p>“<em>Adapun warna kuning, maka sungguh aku pernah melihat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mencelup dengannya. Aku pun senang  mencelup dengan warna tersebut</em>.” (HR. Bukhari no. 5851 dan Muslim  no. 1187)</p>
<p>Sebagian ulama memaksudkan larangan pakaian yang dicelup ‘<em>ushfur</em> adalah larangan bagi orang yang berihrom dengan haji atau umroh  sebagaimana maksud dari hadits Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p>Al Baihaqi mengatakan, “Imam Asy Syafi’i melarang memakai pakaian  yang dicelup <em>za’faron</em> dan membolehkan pakaian yang dicelup ‘<em>ushfur</em>.  Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Pakaian yang dicelup ‘ushfur diberi  keringanan karena aku belum mendapati dalil larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  tentang masalah ini kecuali riwayat dari ‘Ali <em>radhiyallahu ‘anhu </em>yang  menyatakan bahwa beliau dilarang menggunakan pakaian semacam itu.  Sedangkan dalam hadits tersebut tidak dikatakan, “Kalian telah  dilarang”. Al Baihaqi lantas mengatakan, “Telah datang dalil tegas yang  melarang (pakaian yang dicelup ‘ushfur) secara umum. Juga terdapat  hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash yang dikeluarkan oleh Imam  Muslim yang melarang pakaian semacam itu.” Al Baihaqi lantas menegaskan,</p>
<p dir="rtl">وَلَوْ  بَلَغَتْ هَذِهِ الْأَحَادِيث الشَّافِعِيّ لَقَالَ بِهَا إِنْ شَاءَ  اللَّه</p>
<p>“Seandainya hadits-hadits (yang melarang pakaian yang dicelup  ‘ushfur) sampai pada Imam Asy Syafi’i tentu beliau akan menjadikannya  sebagai dalil, insya Allah.”</p>
<p>Terdapat riwayat shahih dari Imam Asy Syafi’i, beliau sendiri  mengatakan,</p>
<p dir="rtl">إِذَا كَانَ  حَدِيث النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَاف قَوْلِي  فَاعْمَلُوا بِالْحَدِيثِ ، وَدَعُوا قَوْلِي ، وَفِي رِوَايَة : فَهُوَ  مَذْهَبِي</p>
<p>“Jika ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi  pendapatku, maka beramallah dengan hadits tersebut dan tinggalkanlah  pendapatku.” Dalam riwayat disebutkan, “Pendapat (yang sesuai hadits  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) tersebut itulah sebenarnya  yang jadi pendapatku.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Pendapat yang tepat dalam masalah ini adalah bahwa memakai pakaian  yang dicelup ‘ushfur adalah haram karena hukum asal larangan (dalam  hadits) adalah haram. Adapun baju merah yang dikenakan oleh Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>, maka merah pada baju tersebut bukan karena  menggunakan ‘<em>ushfur</em> namun karena dicelup warna merah dengan zat  selain ‘ushfur.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>Pakaian yang Dicelup  Za’faron</strong></p>
<p>Mengenai larangan menggunakan pakaian yang dicelup za’faron  disebutkan dalam hadits Anas yang muttafaqun ‘alaih (dikeluarkan oleh  Bukhari dan Muslim). Anas berkata,</p>
<p dir="rtl">نَهَى  النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أَنْ يَتَزَعْفَرَ الرَّجُلُ</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang laki-laki mencelup  dengan za&#8217;faran.</em>” (HR. Bukhari no. 5846 dan Muslim no. 2101)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Pendapat yang  tepat, haram memamai pakaian yang dicelup ‘ushfur, begitu pula  za’faron”.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Sebagaimana dinukil oleh Al Baihaqi, Imam Asy Syafi’i mengatakan,  “Aku melarang laki-laki mengenakan pakaian yang dicelup za’faron. Jika  pakaiannya seperti itu, aku perintahkan untuk dicuci.” Al Baihaqi lantas  mengatakan, “Jika beliau mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> dalam larangan pakaian yang dicelup za’faron,  maka untuk larangan pakaian yang dicelup ‘ushfur lebih pantas untuk  diikuti.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>Pakaian yang Bercorak  Merah atau Kuning</strong></p>
<p>Mengenai pakaian yang tidak polos merah atau kuning (bercorak  dicampur dengan warna lain), dibolehkan  berdasarkan kesepakatan para ulama. Sebagaimana dikatakan oleh  An Nawawi <em>rahimahullah</em>,</p>
<p dir="rtl">يجوز لبس  الثوب الابيض والاحمر والاصفر والاخضر والمخطط وغيرها من ألوان الثياب ولا  خلاف في هذا ولا كراهة في شئ منه قال الشافعي والاصحاب وأفضلها البيض</p>
<p>“Boleh menggunakan pakaian yang bergaris merah, kuning, hijau dan  warna pakaian yang bercorak lainnya. Hal ini berdasarkan <strong>kesepakatan  (ijma’) para ulama</strong>. Warna pakaian yang bercorak semacam itu  tidaklah makruh sedikit pun. Inilah yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i  dan pengikutnya. Namun yang paling afdhol adalah mengenakan pakaian  berwarna putih.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong>Bolehkah Memakai Pakaian  Berwarna Kuning?</strong></p>
<p>Jawabannya, asalnya boleh.  Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama karena pakaian kuning yang   terlarang apabila merupakan hasil celupan <em>za’faron</em> atau ‘<em>ushfur</em> sebagaimana disebutkan dalam penjelasan di atas.</p>
<p>Dalam <em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah</em> disebutkan,</p>
<p dir="rtl">اتّفق الفقهاء  على جواز لبس الأصفر ما لم يكن معصفراً أو مزعفراً</p>
<p>“Para pakar fiqih sepakat dibolehkannya memakai pakaian berwarna  kuning asalkan bukan hasil dari celupan ‘ushfur atau za’faron.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dari sini, jika pakaian kuning berasal dari zat warna sintetik  seperti pada pakaian yang kita temukan saat ini, maka seperti itu  tidaklah masalah.<em> Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Sedangkan sebagian orang menerjemahkan pakaian “<em>mua’shfar</em>”  (yang dicelup ‘ushfur) dengan artian pakaian warna kuning, kami rasa ini  keliru, karena ‘<em>ushfur</em> lebih dominan menghasilkan warna merah.  Ibnu Hajar <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p dir="rtl">فَإِنَّ  غَالِب مَا يُصْبَغ بِالْعُصْفُرِ يَكُون أَحْمَر</p>
<p>“Warna dominan yang dihasilkan oleh ‘ushfur adalah warna merah.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>Bagaimana dengan Pakaian  Merah Polos?</strong></p>
<p>Ada dua macam dalil yang membicarakan masalah ini. Ada yang  membolehkan dan ada yang melarang.</p>
<p><strong>Dalil yang melarang  pakaian berwarna merah</strong>:</p>
<p>Hadits Al Baro’ bin ‘Azib, ia berkata,</p>
<p dir="rtl">نَهَانَا  النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; عَنِ الْمَيَاثِرِ الْحُمْرِ  وَالْقَسِّىِّ</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang kami mengenakan  ranjang (yang lembut) yang berwarna merah dan qasiy (pakaian yang  bercorak sutera)</em>.” (HR. Bukhari no. 5838)</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, ia berkata,</p>
<p dir="rtl">نُهِيتُ عَنْ  الثَّوْبِ الْأَحْمَرِ وَخَاتَمِ الذَّهَبِ وَأَنْ أَقْرَأَ وَأَنَا  رَاكِعٌ</p>
<p>“<em>Aku dilarang untuk memakai kain yang berwarna merah, memakai  cincin emas dan membaca Al-Qur&#8217;an saat rukuk.</em>” (HR. An Nasai no.  5266. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)</p>
<p><strong>Dalil yang membolehkan  pakaian berwarna merah</strong>:</p>
<p>Hadits Al Barro’ bin ‘Azib, ia berkata,</p>
<p dir="rtl">كَانَ  النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; مَرْبُوعًا ، وَقَدْ رَأَيْتُهُ فِى  حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْهُ</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah seorang  laki-laki yang berperawakan sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), saya  melihat beliau mengenakan pakaian (hullah) merah, dan saya tidak pernah  melihat orang yang lebih bagus dari beliau</em>” (HR. Bukhari no. 5848)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim, Al Barro’ bin ‘Azib mengatakan,</p>
<p dir="rtl">كَانَ رَسُولُ  اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً مَرْبُوعًا بَعِيدَ مَا بَيْنَ  الْمَنْكِبَيْنِ عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ عَلَيْهِ  حُلَّةٌ حَمْرَاءُ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ -صلى الله  عليه وسلم-.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam itu berperawakan  sedang, perpundak bidang, rambutnya lebat terurai ke bahu hingga sampai  kedua cuping telinganya. Pada suatu ketika, beliau pernah mengenakan  pakaian (hullah) berwarna merah, tidak ada seorangpun yang lebih tampan  dari beliau</em>”<em> </em>(HR. Muslim no. 2337)</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,</p>
<p dir="rtl">كان رسول الله  صلى الله عليه و سلم يلبس يوم العيد بردة حمراء</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengenakan  burdah (kain bergaris) berwarna merah ketika shalat ‘ied.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Dalil-dalil yang menyebutkan bolehnya pakaian berwarna merah  di sana  menggunakan kata “<strong><em>hullah</em></strong>” dan “<strong><em>burdah</em></strong>”.  Perlu diketahui bahwa yang dimaksud burdah dan hullah adalah pakaian  yang bergaris merah dan bukan pakaian merah polos.</p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan,</p>
<p dir="rtl">كَانَ بَعْض  الْعُلَمَاء يَلْبَس ثَوْبًا مُشْبَعًا بِالْحُمْرَةِ يَزْعُم أَنَّهُ  يَتْبَع السُّنَّة ، وَهُوَ غَلَط ، فَإِنَّ الْحُلَّة الْحَمْرَاء مِنْ  بُرُود الْيَمَن وَالْبُرْد لَا يُصْبَغ أَحْمَر صِرْفًا</p>
<p>“Sebagian ulama ada yang memakai pakaian merah polos (merah  seluruhnya) dan menganggapnya sebagai sunnah. Sungguh ini adalah keliru.  Yang dimaksud “hullah” berwarna merah adalah burdah (pakaian bergaris)  dari Yaman dan burdah di sini bukanlah pakaian yang dicelup sehingga  berwarna merah polos (merah keseluruhan).”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p><strong>Sehingga yang tepat  dalam masalah ini</strong>, pria boleh menggunakan pakaian  berwarna merah asalkan tidak polos (tidak seluruhnya berwarna merah).  Namun jika pakaian tersebut seluruhnya merah, maka inilah yang  terlarang. Inilah pendapat yang lebih hati-hati dan lebih selamat dari  khilaf (perselisihan) ulama.</p>
<p><strong>Sedangkan untuk wanita </strong>boleh menggunakan pakaian dengan warna apa saja asalkan bukan warna yang nantinya  akan menjadi perhiasan diri di hadapan non mahrom.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftn12">[12]</a> Adapun yang kita bicarakan pada kesempatan kali ini adalah warna  pakaian terlarang bagi pria.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, berkat taufik Allah kami diberikan kemudahan  mendapatkan titik terang dalam masalah ini. <em>Alhamdulillahilladzi bi  ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>Diselesaikan menjelang Jum’atan di Panggang-GK, 26 Rajab 1431 H  (09/07/2010)</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Sumber : Artikel <a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<hr /><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref1">[1]</a> Lihat Fathul Bari, 10/305.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref2">[2]</a> Tulisan ini, kami banyak ambil faedah dari penjelasan Syaikh Sholih Al  Munajjid <em>hafizhohullah </em>dalam situsnya Al Islam Sual wa Jawab (<a href="http://islamqa.com/ar/ref/72878">http://islamqa.com/ar/ref/72878</a> dan <a href="http://islamqa.com/ar/ref/8341">http://islamqa.com/ar/ref/8341</a> )</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref3">[3]</a> Lihat penjelasan di atas sampai dengan perkataan Al Baihaqi dan Imam  Asy Syafi’i dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/54-55.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref4">[4]</a> Ma’alimus Sunan, 4/179.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref5">[5]</a> Syarhul Mumthi’, 2/218.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref6">[6]</a> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/55.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref7">[7]</a> Al Majmu’, 4/452.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref8">[8]</a> Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/2051.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref9">[9]</a> Lihat Fathul Bari, 10/305.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref10">[10]</a> Diriwayatkan oleh Ath Thobroni dalam Al Awsath (7/316).  Al Haitsami  dalam Majma’ Az Zawaid (2/233-234) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref11">[11]</a> Fathul Bari, 16/415.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html#_ftnref12">[12]</a> Lihat penjelasan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At Tamhid (16/123).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/739/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=739&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/07/15/hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" medium="image">
			<media:title type="html">AddThis  Social Bookmark Button</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/M_images/emailButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">E-mail</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/M_images/printButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">Cetak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/templates/ja_nickel/images/pdf_button.png" medium="image">
			<media:title type="html">PDF</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_red_yellow.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baju kuning merah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_safflower.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">&#039;ushfur</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/stories/rsz_saffron1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tanaman za&#039;faron</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Mandi Wajib</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/07/15/tata-cara-mandi-wajib/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/07/15/tata-cara-mandi-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 21:43:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=735</guid>
		<description><![CDATA[Tata Cara Mandi Wajib Minggu, 04 Juli 2010 00:00 Muhammad Abduh Tuasikal Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. lima hal yang menyebabkan mandi wajib Saat ini kami akan menjelaskan beberapa hal yang berkenaan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=735&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tata Cara Mandi Wajib</p>
<div class="article-toolswrap">
<div class="article-tools clearfix">
<div class="joomla_add_this">
<p><span class="createdate">Minggu, 04 Juli 2010 00:00</span></p>
<p><span class="createby">Muhammad Abduh Tuasikal </span></p>
<p><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" border="0" alt="AddThis Social Bookmark Button" /></a></p>
</div>
</div>
<div class="buttonheading">
<p><a title="PDF" rel="nofollow" href="/hukum-islam/thoharoh/3107-tata-cara-mandi-wajib-1.pdf"></a></p>
</div>
</div>
<div class="article-content">
<p><!-- JoomlaWorks "Disqus Comment System for Joomla!" Plugin (v2.1) starts here --></p>
<p><span id="startOfPage"> </span></p>
<p><img src="/Users/RUSYDI%7E1/AppData/Local/Temp/moz-screenshot-5.png" alt="" /><a href="http://waterboyry.files.wordpress.com/2010/07/rsz_water_2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-736" title="rsz_water_2" src="http://waterboyry.files.wordpress.com/2010/07/rsz_water_2.jpg?w=640" alt=""   /></a><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman</em>.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong> lima hal yang menyebabkan mandi wajib</strong></span></p>
<p>Saat ini kami akan menjelaskan beberapa hal yang berkenaan dengan  mandi (<em>al ghuslu</em>). Insya Allah, pembahasan ini akan dikaji  secara lebih lengkap dalam tiga artikel. Pada kesempatan kali ini kita  akan mengkaji beberapa hal yang mewajibkan seseorang untuk mandi (<em>al  ghuslu</em>).</p>
<p>Yang dimaksud dengan <em>al ghuslu</em> secara bahasa adalah  mengalirkan air pada sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan <em>al  ghuslu</em> secara syari’at adalah menuangkan air ke seluruh badan  dengan tata cara yang khusus. Ibnu Malik mengatakan bahwa <em>al ghuslu</em> (dengan <em>ghoin</em>-nya didhommah) bisa dimaksudkan untuk perbuatan  mandi dan air yang digunakan untuk mandi. <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Beberapa hal yang mewajibkan untuk mandi (<em>al ghuslu</em>):</p>
<p><strong>Pertama</strong>:  Keluarnya mani dengan syahwat.</p>
<p>Sebagaimana dijelaskan oleh ulama Syafi’iyah, mani bisa dibedakan  dari madzi dan wadi<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn2">[2]</a> dengan melihat ciri-ciri mani yaitu: [1] baunya khas seperti bau adonan  roti ketika basah dan seperti bau telur ketika kering, [2] birnya  memancar, [3] keluarnya terasa nikmat dan mengakibatkan <em>futur</em> (lemas). Jika salah satu syarat sudah terpenuhi, maka cairan tersebut  disebut mani. Wanita sama halnya dengan laki-laki dalam hal ini. Namun  untuk wanita tidak disyaratkan air mani tersebut memancar sebagaimana  disebutkan oleh An Nawawi dalam <em>Syarh Muslim</em> dan diikuti oleh  Ibnu Sholah.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dalill bahwa keluarnya mani mewajibkan untuk mandi adalah firman  Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="rtl">وَإِنْ  كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا</p>
<p>“<em>Dan jika kamu junub maka mandilah</em>.” (QS. Al Maidah: 6)</p>
<p dir="rtl">يَا  أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ  سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي  سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu  dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,  (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali  sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.</em>” (QS. An Nisa’: 43)</p>
<p>Dalil lainnya dapat kita temukan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p>إِنَّمَا  الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air  (mani)</em>.” (HR. Muslim no. 343)</p>
<p>Menurut jumhur (mayoritas) ulama, yang menyebabkan seseorang mandi  wajib adalah karena keluarnya  mani dengan memancar dan terasa nikmat ketika mani itu keluar.  Jadi, jika mani tersebut keluar tanpa syahwat seperti ketika sakit atau  kedinginan, maka tidak ada kewajiban untuk mandi. Berbeda halnya dengan  ulama Syafi’iyah yang menganggap bahwa jika mani tersebut keluar  memancar dengan terasa nikmat  atau pun tidak, maka tetap menyebabkan mandi wajib. Namun  pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong><em>Lalu bagaimana dengan orang yang mimpi basah?</em></strong></p>
<p>Asy Syaukani <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Terdapat ijma’  (kesepakatan) ulama mengenai wajibnya mandi ketika <em>ihtilam</em> (mimpi), sedangkan yang menyelisihi hal ini hanyalah An Nakho’i. Akan  tetapi yang menyebabkan mandi wajib di sini ialah  jika orang yang  bermimpi mendapatkan sesuatu yang basah.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dalil mengenai hal ini adalah hadits dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu  ‘anha</em>,</p>
<p dir="rtl">سُئِلَ  رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرَّجُلِ يَجِدُ الْبَلَلَ  وَلاَ يَذْكُرُ احْتِلاَمًا قَالَ « يَغْتَسِلُ ». وَعَنِ الرَّجُلِ يَرَى  أَنَّهُ قَدِ احْتَلَمَ وَلاَ يَجِدُ الْبَلَلَ قَالَ « لاَ غُسْلَ  عَلَيْهِ ». فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ الْمَرْأَةُ تَرَى ذَلِكَ  أَعَلَيْهَا غُسْلٌ قَالَ « نَعَمْ إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ  الرِّجَالِ ».</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang  seorang laki-laki yang mendapatkan dirinya basah sementara dia tidak  ingat telah mimpi, beliau menjawab, “Dia wajib mandi”. Dan beliau juga  ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi tetapi tidak mendapatkan  dirinya basah, beliau menjawab: “Dia tidak wajib mandi”.</em>” (HR. Abu  Daud no. 236, At Tirmidzi no. 113, Ahmad 6/256. Dalam hadits ini semua  perowinya <em>shahih</em> kecuali Abdullah Al Umari yang mendapat  kritikan<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn6">[6]</a>.  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>)</p>
<p>Juga terdapat dalil dalam hadits Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,  ia berkata,</p>
<p>جَاءَتْ  أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِى طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله  عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ لاَ  يَسْتَحْيِى مِنَ الْحَقِّ ، هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا  هِىَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « نَعَمْ  إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ »</p>
<p>“<em>Ummu Sulaim (istri dari Abu Tholhah) datang menemui Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah,  sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah bagi wanita  wajib mandi jika ia bermimpi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  menjawab: “Ya, jika dia melihat air.</em>” (HR. Bukhari no. 282 dan  Muslim no. 313)</p>
<p>Asy Syaukani <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Hadits-hadits di atas  adalah sanggahan bagi yang berpendapat bahwa mandi wajib itu baru ada  jika seseorang yang mimpi tersebut merasakan mani tersebut keluar  (dengan syahwat) dan yakin akan hal itu.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin <em>rahimahullah </em>ketika  menjelaskan hadits di atas berkata, “Pada saat itu diwajibkan mandi  ketika melihat air (mani), dan tidak disyaratkan lebih dari itu.  Hal  ini menunjukkan  bahwa mandi itu wajib jika seseorang bangun lalu  mendapati air (mani), baik ia merasakannya ketika keluar atau ia tidak  merasakannya sama sekali. Begitu pula ia tetap wajib mandi baik ia  merasakan mimpi atau tidak karena orang yang tidur boleh jadi lupa (apa  yang terjadi ketika ia tidur). Yang dimaksud dengan air di sini adalah  mani.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Kedua</strong>:  Bertemunya dua kemaluan walaupun tidak keluar mani.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>إِذَا  جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا ، فَقَدْ وَجَبَ  الْغَسْلُ</p>
<p>“<em>Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya  (maksudnya: menyetubuhi istrinya , pen), lalu bersungguh-sungguh  kepadanya, maka wajib baginya mandi.</em>” (HR. Bukhari no. 291 dan  Muslim no. 348)</p>
<p>Di dalam riwayat Muslim terdapat tambahan,</p>
<p dir="rtl">وَإِنْ  لَمْ يُنْزِلْ</p>
<p><em>“Walaupun tidak keluar mani.”</em></p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata,</p>
<p dir="rtl">إِنَّ  رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرَّجُلِ  يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَعَائِشَةُ  جَالِسَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى  لأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَهَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ ».</p>
<p>“<em>Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam tentang seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya namun  tidak sampai keluar air mani. Apakah keduanya wajib mandi? Sedangkan  Aisyah ketika itu sedang duduk di samping, maka Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita  ini (yang dimaksud adalah Aisyah, pen) namun tidak keluar mani,  kemudian kami pun mandi.</em>” (HR. Muslim no. 350)</p>
<p>Imam Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>menyebutkan bahwa yang  dimaksud dengan “junub” dalam bahasa Arab dimutlakkan secara hakikat  pada jima’ (hubungan badan) walaupun  tidak keluar mani. Jika kita katakan bahwa si suami junub karena  berhubungan badan dengan istrinya, maka walaupun itu tidak keluar mani  dianggap sebagai junub. Demikian nukilan dari Ibnu Hajar Al Asqolani  dalam <em>Fathul Bari</em>.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah di atas, An Nawawi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Makna hadits tersebut adalah wajibnya mandi tidak  hanya dibatasi dengan keluarnya mani. Akan tetapi, -maaf- jika ujung  kemaluan si pria telah berada dalam kemaluan wanita, maka ketika itu  keduanya sudah diwajibkan untuk mandi. Untuk saat ini, hal ini tidak  terdapat perselisihan pendapat. Yang terjadi perselisihan pendapat ialah  pada beberapa sahabat dan orang-orang setelahnya. Kemudian setelah itu  terjadi ijma’ (kesepakatan) ulama (bahwa meskipun tidak keluar mani  ketika hubungan badan tetap wajib mandi) sebagaimana yang pernah kami  sebutkan.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Ketika  berhentinya darah haidh dan nifas.</p>
<p>Dalil mengenai hal ini adalah hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata pada Fathimah binti  Abi Hubaisy,</p>
<p dir="rtl">فَإِذَا  أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى  عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّى</p>
<p>“<em>Apabila kamu datang haidh hendaklah kamu meninggalkan shalat.  Apabila darah haidh berhenti, hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat</em>.”  (HR. Bukhari no. 320 dan Muslim no. 333).</p>
<p>Untuk nifas dihukumi sama dengan haidh berdasarkan ijma’  (kesepakatan) para ulama. Asy Syaukani <em>rahimahullah </em>mengatakan,  “Mengenai wajibnya mandi karena berhentinya darah haidh tidak ada  perselisihan di antara para ulama. Yang menunjukkan hal ini adalah dalil  Al Qur’an dan hadits <em>mutawatir</em> (melalui jalur yang amat  banyak). Begitu pula terdapat ijma’ (kesepakatan) ulama mengenai  wajibnya mandi ketika berhenti dari darah nifas.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p><strong>Keempat</strong>: Ketika  orang kafir masuk Islam.</p>
<p>Mengenai wajibnya hal ini terdapat dalam hadits dari Qois bin ‘Ashim <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>,</p>
<p dir="rtl">أَنَّهُ  أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ  يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ</p>
<p>“<em>Beliau masuk Islam, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara)</em>.”  (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al  Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>).</p>
<p>Perintah yang berlaku untuk Qois di sini berlaku pula untuk yang  lainnya. Dalam kaedah ushul, hukum asal perintah adalah wajib.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn12">[12]</a> Ulama yang mewajibkan mandi ketika seseorang masuk Islam adalah Imam  Ahmad bin Hambal dan pengikutnya dari ulama Hanabilah<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn13">[13]</a>,  Imam Malik, Ibnu Hazm, Ibnull Mundzir dan Al Khottobi<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Karena  kematian.</p>
<p>Yang dimaksudkan wajib mandi di sini ditujukan pada orang yang hidup,  maksudnya orang yang hidup wajib memandikan orang yang mati. Jumhur  (mayoritas) ulama menyatakan bahwa memandikan orang mati di sini  hukumnya <em>fardhu kifayah</em>, artinya jika sebagian orang sudah  melakukannya, maka yang lain gugur kewajibannya.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn15">[15]</a> Penjelasan lebih lengkap mengenai memandikan mayit dijelaskan oleh para  ulama secara panjang lebar dalam <em>Kitabul Jana’iz</em>, yang  berkaitan dengan jenazah.</p>
<p>Dalill mengenai wajibnya memandikan si mayit di antaranya adalah  perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada Ummu  ‘Athiyah dan kepada para wanita yang melayat untuk memandikan anaknya,</p>
<p dir="rtl">اغْسِلْنَهَا  ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مَنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ  بِمَاءٍ وَسِدْرٍ</p>
<p>“<em>Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun  bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu  dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian).</em>”  (HR. Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939).</p>
<p>Berdasarkan kaedah ushul, hukum asal perintah adalah wajib. Sedangkan  tentang masalah ini tidak ada dalil yang memalingkannya ke hukum sunnah  (dianjurkan). Kaum muslimin pun telah mengamalkan hal ini dari zaman  dulu sampai saat ini.</p>
<p>Yang wajib dimandikan di sini adalah setiap muslim yang mati, baik  laki-laki atau perempuan, anak kecil atau dewasa, orang merdeka atau  budak, kecuali jika orang yang mati tersebut adalah orang yang mati di  medan perang ketika berperang dengan orang kafir.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p><strong><em>Lalu bagaimana dengan bayi karena keguguran, wajibkah  dimandikan? </em></strong></p>
<p>Jawabannya, dapat kita lihat dari penjelasan Syaikh Muhammad bin  Sholih Al Utsaimin <em>rahimahullah. </em>Beliau berkata, “Jika bayi  karena keguguran tersebut sudah memiliki ruh, maka ia dimandikan,  dikafani dan disholati. Namun jika ia belum memiliki ruh, maka tidak  dilakukan demikian. Waktu ditiupkannya ruh adalah jika kandungannya  telah mencapai empat bulan,  sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>….”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Demikian pembahasan singkat ini. Insya Allah selanjutnya kita akan  melanjutkan pada pembahasan tata cara mandi (al ghuslu). Semoga  bermanfaat.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa  shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa  sallam.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Selesai disusun di Pangukan-Sleman, Kamis, 15 Jumadal Awwal 1431 H  (29/04/2010)</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a> ,  dipublish ulang oleh <a href="http://rumaysho.com/undefined/" target="_blank">www.rumaysho.com</a></p>
<hr /><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’</em>, 1/392, Mawqi’ Al Islam<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref2">[2]</a> <em>Wadi</em> adalah sesuatu yang keluar sesudah kencing pada umumnya,  berwarna putih, tebal mirip mani, namun berbeda kekeruhannya dengan  mani. Wadi tidak memiliki bau yang khas.</p>
<p>Sedangkan <em>madzi</em> adalah cairan berwarna putih, tipis,  lengket, keluar ketika bercumbu rayu atau ketika membayangkan jima’  (bersetubuh) atau ketika berkeinginan untuk jima’. Madzi tidak  menyebabkan lemas dan terkadang keluar tanpa terasa yaitu keluar ketika  muqoddimah syahwat. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa memiliki  madzi. (Lihat <em>Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal  Ifta’</em>, 5/383, pertanyaan kedua dari fatwa no.4262, Mawqi’ Al Ifta’)</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Kifayatul Akhyar fii Halli Ghoyatil Ikhtishor</em>,  Taqiyuddin Abu Bakr Asy Syafi’i, hal. 64, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah,  tahun 1422 H.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref4">[4]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayid  Salim, 1/163, Al Maktabah At Taufiqiyah. Juga lihat penjelasan dalam  kitab <em>Fiqh Al Mar’ah Al Muslimah</em>, Syaikh Muhammad bin Sholih Al  Utsaimin, hal. 49, Darul ‘Aqidah, tahun 1428 H.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref5">[5]</a> <em>Ad Daroril Mudhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyah</em>, Muhammad bin  ‘Ali Asy Syaukani, hal. 57, Darul ‘Aqidah, tahun 1425 H.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Ad Daroril Mudhiyah</em>, hal. 58.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref7">[7]</a> <em>Ad Daroril Mudhiyah</em>, hal. 58.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref8">[8]</a> <em>Fiqh Al Mar’ah Al Muslimah, </em>hal. 50.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref9">[9]</a> Lihat <em>Fathul Bari</em>, Ibnu Hajar Al Asqolani 1/398, Darul  Ma’rifah, Beirut, 1379.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref10">[10]</a> <em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj</em>, Yahya bin Syarf  An Nawawi, 4/40-41, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref11">[11]</a> <em>Ad Daroril Mudhiyah</em>, hal. 57.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref12">[12]</a> Faedah dari <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref13">[13]</a> Lihat <em>Ad Daroril Mudhiyah</em>, hal. 59.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref14">[14]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/166.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref15">[15]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/617.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref16">[16]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/618. <strong>Catatan</strong>:  Adapun orang yang mati selain di medan pertempuran dan disebut syahid  (seperti orang yang mati karena tenggelam dan sakit perut), maka mereka  dimandikan dan disholatkan sebagaimana orang yang mati pada umumnya.  Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (<em>Shahih Fiqh Sunnah</em>,  1/619)</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/5-hal-yang-menyebabkan-mandi-wajib.html#_ftnref17">[17]</a> <em>Fiqh Al Mar’ah  Al Muslimah</em>, hal. 51.</p>
<p>Lanjutan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Niat, Syarat Sahnya Mandi</strong></span></p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa di antara fungsi niat adalah untuk membedakan manakah yang menjadi kebiasaan dan manakah ibadah. Dalam hal mandi tentu saja mesti dibedakan dengan mandi biasa. Pembedanya adalah niat. Dalam hadits dari ‘Umar bin Al Khattab, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.</em>” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Rukun Mandi</strong></span></p>
<p>Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.</p>
<p>Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Di antaranya adalah hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>yang menceritakan tata cara mandi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ</span></p>
<p>“<em>Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.</em>” (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>)</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">هَذَا التَّأْكِيد يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ عَمَّمَ جَمِيع جَسَدِهِ بِالْغُسْلِ</span></p>
<p>“Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dari Jubair bin Muth&#8217;im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, lalu beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى</span></p>
<p>&#8220;<em>Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.</em>&#8221; (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini <strong><em>shahih</em></strong> sesuai syarat Bukhari Muslim)</p>
<p>Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِى فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ « لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِى عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ ».</span></p>
<p>&#8220;<em>Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub</em>?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;<em>Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci</em>.&#8221; (HR. Muslim no. 330)</p>
<p>Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (<em>al ghuslu</em>). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau <em>shower</em> dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.</p>
<p>Adapun berkumur-kumur (<em>madhmadhoh</em>), memasukkan air dalam hidung (<em>istinsyaq</em>) dan menggosok-gosok badan (<em>ad dalk</em>) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Tata Cara Mandi yang Sempurna</strong></span></p>
<p>Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna. Yang menjadi dalil dari bahasan ini adalah dua dalil yaitu hadits dari ‘Aisyah dan hadits dari Maimunah.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Hadits pertama: </span></p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أَنَّ النَّبِىَّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ</span></p>
<p>Dari <span style="text-decoration:underline;">&#8216;Aisyah</span>, isteri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa jika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.&#8221; (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Hadits kedua:</span></p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ</span></p>
<p>Dari Ibnu &#8216;Abbas berkata bahwa <span style="text-decoration:underline;">Maimunah</span> mengatakan, &#8220;Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).&#8221; (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)</p>
<p>Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span>: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqolani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran &#8230; Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span>: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ketiga</span>: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Keempat</span>: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.</p>
<p>Asy Syaukani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?</p>
<p>Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.</p>
<p>Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.</p>
<p>Syaikh Abu Malik <em>hafizhohullah </em>mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kelima</span>: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Keenam</span>: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ketujuh</span>: Menyela-nyela rambut.</p>
<p>Dalam hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>disebutkan,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ ، أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ</span></p>
<p>“<em>Jika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya</em>.” (HR. Bukhari no. 272)</p>
<p>Juga ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl">كُنَّا إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةٌ ، أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهَا ، ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَا الأَيْمَنِ ، وَبِيَدِهَا الأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الأَيْسَرِ</p>
<p>“<em>Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri</em>.” (HR. Bukhari no. 277)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kedelapan</span>: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.</p>
<p>Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha, </em>ia berkata,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ</span></p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik)</em>.”  (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)</p>
<p>Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<hr /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Ad Daroril Mudhiyah, hal. 61</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Idem.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Shahih Fiqh Sunnah, 1/181.</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a> , dipublish  ulang oleh <a href="/undefined/" target="_blank">www.rumaysho.com</a></p>
<p><strong>Bagaimanakah Tata Cara Mandi pada Wanita?</strong></p>
<p>Tata cara mandi <span style="text-decoration:underline;">junub</span> pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas sebagaimana telah diterangkan dalam hadits Ummu Salamah, &#8220;<em>Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub</em>?&#8221; Beliau bersabda, &#8220;<em>Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci</em>.&#8221; (HR. Muslim no. 330)</p>
<p>Untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span>: Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,</p>
<p dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ غُسْلِ الْمَحِيضِ فَقَالَ « تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ « تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ &#8211; أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ &#8211; ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ »</span></p>
<p>“<em>Asma&#8217; bertanya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, &#8220;Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil <span style="text-decoration:underline;">air dan daun bidara</span>, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma&#8217; berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”</em>. <em>Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, &#8216;Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.</em>” (HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span>: Melepas kepangan sehingga air sampai ke pangkal rambut.</p>
<p>Dalil hal ini adalah hadits yang telah lewat,</p>
<p><span style="font-size:14pt;">ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا</span></p>
<p>“<em>Kemudian hendaklah kamu menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya.</em>” Dalil ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub. Sedangkan mengenai mandi junub disebutkan,</p>
<p dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ</span></p>
<p>“<em>Kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mengguyurkan air padanya.</em>”</p>
<p>Dalam mandi junub tidak disebutkan “<em>menggosok-gosok dengan keras</em>”. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ketiga</span>: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Perlukah Berwudhu Seusai Mandi?</strong></span></p>
<p>Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,</p>
<p dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ</span></p>
<p>Dari ‘Aisyah, ia berkata, “<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi</em>.” (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>)</p>
<p>Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar,</p>
<p dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟</span></p>
<p>Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “<em>Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?</em>” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara <em>marfu’</em> dan <em>mauquf<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em>)</p>
<p>Abu Bakr Ibnul ‘Arobi  berkata, “<em>Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.</em>” Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Apakah Boleh Mengeringkan Badan dengan Handuk Setelah Mandi?</strong></span></p>
<p>Di dalam hadits Maimunah disebutkan mengenai tata cara mandi, lalu diakhir hadits disebutkan,</p>
<p dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">فَنَاوَلْتُهُ ثَوْبًا فَلَمْ يَأْخُذْهُ ، فَانْطَلَقَ وَهْوَ يَنْفُضُ يَدَيْهِ</span></p>
<p>“<em>Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi beliau tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya</em>” (HR. Bukhari no. 276). Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama memakruhkan mengeringkan badan setelah mandi. Namun yang tepat, hadits tersebut <span style="text-decoration:underline;">bukanlah</span> pendukung pendapat tersebut dengan beberapa alasan:</p>
<ol>
<li>Perbuatan      Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika itu masih mengandung      beberapa kemungkinan. Boleh jadi beliau tidak mengambil kain (handuk)      tersebut karena alasan lainnya yang bukan maksud untuk memakruhkan      mengeringkan badan ketika itu. Boleh jadi kain tersebut mungkin sobek atau      beliau buru-buru saja karena ada urusan lainnya.</li>
<li>Hadits  ini malah menunjukkan bahwa kebiasaan      Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah mengeringkan badan      sehabis mandi. Seandainya bukan kebiasaan beliau, maka tentu saja beliau      tidak dibawakan handuk ketika itu.</li>
<li>Mengeringkan      air dengan tangan menunjukkan bahwa mengeringkan air dengan kain bukanlah      makruh karena keduanya sama-sama mengeringkan.</li>
</ol>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kesimpulannya</span>, mengeringkan air dengan kain (handuk) tidaklah mengapa.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Demikian pembahasan kami seputar mandi wajib (<em>al ghuslu</em>). Tata cara di atas juga berlaku untuk mandi yang sunnah yang akan kami jelaskan pada tulisan selanjutnya (serial ketiga atau terakhir).</p>
<p>Semoga bermanfaat. <em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>Selesai susun di wisma MTI, 7 Jumadits Tsani 1431 H (20/05/2010)</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a>, dipublish ulang oleh <a href="/undefined/" target="_blank">www.rumaysho.com</a></p>
<hr /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Fathul Bari</em>, Ibnu Hajar Al Asqolani, 1/361, Darul Ma’rifah, 1379.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Penjelasannya silakan lihat di <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, Syaikh Abu Malik, 1/173-174 dan 1/177-178, Al Maktabah At Taufiqiyah.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Fathul Bari</em>, 1/360.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim</em>, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/231, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, 1392.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Ad Daroril Mudhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyyah</em>, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 61, Darul ‘Aqidah, terbitan tahun 1425 H.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/175-176.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Al Ikhtiyaarot Al Fiqhiyah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, ‘Alauddin Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad Al Ba’li Ad Dimasyqi Al Hambali, hal. 14, Mawqi’ Misykatul Islamiyah.</p>
<p><strong><em>-  Bersambung insya Allah -</em></strong></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/735/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=735&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/07/15/tata-cara-mandi-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" medium="image">
			<media:title type="html">AddThis Social Bookmark Button</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://waterboyry.files.wordpress.com/2010/07/rsz_water_2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rsz_water_2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>10 Alasan mengapa seorang muslimah belum bahkan tidak mau berhijab</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/19/10-alasan-mengapa-seorang-muslimah-belum-bahkan-tidak-mau-berhijab/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/19/10-alasan-mengapa-seorang-muslimah-belum-bahkan-tidak-mau-berhijab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 18:20:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=730</guid>
		<description><![CDATA[Inilah 10 Alasan mengapa seorang muslimah belum bahkan tidak mau berhijab, semoga Allah membukakan pintu hidayah kepada mereka yang belum mau berhijab. Amin ALASAN I : Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab Kami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini; Pertama, apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? Dengan alami ia berkata, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=730&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah 10 Alasan mengapa seorang muslimah belum bahkan tidak mau berhijab, semoga Allah membukakan pintu hidayah kepada mereka yang belum mau berhijab. Amin</p>
<p>ALASAN I :<br />
Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab</p>
<p>Kami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini;<br />
Pertama, apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? Dengan alami ia berkata, Ya,sambil kemudian mengucap Laa Ilaa haIllallah! Yang menunjukkan ia taat pada aqidahnya dan Muhammadan rasullullah! Yang menyatakan ia taat pada syariahnya. Dengan begitu ia yakin akan Islam beserta seluruh hukumnya.</p>
<p>Kedua, kami menanyakan; Bukankah memakai jilbab termasuk hukum dalam Islam? Apabila saudari ini jujur dan dan tulus dalam ke-Islamannya, ia akan berkata; Ya, itu adalah sebagian dari hukum Islam yang tertera di Al-Quran suci dan merupakan sunnah Rasulullah SAW yang suci.</p>
<p>Jadi kesimpulannya disini, apabila saudari ini percaya akan Islam dan meyakininya, mengapa ia tidak melaksanakan hukum dan perintahnya?</p>
<p>ALASAN II :<br />
Saya yakin akan pentingnya jilbab namun Ibu saya melarangnya, dan apabila saya melanggar ibu, saya akan masuk neraka.</p>
<p>Yang telah menjawab hal ini adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla termulia, Rasulullah SAWW dalam nasihatnya yang sangat bijaksana; “Tiada kepatuhan kepada suatu<br />
ciptaan diatas kepatuhan kepada Allah SWT.” (Ahmad)Sesungguhnya, status orangtua dalam Islam, menempati posisi yang sangat tinggi dan terhormat. Dalam sebuah<br />
ayat disebutkan; “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak . . ” (QS.An-Nisa:36). Kepatuhan terhadap orangtua tidak terbatas kecuali dalam satu aspek, yaitu apabila berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah SWT. Allah berfirman; “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (QS. Luqman : 15)</p>
<p>Berbuat tidak patuh terhadap orangtua dalam menjalani perintah Allah SWT tidak menyebabkan kita dapat berbuat seenaknya terhadap mereka. Kita tetap harus hormat dan menyayangi mereka sepenuhnya. Allah berfirman di ayat yang sama; “dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”</p>
<p>Kesimpulannya, bagaimana mungkin kamu mematuhi ibumu namun melanggar Allah SWT yang menciptakan kamu dan ibumu.</p>
<p>ALASAN III :<br />
Posisi dan lingkungan saya tidak membolehkan saya memakai jilbab.</p>
<p>Saudari ini mungkin satu diantara dua tipe: dia tulus dan jujur, atau sebaliknya, ia seorang penipu yang mengatasnamakan lingkungan pekerjaannya untuk tidak memakai jilbab. Kita akan memulai dengan menjawab tipe dia adalah wanita yang tulus dan jujur.</p>
<p>“Apakah anda tidak tidak menyadari saudariku tersayang, bahwa wanita muslim tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah tanpa menutupi auratnya dengan hijab dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya? Apabila engkau, saudariku, menghabiskan banyak waktu dan tenagamu untuk melakukan dan mempelajari berbagai macam hal di dunia ini, bagaimana mungkin engkau dapat sedemikian cerobohnya untuk tidak mempelajari hal-hal yang akan menyelamatkanmu dari kemarahan Allah dan kematianmu?”</p>
<p>Bukankah Allah SWT telah berfirman; “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan,jika kamu tidak mengetahui” (QS An-Nahl : 43).<br />
Belajarlah untuk mengetahui hikmah menutup auratmu.<br />
Apabila kau harus keluar rumahmu, tutupilah auratmu dengan jilbab, carilah kesenangan Allah SWT daripada kesenangan syetan. Karena kejahatan dapat berawal dari pemandangan yang memabukkan dari seorang wanita.</p>
<p>Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalam menjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangan kebaikan siap membantumu, dan Allah SWT akan membuat segala permasalahan mudah untukmu. Bukankah Allah SWT telah berfirman;<br />
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya..” (QS. AtTalaq :2-3).</p>
<p>Kedudukan dan kehormatan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Allah SWT. Dan tidak bergantung pada kemewahan pakaian yang kita kenakan, warna yang mencolok, dan mengikuti trend yang sedang berlaku. Kehormatan dan kedudukan lebih kepada bersikap patuh pada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, dan bergantung pada hukum Allah SWT yang murni.</p>
<p>Dengarkanlah kalimat Allah; “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu..” (QS. Al- Hujurat:13).</p>
<p>Kesimpulannya, lakukanlah sesuatu dengan mencari kesenangan dan keridhoan Allah SWT, dan berikan harga yang sedikit pada benda-benda mahal yang dapat menjerumuskanmu.</p>
<p>ALASAN IV :<br />
Udara di daerah saya amatlah panas dan saya tidak dapat menahannya. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasinya apalagi jika saya memakai jilbab.</p>
<p>Allah SWT memberikan perumpamaan dengan mengatakan; “api neraka jahannam itu lebih lebih sangat panas(nya)jikalau mereka mengetahui..” (QS At-Taubah : 81)<br />
Bagaimana mungkin kamu dapat membandingkan panas di daerahmu dengan panas di neraka jahannam? Sesungguhnya saudariku, syetan telah mencoba membuat talli besar untuk menarikmu dari panasnya bumi ini kedalam panasnya suasana neraka.</p>
<p>Bebaskan dirimu dari jeratannya dan cobalah untuk melihat panasnya matahari sebagai anugerah, bukan kesengsaraan. Apalagi mengingat bahwa intensitas hukuman dari Allah SWT akan jauh lebih berat dari apa yang kau rasakan sekarang di dunia fana ini.<br />
Kembalilah pada hukum Allah SWT dan berlindunglah dari hukuman-Nya, sebagaimana tercantum dalam ayat; “mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula<br />
mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah” (QS. AN-NABA 78:24-25).</p>
<p>Kesimpulannya, surga yang Allah SWT janjikan, penuh dengan cobaan dan ujian. Sementara jalan menuju neraka penuh dengan kesenangan, nafsu dan kenikmatan.</p>
<p>ALASAN V :<br />
Saya takut, bila saya memakai jilbab sekarang, di lain hari saya akan melepasnya kembali, karena saya melihat banyak sekali orang yang begitu.</p>
<p>Kepada saudari itu saya berkata, “apabila semua orang mengaplikasikan logika anda tersebut, mereka akan meninggalkan seluruh kewajibannya pada akhirnya nanti!<br />
Mereka akan meninggalkan shalat lima waktu karena mereka takut tidak dapat melaksanakan satu saja waktu shalat itu. Mereka akan meninggalkan puasa di bulan ramadhan, karena mereka tekut tidak dapat menunaikan satu hari ramadhan saja di bulan puasa, dan seterusnya. Tidakkah kamu melihat bagaimana syetan telah menjebakmu lagi dan memblokade petunju bagimu?</p>
<p>Allah SWT menyukai ketaatan yang berkesinambungan walaupun hanya suatu ketaatan yang sangat kecil atau dianjurkan. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang benar-benar diwajibkan sebagaimana kewajiban memakai jilbab? Rasulullah SAWW bersabda; “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan mulia yang terus menerus, yang mungkin orang lain anggap kecil.”</p>
<p>Mengapa kamu saudariku, tidak melihat alasan mereka yang dibuat-buat untuk menanggalkan kembali jilbab mereka dan menjauhi mereka? Mengapa tidak kau buka tabir kebenaran dan berpegang teguh padanya?<br />
Allah SWT sesungguhnya telah berfirman; “maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang di masa kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. AL BAQARAH 2:66)</p>
<p>Kesimpulannya, apabila kau memegang teguh petunjuk dan merasakan manisnya keimanan, kau tidak akan meninggalkan sekali pun perintah Allah SWT setelah kau melaksanakannya.</p>
<p>ALASAN VI :<br />
Apabila saya memakai jilbab, maka jodohku akan sulit,jadi aku akan memakainya nanti setelah menikah.</p>
<p>Saudariku, suami mana pun yang lebih menyukaimu tidak memakai jilbab dan membiarkan auratmu di depan umum, berarti dia tidak mengindahkan hukum dan perintah Allah SWT dan bukanlah suami yang berharga sejak semula. Dia adalah suami yang tidak memiliki perasaan untuk melindungi dan menjaga perintah Allah SWT, dan jangan pernah berharap tipe suami seperti ini akan menolongmu menjauhi api neraka, apalagi memasuki surga Allah SWT. Sebuah rumah yang dipenuhi dengan ketidak- taatan kepada Allah SWT, akan selalu menghadapi kepedihan dan kemalangan di dunia kini dan bahkan di akhirat nanti.</p>
<p>Allah SWT bersabda; “dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. TAHA 20:124)</p>
<p>Pernikahan adalah sebuah pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT kepada siapa saja yang Ia kehendaki.<br />
Berapa banyak wanita yang ternyata menikah sementara mereka yang tidak memakai jilbab tidak? Apabila kau, saudariku tersayang, mengatakan bahwa ketidak-tertutupanmu kini adalah suatu jalan menuju sesuatu yang murni, asli, yaitu pernikahan. Tidak ada ketertutupan. Saudariku, suatu tujuanyang murni, tidak akan tercapai melalui jalan yang tidak murni dan kotor dalam Islam. Apabila tujuannya bersih dan murni, serta terhormat, maka jalan menuju kesana pastilah harus dicapai dengan bersih dan murni pula. Dalam syariat Islam kita menyebutnya : Alat atau jalan untuk mencapai sesuatu, tergantung dari peraturan yang ada untuk mencapai tujuan tersebut.</p>
<p>Kesimpulannya, tidak ada keberkahan dari suatu perkawinan yang didasari oleh dosa dan kebodohan.</p>
<p>ALASAN VII :<br />
Saya tidak memakai jilbab berdasarkan perkataan Allah SWT : “dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”(QS.Ad-Dhuhaa 93: 11). Bagaimana mungkin saya menutupi anugerah Allah berupa kulit mulus dan rambutku yang indah?</p>
<p>Jadi saudari kita ini mengacu pada Kitab Allah selama itu mendukung kepentingannya dan pemahamannya sendiri ! ia meninggalkan tafsir sesungguhnya dibelakang ayat itu apabila hal itu tidak menyenangkannya. Apabila yang saya katakan ini salah, mengapa saudari kita ini tidak mengikuti ayat : “janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang nampak daripadanya” (QS An-Nur 24: 31] dan sabda Allah SWT: “katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya..” (QS Al-Ahzab 33:59). Dengan pernyataan<br />
darimu itu, saudariku, engkau telah membuat syariah sendiri bagi dirimu, yang sesungguhnya telah dilarang oleh Allah SWT, yang disebut at-tabarruj dan as-sufoor. Berkah terbesar dari Allah SWT bagi kita adalah iman dan hidayah, yang diantaranya adalah menggunakan hijab. Mengapa kamu tidak mempelajari dan menelaah anugerah terbesar bagimu ini?</p>
<p>Kesimpulannya, apakah ada anugerah dan pertolongan terhadap wanita yang lebih besar daripada petunjuk dan hijab?</p>
<p>ALASAN VIII :<br />
Saya tahu bahwa jilbab adalah kewajiban, tapi saya akan memakainya bila saya sudah merasa terpanggil dan diberi petunjuk olehNya.</p>
<p>Saya bertanya kepada saudariku ini, rencana atau langkah apa yang ia lakukan selama menunggu hidayah, petunjuk dari Allah SWT seperti yang dia katakan? Kita mengetahui bahwa Allah SWT dalam kalimat-kalimat bijak-Nya menciptakan sebab atau cara untuk segala sesuatu. Itulah mengapa orang yang sakit menelan sebutir obat untuk menjadi sehat, dan sebagainya.</p>
<p>Apakah saudariku ini telah dengan seluruh keseriusan dan usahanya mencari petunjuk sesungguhnya dengan segala ketulusannya, berdoa, sebagaimana dalam surah Al-Fatihah 1:6 “Tunjukilah kami jalan yang lurus” serta berkumpul mencari pengetahuan kepada muslimah-muslimah lain yang lebih taat dan yang menurutnya telah diberi petunjuk dengan menggunakan jilbab?</p>
<p>Kesimpulannya, apabila saudariku ini benar-benar serius dalam mencari atau pun menunggu petunjuk dari Allah SWT, dia pastilah akan melakukan jalan-jalan menuju pencariannya itu.</p>
<p>ALASAN IX :<br />
Belum waktunya bagi saya. Saya masih terlalu muda untuk memakainya. Saya pasti akan memakainya nanti seiring dengan penambahan umur dan setelah saya pergi haji.</p>
<p>Malaikat kematian, saudariku, mengunjungi dan menunggu di pintumu kapan saja Allah SWT berkehendak.<br />
Sayangnya, saudariku, kematian tidak mendiskriminasi antara tua dan muda dan ia mungkin saja datang disaat kau masih dalam keadaan penuh dosa dan ketidaksiapan Allah SWT bersabda;<br />
“tiap umat mepunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS Al-An’aam 7:34] saudariku tersayang, kau harus berlomba-lomba dalam kepatuhan pada Allah SWT; “berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumu..” (QS Al-Hadid 57:21)<br />
saudariku, jangan melupakan Allah SWT atau Ia akan melupakanmu di dunia ini dan selanjutnya. Kau melupakan jiwamu sendiri dengan tidak memenuhi hak jiwamu untuk mematuhi-Nya. Allah mengatakan tentang orang-orang yang munafik, “dan janganlah kamu seperti orang- orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri” (QS Al-Hashr 59: 19)</p>
<p>saudariku, memakai jilbab di usiamu yang muda, akan memudahkanmu. Karena Allah SWT akan menanyakanmu akan waktu yang kau habiskan semasa mudamu, dan setiap waktu dalam hidupmu di hari pembalasan nanti.</p>
<p>Kesimpulannya, berhentilah menetapkan kegiatanmu dimasa datang, karena tidak seorang pun yang dapat menjamin kehidupannya hingga esok hari.</p>
<p>ALASAN X :<br />
Saya takut, bila saya memakai jilbab, saya akan di-cap dan digolongkan dalam kelompok tertentu! Saya benci pengelompokan!</p>
<p>Saudariku, hanya ada dua kelompok dalam Islam. Dan keduanya disebutkan dalam Kitabullah. Kelompok pertama adalah kelompok / tentara Allah (Hizbullah) yang diberikan pada mereka kemenangan, karena kepatuhan mereka. Dan kelompok kedua adalah kelompok syetan yang terkutuk (hizbush-shaitan) yang selalu melanggar Allah SWT. Apabila kau, saudariku, memegang teguh perintah Allah SWT, dan ternyata disekelilingmu adalah saudara-saudaramu yang memakai jilbab, kau tetap akan dimasukkan dalam kelompok Allah SWT. Namun apabila kau memperindah nafsu dan egomu, kau akan mengendarai kendaraan Syetan, seburuk-buruknya teman.</p>
<p>KESIMPULAN</p>
<p>Tubuhmu, dipertontonkan di pasar para syetan dan merayu hati para pria. Model rambut, pakaian ketat yang mempertontonkan setiap detail tubuhmu, pakaian-pakaian pendek yang menunjukkan keindahan kakimu, dan semua yang dapat membangkitkan amarah Allah SWT dan menyenangkan syetan. Setiap waktumu yang kau habiskan dalam kondisi ini, akan terus semakin menjauhkanmu dari Allah SWT dan semakin membawamu lebih dekat pada syetan. Setiap waktu kutukan dan kemarahan menuju kepadamu dari surga hingga kau bertaubat. Setiap hari membawamu semakin dekat kepada kematian. “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.</p>
<p>Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain dari kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali `Imran 3:185).</p>
<p>Naikilah kereta untuk mengejar ketinggalan, saudariku, sebelum kereta itu melewati stasiunmu. Renungkan secara mendalam, saudariku, apa yang terjadi hari ini sebelum esok datang.</p>
<p>Pikirkan tentang hal ini, saudariku, sekarang, sebelum semuanya terlambat !</p>
<p>Oleh : Dr. Huwayda Ismaeel (Diterjemahkan dari artikel berbahasa Inggris)</p>
<p>Sumber :facebook.com/Catatan Satu Hari, Satu Ayat Qur&#8217;an: 10 ALASAN TIDAK MAU BERHIJAB</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/730/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=730&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/19/10-alasan-mengapa-seorang-muslimah-belum-bahkan-tidak-mau-berhijab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENJELASAN LENGKAP DARI NAHDALATUL ULAMA (NU), PARA ULAMA SALAFUS SALIH, WALISONGO, 4 MAHZAB TENTANG BID&#8217;AHNYA TAHLILAN</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/19/penjelasan-lengkap-dari-nahdalatul-ulama-nu-para-ulama-salafus-salih-walisongo-4-mahzab-tentang-bidahnya-tahlilan/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/19/penjelasan-lengkap-dari-nahdalatul-ulama-nu-para-ulama-salafus-salih-walisongo-4-mahzab-tentang-bidahnya-tahlilan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 18:07:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=727</guid>
		<description><![CDATA[PENJELASAN LENGKAP DARI NAHDALATUL ULAMA (NU), PARA ULAMA SALAFUS SALIH, WALISONGO, 4 MAHZAB TENTANG BID&#8217;AHNYA TAHLILAN Segala puji bagi Allah SWT, sholawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Adapun setelah orangtua meninggal, maka cara berbaktinya adalah dengan mendoakan dan memohonkan ampunan bagi mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati teman-teman mereka dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=727&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENJELASAN LENGKAP DARI NAHDALATUL ULAMA (NU), PARA ULAMA SALAFUS SALIH, WALISONGO, 4 MAHZAB TENTANG BID&#8217;AHNYA TAHLILAN</p>
<p>Segala puji bagi Allah SWT, sholawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.<br />
Adapun setelah orangtua meninggal, maka cara berbaktinya adalah dengan mendoakan dan memohonkan ampunan bagi mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati teman-teman mereka dan memelihara hubungan kekerabatan yang ada tidak akan punya hubungan kekerabatan dengan mereka tanpa keduanya. Itulah lima perkara yang &#8230; Lihat Selengkapnyamerupakan bakti kepada kedua orang tua setelah mereka meninggal dunia. Bersedekah atas nama keduanya hukumnya boleh. Tapi tidak harus, misalnya dengan mengatakan kepada sang anak, “Bersedekahlah.” Namun yang lebih tepat, “Jika engkau bersedekah, maka itu boleh.” Jika tidak bersedekah, maka mendoakan mereka adalah lebih utama, berdasarkan sabda Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam-,<br />
“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah semua amalnya kecuali dari tiga; Shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim dalam al-Washiyah (1631)).<br />
Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- menyebutkan bahwa doa itu berstatus memperbaharui amal. Ini merupakan dalil bahwa mendoakan kedua orang tua setelah meninggal adalah lebih utama daripada bersedekah atas nama mereka, dan lebih utama daripada mengumrahkan mereka, membacakan al-Qur’an untuk mereka dan shalat untuk mereka, karena tidak mungkin Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- menggantikan yang utama dengan yang tidak utama, bahkan tentunya beliau pasti menjelaskan yang lebih utama dan menerangkan bolehnya yang tidak utama. Dalam hadits tadi beliau menjelaskan yang lebih utama. Adapun tentang bolehnya yang tidak utama, disebutkan dalam hadits Sa’d bin Ubaidillah, yaitu saat ia meminta izin kepada Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam- untuk bersedekah atas nama ibunya, lalu beliau mengizinkan. (HR. Al-Bukhari dalam al-Washaya (2760)).<br />
Juga seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam-, “Wahai Rasulullah, ibuku meninggal tiba-tiba, dan aku lihat, seandainya ia sempat bicara, tentu ia akan bersedekah. Bolehkah aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Boleh.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Jana’iz (1388); Muslim dalam al-Washiyah (1004)).<br />
Yang jelas, saya sarankan kepada anda untuk banyak-banyak mendoakan mereka sebagai pengganti pelaksanaan umrah, sedekah dan sebagainya, karena hal itulah yang ditunjukkan oleh Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam-. Kendati demikian, kami tidak mengingkari bolehnya bersedekah, umrah, shalat atau membaca al-Qur’an atas nama mereka atau salah satunya. Adapun bila mereka memang belum pernah melaksanakan umrah atau haji, ada yang mengatakan bahwa melaksanakan kewajiban atas nama keduanya adalah lebih utama daripada mendoakan. Walllahu a’lam.<br />
Kitab ad-Da’wah, Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/148-149. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq<br />
Do’a dan shodaqoh untuk sesama muslim yang telah meninggal menjadi ladang amal bagi kita yang masih di dunia ini sekaligus tambahan amal bagi yang telah berada di alam sana. Sebagai agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, Islam membimbing kita menyikapi sebuah kematian sesuai dengan hakekatnya yaitu amal shalih, tidak dengan hal-hal duniawi yang tidak berhubungan sama sekali dengan alam sana seperti kuburan yang megah, bekal kubur yang berharga, tangisan yang membahana, maupun pesta besar-besaran. Bila diantara saudara kita menghadapi musibah kematian, hendaklah sanak saudara menjadi penghibur dan penguat kesabaran, sebagaimana Rasulullah saw memerintahkan membuatkan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah tersebut, dalam hadits: “Kirimkanlah makanan oleh kalian kepada keluarga Ja&#8217;far, karena mereka sedang tertimpa masalah yang menyesakkan”.(HR Abu Dawud (Sunan Aby Dawud, 3/195), al-Baihaqy (Sunan al-Kubra, 4/61), al-Daruquthny (Sunan al-Daruquthny, 2/78), al-Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi, 3/323), al- Hakim (al-Mustadrak, 1/527), dan Ibn Majah (Sunan Ibn Majah, 1/514).<br />
Sebagian ulama menyatakan mengirimkan pahala tidak selamanya harus dalam bentuk materi, Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah berpendapat bacaan al- Qur’an dapat sampai sebagaimana puasa, nadzar, haji, dll; sedang Imam Syafi’i dan Imam Nawawi menyatakan bacaan al-Qur’an untuk si mayit tidak sampai karena tidak ada dalil yang memerintahkan hal tersebut, tidak dicontohkan Rasulullah saw dan para shahabat. Berbeda dengan ibadah yang wajib atau sunnah mu’akad seperti shalat, zakat, qurban, sholat jamaah, i’tikaf 10 akhir ramadhan, yang mana ada celaan bagi mereka yang meninggalkannya dalam keadaan mampu. Akan tetapi di masyarakat kita selamatan kematian/tahlilan telah dianggap melebihi kewajiban- kewajiban agama. Orang yang meninggalkannya dianggap lebih tercela daripada orang yang meninggalkan sholat, zakat, atau kewajiban agama yang lain. Sehingga banyak yang akhirnya memaksakan diri karena takut akan sanksi sosial tersebut. Mulai dari berhutang, menjual tanah, ternak atau barang berharga yang dimiliki, meskipun di antara keluarga terdapat anak yatim atau orang lemah. Padahal di dalam al-Qur’an telah jelas terdapat arahan untuk memberikan perlindungan harta anak yatim; tidak memakan harta anak yatim secara dzalim, tetapi menjaga sampai ia dewasa (QS an-Nisa’: 2, 5, 10, QS al- An’am: 152, QS al-Isra’: 34) serta tidak membelanjakannya secara boros (QS an- Nisa’: 6)<br />
Dibalik selamatan kematian tersebut sesungguhnya juga terkandung tipuan yang memperdayakan. Seorang yang tidak beribadah/menunaikan kewajiban agama selama hidupnya, dengan besarnya prosesi selamatan setelah kematiannya akan menganggap sudah cukup amalnya, bahkan untuk menebus kesalahan-kesalahannya. Juga seorang anak yang tidak taat beribadahpun akan menganggap dengan menyelenggarakan selamatan, telah menunaikan kewajibannya berbakti/mendoakan orang tuanya.<br />
Imam Syafi&#8217;i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata: &#8220;&#8230;dan aku membenci al-ma&#8217;tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat.&#8221; (al-Umm (Beirut: Dar al-Ma&#8217;rifah, 1393) juz I, hal 279)<br />
Namun ketika Islam datang ke tanah Jawa ini, menghadapi kuatnya adat istiadat yang telah mengakar. Masuk Islam tapi kehilangan selamatan-selamatan, beratnya seperti masyarakat Romawi disuruh masuk Nasrani tapi kehilangan perayaan kelahiran anak Dewa Matahari 25 Desember. Dalam buku yang ditulis H Machrus Ali, mengutip naskah kuno tentang jawa yang tersimpan di musium Leiden, Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan selamatan tersebut:“Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk bid&#8217;ah”. Sunan Kalijogo menjawab: “Biarlah nanati generasi setelah kita ketika islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”. </p>
<p>Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H. Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini. Dimana Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria (kaum abangan) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum putihan). Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman.</p>
<p>Sunan Ampel berpandangan lain: “Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?” Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada yang menyempurnakannya. (hal 41, 64)<br />
Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926 mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan kematian adalah bid&#8217;ah yang hina namun tidak sampai diharamkan. Namun Nahdliyin generasi berikutnya menganggap pentingnya tahlilan tersebut sejajar (bahkan melebihi) rukun Islam/Ahli Sunnah wal Jama’ah. Sekalipun seseorang telah melakukan kewajiban-kewajiban agama, namun tidak melakukan tahlilan, akan dianggap tercela sekali, bukan termasuk golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Di zaman akhir yang ini dimana keadaan pengikut sunnah seperti orang &#8216;aneh&#8217; asing di negeri sendiri, begitu banyaknya orang Islam yang meninggalkan kewajiban agama tanpa rasa malu, seperti meninggalkan Sholat Jum&#8217;at, puasa Romadhon,dll. Sebaliknya masyarakat begitu antusias melaksanakan tahlilan ini, hanya segelintir orang yang berani meninggalkannya. Bahkan non-muslim pun akan merasa kikuk bila tak melaksanakannya. Padahal para ulama terdahulu senantiasa mengingat dalil-dalil yang menganggap buruk walimah (selamatan) dalam suasana musibah tersebut. Dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali: &#8220;Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)&#8221;. (Musnad Ahmad bin Hambal (Beirut: Dar al-Fikr, 1994) juz II, hal 204 &amp; Sunan Ibnu Majah (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 514)<br />
Dari Thalhah: &#8220;Sahabat Jarir mendatangi sahabat Umar, Umar berkata: Apakah kamu sekalian suka meratapi mayat? Jarir menjawab: Tidak, Umar berkata: Apakah di antara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya? Jarir menjawab: Ya, Umar berkata: Hal itu sama dengan meratap&#8221;. (al-Mashnaf ibn Aby Syaibah (Riyad: Maktabah al-Rasyad, 1409), juz II hal 487) dari Sa&#8217;ied bin Jabir dan dari Khaban al-Bukhtary, kemudian dikeluarkan pula oleh Abd al-Razaq: &#8220;Merupakan perbuatan orang-orang jahiliyyah niyahah , hidangan dari keluarga mayit, dan menginapnya para wanita di rumah keluarga mayit&#8221;. (al-Mashnaf Abd al-Razaq al-Shan&#8217;any (Beirut: al-Maktab al- Islamy, 1403) juz III, hal 550. dikeluarkan pula oleh Ibn Abi Syaibah dengan lafazh berbeda melalui sanad Fudhalah bin Hashien, Abd al-Kariem, Sa&#8217;ied bin Jabbier) Dari Ibn Aby Syaibah al-Kufy: &#8220;Telah berbicara kepadaku Yan&#8217;aqid bin Isa dari Tsabit dari Qais, beliau berkata: saya melihat Umar bin Abdul Aziz melarang keluarga mayit mengadakan perkumpulan, kemudian berkata: kalian akan mendapat bencana dan akan merugi&#8221;.<br />
Dari Ibn Aby Syaibah al-Kufy: &#8220;Telah berbicara kepada kami, Waki&#8217; bin Jarrah dari Sufyan dari Hilal bin Khabab al Bukhtary, beliau berkata: Makanan yang dihidangkan keluarga mayat adalah merupakan bagian dari perbuatan Jahiliyah dan meratap merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah&#8221;.<br />
Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Arsyad al-Banjary dan Syekh Nuruddin ar- Raniry yang merupakan peletak dasar-dasar pesantren di Indonesia pun masih berpegang kuat dalam menganggap buruknya selamatan kematian itu. “Shadaqah untuk mayit, apabila sesuai dengan tuntunan syara&#8217; adalah dianjurkan, namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya, sementara menurut Syaikh Yusuf, telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ke tujuh, atau keduapuluh, atau keempatpuluh, atau keseratus dan sesudahnya hingga dibiasakan tiap tahun dari kematiannya, padahal hal tersebut hukumnya makruh. Demikian pula makruh hukumnya menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul pada malam penguburan mayit (biasa disebut al-wahsyah), bahkan haram hukum hukumnya biayanya berasal dari harta anak yatim”. (an-Nawawy al-Bantani, Nihayah al-Zein fi Irsyad al-Mubtadi&#8217;ien (Beirut: Dar al-Fikr) hal 281).<br />
Pernyataan senada juga diungkapkan Muhammad Arsyad al-Banjary dalam Sabiel al-Muhtadien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 87, serta Nurudin al-Raniry dalam Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 50) Dari majalah al-Mawa&#8217;idz yang diterbitkan oleh NU pada tahun 30-an, menyitir pernyataan Imam al-Khara&#8217;ithy yang dilansir oleh kitab al-Aqrimany disebutkan: &#8220;al-Khara&#8217;ithy mendapat keterangan dari Hilal bin Hibban r.a, beliau berkata: &#8216;Penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari perbuatan orang-orang jahiliyah&#8217;. kebiasaan tersebut oleh masyarakat sekarang sudah dianggap sunnah, dan meninggalkannya berarti bid&#8217;ah, maka telah terbalik suatu urusan dan telah berubah suatu kebiasaan&#8217;. (al-Aqrimany dalam al-Mawa&#8217;idz; Pangrodjong Nahdlatoel &#8216;Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286).<br />
Dan para ulama berkata: &#8220;Tidak pantas orang Islam mengikuti kebiasaan orang Kafir, oleh karena itu setiap orang seharusnya melarang keluarganya dari menghadiri acara semacam itu&#8221;. (al-Aqrimany hal 315 dalam al-Mawa&#8217;idz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285) Al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati dalam kitabnya I&#8217;anah at- Thalibien menghukumi makruh berkumpul bersama di tempat keluarga mayat, walaupun hanya sebatas untuk berbelasungkawa, tanpa dilanjutkan dengan proses perjamuan tahlilan. Beliau justru menganjurkan untuk segera meninggalkan keluarga tersebut, setelah selesai menyampaikan ta&#8217;ziyah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I&#8217;anah at- Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr, 1414) juz II, hal 146)<br />
Ibn Taimiyah ketika menjawab pertanyaan tentang hukum dari al-Ma&#8217;tam: &#8220;Tidak diterima keterangan mengenai perbuatan tersebut apakah itu hadits shahih dari Nabi SAW, tidak pula dari sahabat-sahabatnya, dan tidak ada seorangpun dari imam-imam muslimin serta dari imam madzhab yang empat (Imam Hanafy, Imam Maliki, Imam Syafi&#8217;i, Imam Ahmad) juga dari imam-imam yang lainnya, demikian pula tidak terdapat keterangan dari ahli kitab yang dapat dipakai pegangan, tidak pula dari Nabi, sahabat, tabi&#8217;ien, baik shahih maupun dlaif, serta tidak terdapat baik dalam kitab-kitab shahih, sunan-sunan ataupun musnad-musnad, serta tidak diketahui pula satupun dalam hadits-hadits dari zaman nabi dan sahabat.<br />
&#8221; Menurut pendapat Mufty Makkah al-Musyarafah, Ahmad bin Zainy Dahlan yang dilansir dalam kitab I&#8217;anah at-Thalibien: &#8220;Tidak diragukan lagi bahwa mencegah masyarakat dari perbuatan bid&#8217;ah munkarah tersebut adalah mengandung arti menghidupkan sunnah dan mematikan bid&#8217;ah, sekaligus berarti menbuka banyak pintu kebaikan dan menutup banyak pintu keburukan&#8221;. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I&#8217;anah at-Thalibien juz II, hal 166) Memang seolah-olah terdapat banyak unsur kebaikan dalam tahlilan itu, namun bila dikembalikan ke dalam hukum agama dimana Hadits ke-5 Arba’in an- Nawawiyah disebutkan: “Dari Ummul mukminin, Ummu &#8216;Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu &#8216;anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak&#8221;. (Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718) Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah instrumen untuk menjaga kemurnian Islam ini meskipun sampai akhir zaman Allah tidak mengutus Rasul lagi. Dibalik larangan bid’ah terkandung hikmah yang sangat besar, membentengi perubahan- perubahan dalam agama akibat arus pemikiran dan adat istiadat dari luar Islam. Bila pada umat-umat terdahulu telah menyeleweng agamanya, Allah mengutus Rasul baru, maka pada umat Muhammad ini Allah tidak akan mengutus Rasul lagi sampai kiamat, namun membangkitkan orang yang memperbarui agamanya seiring penyelewengan yang terjadi. Ibadah yang disunnahkan dibandingkan dengan yang diada-adakan hakikatnya sangat berbeda, bagaikan uang/ijazah asli dengan uang/ijazah palsu, meskipun keduanya tampak sejenis. Yang membedakan 72 golongan ahli neraka dengan 1 golongan ahli surga adalah sunnah dan bid’ah. Umat ini tidak berpecahbelah sehebat perpecahan yang diakibatkan oleh bid’ah. Perpecahan umat akibat perjudian, pencurian, pornografi, dan kemaksiatan lain akan menjadi jelas siapa yang berada di pihak Islam dan sebaliknya. Sedang perpecahan akibat bid’ah senantiasa lebih rumit, kedua belah pihak yang bertikai kelihatannya sama-sama alim. Ibn Abbas r.a berkata: &#8220;Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid&#8217;ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid&#8217;ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid&#8217;ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat&#8221;.(al- Aqriman y hal 315 dalam al-Mawa&#8217;idz; Pangrodjong Nahdlatoel &#8216;Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286)<br />
Sehingga disimpulkan oleh Majalah al-Mawa&#8217;idz bahwa mengadakan perjamuan di rumah keluarga mayit berarti telah melanggar tiga hal:<br />
1.	 Membebani keluarga mayit, walaupun tidak meminta untuk menyuguhkan makanan, namun apabila sudah menjadi kebiasaan, maka keluarga mayit akan menjadi malu apabila tidak menyuguhkan makanan.<br />
2.	 Merepotkan keluarga mayit, sudah kehilangan anggota keluarga yang dicintai, ditambah pula bebannya.<br />
3.	Bertolak belakang dengan hadits. Menurut hadits, justeru kita (tetangga) yang harus mengirimkan makanan kepada keluarga mayit yang sedang berduka cita, bukan sebaliknya. (al-Mawa&#8217;idz; Pangrodjong Nahdlatoel &#8216;Oelama Tasikmalaya, hal 200)<br />
Kemudian, berdasarkan keterangan Sayid Bakr di dalam kitab &#8216;Ianah, ternyata para ulama dari empat madzhab telah menyepakati bahwa kebiasaan keluarga mayit mengadakan perjamuan yang biasa disebut dengan istilah nyusur tanah, tiluna, tujuhna, dst merupakan perbuatan bid&#8217;ah yang tidak disukai agama (hal 285). Melalui kutipan-kutipan tersebut, diketahuilah bahwa sebenarnya yang menghukumi bid&#8217;ah munkarah itu ternyata ulama-ulama Ahl as-Sunnah wa al- Jamaah, bukan hanya (majalah) Attobib, al-moemin, al-Mawa&#8217;idz. tidak tau siapa yang menghukumi sunat, apakah Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah atau bukan (hal 286). Dan dapat dipahami dari dalil-dalil terdahulu, bahwa hukum dari menghidangkan makanan oleh keluarga mayit adalah bid&#8217;ah yang dimakruhkan dengan makruh tahrim (makruh yang identik dengan haram). demikian dikarenakan hukum dari niyahah adalah haram, dan apa yang dihubungkan dengan haram, maka hukumnya adalah haram&#8221;. (al-Aqrimany hal 315 dalam al- Mawa&#8217;idz; Pangrodjong Nahdlatoel &#8216;Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286) Kita tidaklah akan lepas dari kesalahan, termasuk kesalahan akibat ketidaktahuan, ketidaksengajaan, maupun ketidakmampuan. Namun jangan sampai kesalahan yang kita lakukan menjadi sebuah kebanggaan. Baik yang menghukumi haram maupun makruh, sebagaimana halnya rokok, tahlilan, dll selayaknya diusahakan untuk ditinggalkan, bukan dibela-bela dan dilestarikan.<br />
BERIKUT INI ADALAH FATWA-FATWA DARI ULAMA EMPAT MADZHAB MENGENAI SELAMATAN KEMATIAN:<br />
I.MADZHAB SYAFI’I:<br />
AL-SYARBINY<br />
Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid&#8217;ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, Mughny al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 386) Adapun kebiasaan keluarga mayit menghidangkan makanan dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid&#8217;ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, al-Iqna&#8217; li al-Syarbiny (Beirut: Dar al-Fikr, 1415) juz I, hal 210)<br />
AL-QALYUBY<br />
Guru kita al-Ramly telah berkata: sesuai dengan apa yang dinyatakan di dalam kitab al-Raudl (an-Nawawy), sesuatu yang merupakan bagian dari perbuatan bid&#8217;ah munkarah yang tidak disukai mengerjakannya adalah yang biasa dilakukan oleh masyarakat berupa menghidangkan makanan untuk mengumpulkan tetangga, baik sebelum maupun sesudah hari kematian.(a l- Qalyuby, Hasyiyah al-Qalyuby (Indonesia: Maktabah Dar Ihya;&#8217;) juz I, hal 353)<br />
AN-NAWAWY<br />
Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit berikut berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut tidak ada dalil naqlinya, dan hal tersebut merupakan perbuatan bid&#8217;ah yang tidak disunnahkan. (an-Nawawy, al-Majmu&#8217; (Beirut: Dar al-Fikr, 1417) juz V, hal 186) IBN HAJAR AL-HAETAMY Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid&#8217;ah munkarah yang dimakruhkan, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (Ibn Hajar al-Haetamy, Tuhfah al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 577)<br />
AL-SAYYID AL-BAKRY ABU BAKR AL-DIMYATI<br />
Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid&#8217;ah yang dimakruhkan, seperti hukum mendatangi undangan tersebut, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I&#8217;anah at-Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 146)<br />
AL-AQRIMANY<br />
Adapun makanan yang dihidangkan oleh keluarga mayit pada hari ketiga, keempat, dan sebagainya, berikut berkumpulnya masyarakat dengan tujuan sebagai pendekatan diri serta persembahan kasih sayang kepada mayit, hukumnya bid&#8217;ah yang buruk dan merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah yang tidak pernah muncul pada abad pertama Islam, serta bukan merupakan bagian dari pekerjaan yang mendapat pujian oleh para ulama. justeru para ulama berkata: tidak pantas bagi orang muslim mengikuti perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang kafir. seharusnya setiap orang melarang keluarganya menghadiri acara-acara tersebut. ((al-Aqrimany hal 314 dalam al-Mawa&#8217;idz; Pangrodjong Nahdlatoel &#8216;Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285)<br />
RAUDLAH AL-THALIBIEN<br />
Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan pengumpulan masyarakat terhadap acara tersebut, tidak ada dalil naqlinya, bahkan perbuatan tersebut hukumnya bid&#8217;ah yang tidak disunnahkan. (Raudlah al-Thalibien (Beirut: al- Maktab al-Islamy, 1405) juz II, hal 145)<br />
II. MADZHAB HAMBALI:<br />
IBN QUDAMAH AL-MUQADDASY<br />
Adapun penghidangan makanan untuk orang-orang yang dilakukan oleh keluarga mayit, hukumnya makruh. karena dengan demikian berarti telah menambahkan musibah kepada keluarga mayit, serta menambah beban, sekaligus berarti telah menyerupai apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. dan diriwayatkan bahwa Jarir mengunjungi Umar, kemudian Umar berkata: &#8220;Apakah kalian suka berkumpul bersama keluarga mayat yang kemudian menghidangkan makanan?&#8221; Jawab Jarir: &#8220;Ya&#8221;. Berkata Umar: &#8220;Hal tersebut termasuk meratapi mayat&#8221;. Namun apabila hal tersebut dibutuhkan, maka diperbolehkan, seperti karena diantara pelayat terdapat orang-orang yang jauh tempatnya kemudian ikut menginap, sementara tidak memungkinkan mendapat makanan kecuali dari hidangan yang diberikan dari keluarga mayit. (Ibn Qudamah al-Muqaddasy, al-Mughny (Beirut: Dar al-Fikr, 1405) juz II, hal 214) </p>
<p>ABU ABDULLAH IBN MUFLAH AL-MUQADDASY<br />
Sesungguhnya disunahkan mengirimkan makanan apabila tujuannya untuk (menyantuni) keluarga mayit, tetapi apabila makanan tersebut ditujukan bagi orang-orang yang sedang berkumpul di sana, maka hukumnya makruh, karena berarti telah membantu terhadap perbuatan makruh; demikian pula makruh hukumnya apabila makanan tersebut dihidangkan oleh keluarga mayit) kecuali apabila ada hajat, tambah sang guru [Ibn Qudamah] dan ulama lainnya).(A bu Abdullah ibn Muflah al-Muqaddasy, al-Furu&#8217; wa Tashhih al-Furu&#8217; (Beirut: Dar al-Kutab, 1418) juz II, hal 230-231)<br />
ABU ISHAQ BIN MAFLAH AL-HANBALY<br />
Menghidangkan makanan setelah proses penguburan merupakan bagian dari niyahah, menurut sebagian pendapat haram, kecuali apabila ada hajat, (tambahan dari al-Mughny). Sanad hadits tentang masalah tersebut tsiqat (terpercaya). (Abu Ishaq bin Maflah al-Hanbaly, al-Mabda&#8217; fi Syarh al-Miqna&#8217; (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1400) juz II, hal 283)<br />
MANSHUR BIN IDRIS AL-BAHUTY<br />
Dan dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk menghidangkan makanan kepada para tamu, berdasarkan keterangan riwayat Imam Ahmad dari Shahabat Jarir. (Manshur bin Idris al-Bahuty, al-Raudl al-Marbi&#8217; (Riyadl: Maktabah al-Riyadl al-Hadietsah, 1390) juz I, hal 355)<br />
KASYF AL-QANA&#8217;<br />
Menurut pendapat Imam Ahmad yang disitir oleh al-Marwadzi, perbuatan keluarga mayit yang menghidangkan makanan merupakan kebiasaan orang jahiliyah, dan beliau sangat mengingkarinya&#8230;dan dimakruhkan keluarga mayit menghidangkan makanan (bagi orang-orang yang sedang berkumpul di rumahnya kecuali apabila ada hajat, seperti karena di antara para tamu tersebut terdapat orang-orang yang tempat tinggalnya jauh, mereka menginap di tempat keluarga mayit, serta secara adat tidak memungkinkan kecuali orang tersebut diberi makan), demikian pula dimakruhkan mencicipi makanan tersebut. Apabila biaya hidangan makanan tersebut berasal dari peninggalan mayit, sedang di antara ahli warisnya terdapat orang (lemah) yang berada di bawah pengampuan, atau terdapat ahli waris yang tidak memberi izin, maka haram hukumnya melakukan penghidangan tersebut. (Kasyf al-Qina&#8217; (Beirut: Dar al-Fikr, 1402) juz II, hal 149)<br />
IBN TAIMIYAH<br />
Adapun penghidangan makanan yang dilakukan keluarga mayit (dengan tujuan) mengundang manusia ke acara tersebut, maka sesungguhnya perbuatan tersebut bid&#8217;ah, berdasarkan perkataan Jarir bin Abdillah: &#8220;Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah&#8221;. (Ibn Taimiyah, Kutub wa Rasail wa Fatawa Ibn Taimiyah fi al-Fiqh (Maktabah Ibn Taimiyah) juz 24, hal 316)<br />
III. MADZHAB HANAFI:<br />
HASYIYAH IBN ABIDIEN<br />
Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah, hukumnya buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: &#8220;Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah&#8221;. Dan dalam kitab al-Bazaziyah dinyatakan bahwa makanan yang dihidangkan pada hari pertama, ketiga, serta seminggu setelah kematian makruh hukumnya. (Muhammad Amin, Hasyiyah Radd al- Muhtar &#8216;ala al-Dar al-Muhtar (Beirut: Dar al-Fikr, 1386) juz II, hal 240)<br />
AL-THAHTHAWY<br />
Hidangan dari keluarga mayit hukumnya makruh, dikatakan dalam kitab al- Bazaziyah bahwa hidangan makanan yang disajikan PADA HARI PERTAMA, KETIGA, SERTA SEMINGGU SETELAH KEMATIAN MAKRUH HUKUMNYa. (Ahmad bin Ismain al-Thahthawy, Hasyiyah &#8216;ala Muraqy al-Falah (Mesir: Maktabah al-Baby al-Halaby, 1318), juz I hal 409).<br />
IBN ABDUL WAHID SIEWASY<br />
Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah. hukumnya bid&#8217;ah yang buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: &#8220;Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah&#8221;. (Ibn Abdul Wahid Siewasy, Syarh Fath al-Qadir (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 142)<br />
 IV.MADZHAB MALIKI:<br />
AL-DASUQY<br />
Adapun berkumpul di dalam rumah keluarga mayit yang menghidangkan makanan hukumnya bid&#8217;ah yang dimakruhkan. (Muhammad al-Dasuqy, Hasyiyah al- Dasuqy &#8216;ala al-Syarh al-Kabir (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 419)<br />
ABU ABDULLAH AL-MAGHRABY<br />
Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut dimakruhkan oleh mayoritas ulama, bahkan mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai bagian dari bid&#8217;ah, karena tidak didapatkannya keterangan naqly mengenai perbuatan tersebut, dan momen tersebut tidak pantas untuk dijadikan walimah (pesta)&#8230; adapun apabila keluarga mayit menyembelih binatang di rumahnya kemudian dibagikan kepada orang- orang fakir sebagai shadaqah untuk mayit diperbolehkan selama hal tersebut tidak menjadikannya riya, ingin terkenal, bangga, serta dengan syarat tidak boleh mengumpulkan masyarakat. (Abu Abdullah al-Maghraby, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil (Beirut: Dar al-Fikr, 1398) juz II, hal 228)</p>
<p>sumber : http://www.facebook.com/#!/pages/Denpasar-Indonesia/Satu-Hari-Satu-Ayat-Quran</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/727/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=727&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/19/penjelasan-lengkap-dari-nahdalatul-ulama-nu-para-ulama-salafus-salih-walisongo-4-mahzab-tentang-bidahnya-tahlilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membuat Sistem Koordinat TM3 (ArchGIS)</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/06/membuat-sistem-koordinat-tm3-archgis/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/06/membuat-sistem-koordinat-tm3-archgis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 01:22:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[hobi dan Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Membuat Sistem Koordinat TM3  Maret 13th, 2010  Sistem Koordinat TM3 biasa digunakan oleh BPN untuk pengukuran tanah. Saya banyak menemui penggunaan sistem koordinat ini di peta-peta kadastral/hgu perkebunan. Perangkat lunak GIS import secara default tidak menyertakan sistem koordinat ini di dalam daftar sistem koordinat yang ada. Meskipun demukian, dengan mengetahui parameter-parameter TM3, kita bisa membuat sistem koordinat TM3 dengan mudah. Berikut adalah salah satu contoh pembuatan sistem koordinat TM3 di perangkat lunak ArcGIS.   Perbedaan/Persamaan TM3 dan UTM adalah  TM3 memiliki lebar zona 3 Derajat, sedangkan di UTM satu zona memiliki lebar 6 Derajat. Satu Zona UTM dibagi menjadi dua zona TM3. MisalnyaUTM  Zona 50 dibagi menjadi TM3 Zona 50.1 dan TM3 Zona  50.2 Proyeksi TM3 dan UTM sama-sama menggunakan Transverse Mercator False Easting setiap zona di TM3 adalah 200000, sedangkan di UTM adalah 500000 False [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=615&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Permanent Link to Membuat Sistem Koordinat TM3" rel="bookmark" href="http://www.gistutorial.net/software/arcgis9x/membuat-sistem-koordinat-tm3.html">Membuat Sistem Koordinat TM3</a> </p>
<p class="the_time">Maret 13th, 2010 </p>
<p style="text-align:justify;">Sistem Koordinat TM3 biasa digunakan oleh BPN untuk pengukuran tanah. Saya banyak menemui penggunaan sistem koordinat ini di peta-peta kadastral/hgu perkebunan. Perangkat lunak GIS import secara default tidak menyertakan sistem koordinat ini di dalam daftar sistem koordinat yang ada. Meskipun demukian, dengan mengetahui parameter-parameter TM3, kita bisa membuat sistem koordinat TM3 dengan mudah. Berikut adalah salah satu contoh pembuatan sistem koordinat TM3 di perangkat lunak ArcGIS.<span id="more-576"> </span> </p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan/Persamaan TM3 dan UTM adalah </p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>TM3 memiliki lebar zona 3 Derajat, sedangkan di UTM satu zona memiliki lebar 6 Derajat.</li>
<li>Satu Zona UTM dibagi menjadi dua zona TM3. MisalnyaUTM  Zona 50 dibagi menjadi TM3 Zona 50.1 dan TM3 Zona  50.2</li>
<li>Proyeksi TM3 dan UTM sama-sama menggunakan Transverse Mercator</li>
<li>False Easting setiap zona di TM3 adalah 200000, sedangkan di UTM adalah 500000</li>
<li>False Northing setiap zona di TM3 adalah 1500000, sedangkan di UTM adalah 10000000</li>
<li>Central meridian di TM3 berbeda dengan UTM. Tetapi prinsipnya sama. Zona-zona UTM dibagia dua, meridian di setiap zona yang dibagi dua tersebut otomatis menjadi <em>Central meridian</em></li>
<li>Scale Factor di TM3 adalah 0,9999 sedangkan di UTM adalah 0,9996</li>
<li>Latitude of Origin sama yaitu 0 (nol) derajat</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Parameter TM3 bisa didownload di <a class="liexternal" href="http://www.gistutorial.net/download/TM3_parameter.xls" target="_blank">TM3.xls</a> </p>
<p style="text-align:justify;">Berbekal table parameter TM3 dalam file Excel tersebut di atas, berikutnya kita akan mecoba membuat sistem koordinat TM3 Zona 50.1 (Kalimantan Selatan). Untuk daerah lain silakan gunakan cara yang sama tapi parameter berbeda sesuai dengan file TM3.xls tersebut. </p>
<p style="text-align:justify;">1. Buka Jendela ‘Spatial Reference Properties’. Salah satu caranya adalah dengan Double Klik pada layer (data frame) &gt; Coordinate System </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.gistutorial.net/wp-content/uploads/2010/03/01.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" title="01" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/uploads/2010/03/01.jpg" alt="" width="476" height="558" /></a> </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">2. Klik New &gt; Projected Coordinate System </p>
<p style="text-align:justify;">3. Isi Nama dengan misalnya  TM3 Kalsel </p>
<p style="text-align:justify;">4. Isi Projection Name : Transverse_Mercator dengan cara memlih jendela Drop-Down </p>
<p style="text-align:justify;">5. Isi False Easting dengan 200000 </p>
<p style="text-align:justify;">6. Isi False Northing dengan 1500000 </p>
<p style="text-align:justify;">7. Isi Central Meridian dengan 115.5 (tergantung zona, lihat file TM3.xls) </p>
<p style="text-align:justify;">8. Isi scale factor dengan 0.9999 </p>
<p style="text-align:justify;">9. Isi Latitude of Origin dengan 0 (nol) </p>
<p style="text-align:justify;">10. Pilih Linear Unit Name : Meter </p>
<p style="text-align:justify;">11. Tentukan Geographic Coordinate System yang dijadikan dasar datum. Klik SELECT. Navigasi ke Coordinate Systems &gt; Geographic Coordinate Systems &gt; World &gt; wgs 1984.prj </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="02" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/uploads/2010/03/02.jpg" alt="" width="405" height="557" /> </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">12. Setelah tombol FINISH ditekan, maka akan terbuat satu file TM3 Kalsel di CUSTOM </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Anda menginginkan file Sistem Koordinat yang sudah jadi. Silakan download di <a class="liexternal" href="http://www.gistutorial.net/download/TM3_Zona_50.1.prj" target="_blank">TM3 Zona 50.1.prj</a>. Simpan di direktori C:\Program Files\ArcGIS\Coordinate Systems. Secara otomatis di bawah kategori Predefined anda akan menemukan satu file sistem koordinat. </p>
<p style="text-align:justify;">Pengguna ArcView dapat mendownload file TM3 Zona 50.1.prj. Ekstrak dan beri nama sesuai nama file SHP yang memiliki sistem koorrdinat TM3. Dengan menggunakan ArcView Projection Utility, file SHP tersebut secara otomatis akan memiliki sistem proyeksi TM3 Zona 50.1. Selanjutnya kita bisa mengkonversi ke sistem koordinat yang diinginkan. Jika anda pengguna TM3 Zona lain, silakan lakukan tahapan di atas. Tahapan sama, yang membedakan adalah parameter yang dimasukan. Silakan lihat file TM3.xls. </p>
<div class="sociable">
<div class="sociable_tagline"><strong>Share :</strong></div>
<ul>
<li class="sociablefirst"><a title="Facebook" rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html&amp;t=Membuat%20Sistem%20Koordinat%20TM3" target="_blank"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -343px -1px;height:16px;" title="Facebook" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="Facebook" /></a></li>
<li><a class="external" title="Technorati" rel="nofollow" href="http://technorati.com/faves?add=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html" target="_blank"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -271px -55px;height:16px;" title="Technorati" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="Technorati" /></a></li>
<li><a title="Google Bookmarks" rel="nofollow" href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html&amp;title=Membuat%20Sistem%20Koordinat%20TM3&amp;annotation=Sistem%20Koordinat%20TM3%20biasa%20digunakan%20oleh%20BPN%20untuk%20pengukuran%20tanah.%20Saya%20banyak%20menemui%20penggunaan%20sistem%20koordinat%20ini%20di%20peta-peta%20kadastral%2Fhgu%20perkebunan.%20Perangkat%20lunak%20GIS%20import%20secara%20default%20tidak%20menyertakan%20sistem%20koordinat%20ini%20di%20dalam" target="_blank"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -91px -19px;height:16px;" title="Google Bookmarks" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="Google Bookmarks" /></a></li>
<li><a title="MySpace" rel="nofollow" href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html&amp;t=Membuat%20Sistem%20Koordinat%20TM3" target="_blank"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -145px -37px;height:16px;" title="MySpace" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="MySpace" /></a></li>
<li><a title="del.icio.us" rel="nofollow" href="http://delicious.com/post?url=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html&amp;title=Membuat%20Sistem%20Koordinat%20TM3&amp;notes=Sistem%20Koordinat%20TM3%20biasa%20digunakan%20oleh%20BPN%20untuk%20pengukuran%20tanah.%20Saya%20banyak%20menemui%20penggunaan%20sistem%20koordinat%20ini%20di%20peta-peta%20kadastral%2Fhgu%20perkebunan.%20Perangkat%20lunak%20GIS%20import%20secara%20default%20tidak%20menyertakan%20sistem%20koordinat%20ini%20di%20dalam" target="_blank"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -199px -1px;height:16px;" title="del.icio.us" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="del.icio.us" /></a></li>
<li><a title="Live" rel="nofollow" href="https://favorites.live.com/quickadd.aspx?marklet=1&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html&amp;title=Membuat%20Sistem%20Koordinat%20TM3" target="_blank"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -37px -37px;height:16px;" title="Live" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="Live" /></a></li>
<li><a title="PDF" rel="nofollow" href="http://www.printfriendly.com/print?url=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html&amp;partner=sociable" target="_blank"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -325px -37px;height:16px;" title="PDF" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="PDF" /></a></li>
<li><a title="Digg" rel="nofollow" href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html&amp;title=Membuat%20Sistem%20Koordinat%20TM3&amp;bodytext=Sistem%20Koordinat%20TM3%20biasa%20digunakan%20oleh%20BPN%20untuk%20pengukuran%20tanah.%20Saya%20banyak%20menemui%20penggunaan%20sistem%20koordinat%20ini%20di%20peta-peta%20kadastral%2Fhgu%20perkebunan.%20Perangkat%20lunak%20GIS%20import%20secara%20default%20tidak%20menyertakan%20sistem%20koordinat%20ini%20di%20dalam" target="_blank"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -235px -1px;height:16px;" title="Digg" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="Digg" /></a></li>
<li><a title="Yahoo! Buzz" rel="nofollow" href="http://buzz.yahoo.com/submit/?submitUrl=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html&amp;submitHeadline=Membuat%20Sistem%20Koordinat%20TM3&amp;submitSummary=Sistem%20Koordinat%20TM3%20biasa%20digunakan%20oleh%20BPN%20untuk%20pengukuran%20tanah.%20Saya%20banyak%20menemui%20penggunaan%20sistem%20koordinat%20ini%20di%20peta-peta%20kadastral%2Fhgu%20perkebunan.%20Perangkat%20lunak%20GIS%20import%20secara%20default%20tidak%20menyertakan%20sistem%20koordinat%20ini%20di%20dalam&amp;submitCategory=science&amp;submitAssetType=text" target="_blank"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -127px -73px;height:16px;" title="Yahoo! Buzz" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="Yahoo! Buzz" /></a></li>
<li class="sociablelast"><a title="email" href="mailto:?subject=Membuat%20Sistem%20Koordinat%20TM3&amp;body=http%3A%2F%2Fwww.gistutorial.net%2Fsoftware%2Farcgis9x%2Fmembuat-sistem-koordinat-tm3.html"><img class="sociable-hovers" style="width:16px;background:url('http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.png') no-repeat -325px -1px;height:16px;" title="email" src="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" alt="email" /><br />
</a></li>
</ul>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=615&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/06/membuat-sistem-koordinat-tm3-archgis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/uploads/2010/03/01.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/uploads/2010/03/02.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Facebook</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Technorati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Google Bookmarks</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">MySpace</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">del.icio.us</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Live</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">PDF</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Digg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Yahoo! Buzz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gistutorial.net/wp-content/plugins/sociable/images/services-sprite.gif" medium="image">
			<media:title type="html">email</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mutiara Hadits: Berdzikir dengan Jari Tangan Kanan</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/06/mutiara-hadits-berdzikir-dengan-jari-tangan-kanan/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/06/mutiara-hadits-berdzikir-dengan-jari-tangan-kanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 00:03:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[Mutiara Hadits: Berdzikir dengan Jari Tangan Kanan Mar 21, &#8217;08 7:30 PM for everyone Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengan menggunakan jari-jari tangan: &#8220;Dari Abdullah bin &#8216;Amr radhiyallahu&#8217;anhu, ia berkata: &#8216;Aku melihat Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam menghitung bacaan tasbih (dengan jari-jari) tangan kanannya.&#8217;&#8221; (Hadits Shahih, riwayat Abu Dawud no. 1502, dan at Tirmidzi no. 3486, Shahiih at Tirmidzi III/146 no. 2714, Shahiih Abi Dawud I/280 no. 1330, al Hakim I/547, al Baihaqi II/253). Bahkan Nabi Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam memerintahkan para Sahabat wanita menghitung: Subhanallah, alhamdulillah, dan mensucikan Allah dengan jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari Kiamat). (Hadits hasan, riwayat Abu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=666&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td><a rel="bookmark" href="http://ummuvanessa.multiply.com/journal/item/103/Mutiara_Hadits_Berdzikir_dengan_Jari_Tangan_Kanan">Mutiara Hadits: Berdzikir dengan Jari Tangan Kanan</a></td>
<td>Mar 21, &#8217;08 7:30 PM<br />
for everyone</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengan menggunakan jari-jari tangan:</p>
<p>&#8220;Dari Abdullah bin &#8216;Amr radhiyallahu&#8217;anhu, ia berkata: &#8216;Aku melihat Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam menghitung bacaan tasbih (dengan jari-jari) tangan kanannya.&#8217;&#8221; (Hadits Shahih, riwayat Abu Dawud no. 1502, dan at Tirmidzi no. 3486, Shahiih at Tirmidzi III/146 no. 2714, Shahiih Abi Dawud I/280 no. 1330, al Hakim I/547, al Baihaqi II/253).</p>
<p>Bahkan Nabi Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam memerintahkan para Sahabat wanita menghitung: Subhanallah, alhamdulillah, dan mensucikan Allah dengan jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari Kiamat). (Hadits hasan, riwayat Abu Dawud no. 1501, dan at Tirmidzi. Dihasankan oleh Imam an Nawawi dan Ibnu Hajar al &#8216;Asqalani).</p>
<p>(Dikutip dari: Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Dzikir Pagi dan Petang dan Sesudah Shalat Fardhu, Penerbit Pustaka Imam Asy Syafi&#8217;i, cetakan pertama, Desember 2004 M, hal. 47).</p>
<p>Tidak ada dalil shahih yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu &#8217;alayhi wa Sallam berdzikir menggunakan subhah (kalung biji-bijian).</p>
<p>Di masyarakat kita disebut tasbih karena digunakan untuk bertasbih.</p>
<p>Menurut petunjuk Nabi Shallallahu&#8217; alaihi wa sallam berdzikir itu dihitungnya dengan tangan bukan dengan biji-bijian tasbih. Dan menurut hadist Abdullah bin Amr bahwa Nabi Shallallahu&#8217; alaihi wa sallam menghitungnya dengan tangan kanannya bukan dengan kedua tangannya (kanan &amp; kiri)</p>
<p>Dari itu Muhammad Nashirudin Al Albani rahimahullah mengatakan : &#8220;Bertasbih dengan kedua tangan menyalahi Sunnah!&#8221;<br />
Pantaskan kita berdzikir dengan tangan kiri yang dipergunakan untuk mencuci kotoran?</p>
<p>Detailnya lihat As-Subhah Tarikhuha wa Hukmuha tulisan asy-Syaikh Bakr Abu Zaid hafizhahullah yang telah diterjemahkan di antaranya dengan judul Tasbih Bid&#8217;ah atau Sunnah? (Pustaka Salafiyah, 2004).</p>
<p>Berikut ini tambahan artikel tentang dimakruhkannya penggunaan biji-biji tasbih.</p>
<p>Tulisan ini dikutib dari majalah assunnah, tapi afwan, lupa edisi berapa.</p>
<p>©       <strong>Menggunakan alat tasbih untuk zikir</strong></p>
<p>Menggunakan alat tasbih adalah bid’ah. Menurut sunnah sebagaimana yang selalu Rasulullah saw. lakukan adalah berzikir dengan menggunakan tangan kanannya.</p>
<p>Banyak Atsar sahabat dan tabi’in yang menunjukkan, bahwa mereka mengingkari orang yang menggunakan bijian atau kerikil untuk menghitung dzikirnya. Diantara atsar tersebut adalah :</p>
<p># Atsar Aisyah, yaitu ketika melihat seorang wanita dari Kulaib yang menghitung dzikirnya dengan bijian. Aisyah berkata: Mana jarimu? (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushnaf, no.7657, dalam sanadnya terdapat jahalah (orang yang tidak diketahui))</p>
<p># Atsar Abdullah bin Mas’ud, dari Ibrahim berkata :  Abdullah bin Mas’ud membenci hitungan (dengan tasbih) dan berkata: Apakah mereka menyebut-nyebut kebaikannya di hadapan Allah? (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushnaf, no.7667 dengan sanad yang shahih)</p>
<p># Atsar dari Ash Shalat bin Bahram, berkata : Ibnu Mas’ud melihat seorang wanita yang bertasbih dengan menggunakan subhah, kemudian beliau memotong tasbihnya dan membuangnya. Beliau juga melewati seorang laki-laki yang bertasbih menggunakan kerikil, kemudian memukulnya dengan kakinya dan berkata: Kamu telah mendahului (Rasulullah) dengan melakukan bid’ah yang dzalim, dan kamu lebih tahu dari para sahabatnya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Waddaah Al Qurthubi dalam kitab Al Bida’ Wa An Nahyu ‘Anha, hlm.12 dengan sanad yang shahih. Juga ada inqitha’, karena Ash Shalat tidak pernah mendengar dari Ibnu Mas’ud)</p>
<p># Atsar dari Sayyar Abi Al Hakam, bahwasanya Abdullah bin Mas’ud menceritakan tentang orang-orang Kufah yang bertasbih dengan kerikil di dalam masjid. Kemudian beliau mendatanginya dan menaruh kerikil di kantung mereka, dan mereka dikeluarkan dari masjid. Beliau berkata: Kamu telah melakukan bid’ah yang dzalim dan telah melebihi ilmunya para sahabat Nabi. (Diriwayatkan oleh Ibnu Waddaah Al Qurthubi dalam kitab Al Bida’ Wa An Nahyu ‘Anha, hlm.11 dengan sanad yang shahih. Juga ada inqitha’, karena sayyar tidak pernah mendengar dari Ibnu Mas’ud)</p>
<p># Atsar dari Amru bin Yahya; dia menceritakan pengingkaran Abdullah bin Mas’ud terhadap halaqah di masjid Kufah yang orang-orangnya bertasbih, bertahmid dan bertahlil dengan kerikil. (Riwayat selengkapnya, lihat sunan Ad Darimi, Kitabul Muqaddimah, hadits no.206. Juga disebutkan dalam Tarikh Wasith, Aslam bin Sahl Ar Razzaz Al Wasithi. Syaikh Al Albani menshahihkan sanad hadits ini dalam As Silsilah Ash Shahihah, hadits no.2005)</p>
<p>Adapun yang membawa masuk alat tersebut ke dunia Islam dan yang pertama kali memperkenalkannya ialah kelompok-kelompok <em>thariqat</em> atau <em>tasawuf</em>; disebutkan oleh Sidi Gazalba sebagai hasil kombinasi pemikiran antara Islam dengan Yahudi, Kristen, Manawi, Majusi, Hindu dan Budha serta mistik Pytagoras.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Rasulullah saw dan para sahabatnya tidak pernah menggunakan alat tasbih dalam menghitung dzikirnya; dan ini merupakan sunnah yang harus diikuti. Seandainya menggunakan tasbih merupakan kebaikan, niscaya Rasulullah saw dan para sahabat merupakan yang pertama sekali melakukannya.</p>
<p>Oleh sebab itu, orang yang paham dan berakal tidak akan menyelisihi sunnah Rasulullah saw menghitung dzikir dengan jari tangannya, menggantinya dengan hal-hal yang bid’ah, yaitu menghitung dzikir dengan tasbih atau alat penghitung lainnya. Inilah yang disepakati oleh seluruh ulama pengikut madzhab, seperti yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.</p>
<p>Alangkah indahnya pesan Imam Asy Syafi’i: Kami akan mengikuti sunnah Rasulullah saw baik dalam melakukan suatu ibadah atau dalam meninggalkannya.’ Abdullah bin Umar menambahkan: Semua bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya baik.</p>
<p>Allahu a’lam</p>
<p>Semoga Allah Tabaraka Wa Ta&#8217;ala menambahkan kepada kita semua ilmu yg haq dan memudahkannya untuk memahaminya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/666/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=666&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/06/mutiara-hadits-berdzikir-dengan-jari-tangan-kanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Hadits ttg Sholat (1)</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/05/kumpulan-hadits-ttg-sholat-1/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/05/kumpulan-hadits-ttg-sholat-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 02:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[Shahih Bukhari &#124; No. 6928 KITAB TENTANG BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR&#8217;AN DAN HADITS         DOSA ORANG YANG MEMBERI PERLINDUNGAN SESEORANG YANG BERBUAT BID&#8217;AH.           Dari Ashim, dia berkata: &#8220;Aku pernah bertanya kepada Anas: Apakah Rasulullah saw mengharamkan kota Madinah ini?&#8221;. Anas menjawab: &#8220;Ya, yaitu antara daerah ini sampai dengan daerah ini. Tidak boleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=709&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Shahih Bukhari | No. 6928</h1>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB TENTANG BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR&#8217;AN DAN HADITS</strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong><strong>DOSA ORANG YANG MEMBERI PERLINDUNGAN SESEORANG YANG BERBUAT BID&#8217;AH.</strong> </p>
<p><strong> </strong> </p>
<div><strong><img src="srchadits/shbk6928.gif" alt="" width="600" /></strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </strong> </p>
<p><strong></strong><strong> </strong><strong>Dari Ashim, dia berkata: &#8220;Aku pernah bertanya kepada Anas: Apakah Rasulullah saw mengharamkan kota Madinah ini?&#8221;. Anas menjawab: &#8220;Ya, yaitu antara daerah ini sampai dengan daerah ini. Tidak boleh ditebang pepohonannya. Barang siapa menciptakan sesuatu yang model-model (bid&#8217;ah) di daerah itu maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya&#8221;. Lebih lanjut Ashim berkata: &#8220;Musa bin Anas penah meriwayatkan kepadaku bahwa beliau pernah bersabda:�Atau orang yang melindungi kepada seseorang yang berbuat model�model (bid&#8217;ah)&#8221;.</strong> </p>
<div class="search-body">
<div class="search-body-top">
<h1>Shahih Bukhari | No. 1786</h1>
</div>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB HAJI</strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong><strong>KESUCIAN KOTA MADINAH</strong> </p>
<p><strong> </strong> </p>
<div><strong><img src="srchadits/shbk1786.gif" alt="" width="600" /></strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </strong> </p>
<p><strong></strong><strong> </strong><strong>Dari Ali ra., ia berkata: &#8220;Di sisi kami tidak ada sesuatu selain kitab Allah ta&#8217;ala. Dan lembaran ini dari Nabi saw. Madinah itu tanah haram di antara sekitarnya sampai ini. Barang siapa yang membuat bid&#8217;ah dengan suatu bid&#8217;ah atau melindungi orang yang berbuat bid&#8217;ah di sana maka atasnya la&#8217;nat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya, tidak diterima taubat dari fidyah dari padanya. Barangsiapa yang mengkhiyanati seorang muslim maka atasnya la&#8217;nat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya, tidak diterima taubat dan fidyah dari padanya. Dan barangsiapa yang mengambil perwalian terhadap suatu kaum tanpa izin maulanya maka atasnya la&#8217;nat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya, maka tidak diterima taubat dan fidyah dari padanya.&#8221;</strong> </p>
<h1>Shahih Bukhari | No. 385</h1>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB SHALAT</strong><strong> </strong> </p>
<p>KEUTAMAAN SHOLAT MENGHADAP KIBLAT DENGAN JARI-JARI KAKI LURUS MENGHADAP KEPADANYA </p>
<p><strong> </strong><strong><img src="srchadits/shbk385.gif" alt="" width="600" /><br />
</strong> </p>
<p><strong> </strong><strong>Dari Anas bin Malik ra, ia berkata : Rasullullah saw, bersabda: &#8220;Barangsiapa yang sholat seperti sholat kita, berkiblat pada kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka ia adalah orang muslim yang mempunyai jaminan dari Allah dan Rasulnya, dan janganlah kamu merusak jaminan Allah.&#8221;</strong> </p>
<h1>Shahih Bukhari | No. 6338</h1>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB SUMPAH DAN NADZAR</strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong><strong>APABILA SESEORANG MELANGGAR SUMPAH KARENA LUPA DAN FIRMAN ALLAH: &#8220;DAN TIDAK ADA DOSA ATASMU TERHADAP APA YANG KAMU KHILAF PADANYA&#8221; (AL AHZAB: 5)</strong> </p>
<p><strong> </strong><strong><img src="srchadits/shbk6338.gif" alt="" width="600" /><br />
</strong> </p>
<p><strong> </strong><strong>Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya seorang lelaki masuk ke masjid melakukan sholat sedangkan Rasulullah saw. berada di sekitar masjid itu. Lantas lelaki itu datang mengucapkan salam kepadanya, lalu beliau bersabda: &#8220;Kembalilah dan sholatlah maka sesungguhnya kamu tidaklah sholat&#8221;. Maka lelaki itu kembali lalu mengerjakan sholat. Kemudian menyampaikan salam. Rasulullah berkata. &#8220;Kamu harus kembali, maka sholatlah, karena sesungguhnya kamu belum melakukan sholat&#8221;. Nabi mengatakan (ini) pada yang ketiga. Maka ajarilah aku. Nabi bersabda: &#8220;Apabila kamu mengerjakan sholat, maka sempurnakan wudlumu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bacalah takbir dan bacalah apa yang kamu anggap gampang dari Al Qur&#8217;an, kemudian rukuklah sehingga engkau benar-benar tenang dalam rukukmu. Kemudian angkat�lah kepalamu sehingga kamu berdiri tegak. Kemudian sujudlah sehingga kamu tenang sebentar dalam sujudmu. Kemudian angkatlah sehingga kamu tegak dan tenang dalam dudukmu. Kemudian bersujudlah sehingga engkau tenang sebentar dalam sujudmu. Kemudian angkatlah sehingga kamu berdiri tegak, kemudian Iakukanlah itu dalam semua sholatmu&#8221;.</strong> </p>
<div class="search-body">
<div class="search-body-top">
<h1>Shahih Bukhari | No. 756</h1>
</div>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB ADZAN</strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong><strong>MENYEMPURNAKAN TAKBIR DALAM SUJUD</strong> </p>
<p><strong> </strong> </p>
<div><strong><img src="srchadits/shbk756.gif" alt="" width="600" /></strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </strong> </p>
<p><strong></strong><strong> </strong><strong>Dari Mutharrif bin Abdullah, ia berkata:&#8221;Saya pernah shalat di belakang Ali bin Abu Thalib ra sebagai makmum, jangan Imran bin Husain. Ali itu apabila sujud mengucapkan takbir dan apabila mengangkat kepalanya juga bertakbir, begitu juga apabila bergerak untuk berdiri dari dua raka&#8217;at ia bertakbir. Setelah selesai shalat Imran mengambil tanganku dan berkata:&#8221;( Ali ) ini membuatku ingat shalat Muhammad saw.&#8221; Atau dia mengatakan:&#8221; Dia mengimami kita shalat seperti shalat Muhammad saw.&#8221;</strong> </p>
<h1>Shahih Bukhari | No. 758</h1>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB ADZAN</strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong><strong>BERTAKBIR APABILA BERDIRI DARI SUJUD</strong> </p>
<p><strong> </strong> </p>
<div><strong><img src="srchadits/shbk758.gif" alt="" width="600" /></strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </strong> </p>
<p><strong> </p>
<p></strong></p>
<h1>Shahih Bukhari | No. 380</h1>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB SHALAT</strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong><strong>SHOLAT DENGAN MENGENAKAN SANDAL</strong> </p>
<p><strong> </strong> </p>
<div><strong><img src="srchadits/shbk380.gif" alt="" width="600" /></strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </strong> </p>
<p><strong></strong><strong> </strong><strong>Dari Abu Muslimah Sa&#8217;id bin Yazid Al Azdiy, ia berkata: Saya bertanya Anas bin Malik : &#8221; Apakah Nabi saw, Shalat pada kedua sandal beliau ?&#8221; ia menjawab: &#8221; Ya &#8220;</strong> </p>
<h1>Shahih Bukhari | No. 375</h1>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB SHALAT</strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong><strong>SHOLAT DIATAS KAIN PENUTUP KEPALA</strong> </p>
<p><strong> </strong> </p>
<div><strong><img src="srchadits/shbk375.gif" alt="" width="600" /></strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </strong> </p>
<p><strong></strong><strong> </strong><strong>Dari Maimunah, ia berkata: &#8220;Nabi saw pernah sholat diatas kain penutup kepala.&#8221;</strong> </p>
<h1>Shahih Bukhari | No. 368</h1>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB SHALAT</strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong><strong>APABILA SESEORANG SHOLAT DENGAN PAKAIAN YANG BERGAMBAR SALIB ATAU FOTO-FOTO, APAKAH SHOLATNYA BATAL? DAN APA YANG DILARANG DARIPADANYA?</strong> </p>
<p><strong> </strong> </p>
<div><strong><img src="srchadits/shbk368.gif" alt="" width="600" /></strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </strong> </p>
<p><strong></strong><strong> </strong><strong>Dari Anas ra., ia berkata: Tirai Aisyah ra. Menutupi seluruh rumahnya, lalu nabi saw. Berkata: &#8220;Hilangkanlah daripadaku tiraimu ini, karena gambar-gambarnya itu menimpaku (menggangu) terhadap sholatku&#8221;.</strong> </p>
<h1>Shahih Bukhari | No. 378</h1>
<div class="search-body-middle">
<p><strong>KITAB SHALAT</strong><strong> </strong> </p>
<p><strong> </strong><strong> </strong><strong> </strong><strong> </strong><strong>SHOLAT DIATAS HAMPARAN ( TEMPAT TIDUR )</strong> </p>
<p><strong> </strong><strong><img src="srchadits/shbk378.gif" alt="" width="600" /><br />
</strong><strong> </strong><strong>Dari Urwah bahwasannya Nabi saw sholat sedangkan Aisyah tidur melintang antara beliau dan kiblat ditempat tidur mereka berdua.&#8221;</strong> </p>
<p><strong>Kumpulan Hadits ttg Sifat Sholat Nabi.</strong> </p>
<p><strong> </strong><strong>Dari Ikrimah, ia berkata:&#8221;Saya shalat di belakang seorang Syaikh di Makkah dan dia mengucapakan dua puluh dua takbir (ketika shalat). Aku lalu mengatakan hal itu kepada Ibnu Abbas bahwa dia (Syaikh) adalah tolol. Ibnu Abbas berkata:&#8221;Kehilangan kamu ibumu. Orang tua itu telah mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan oleh Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad saw).&#8221;</strong> </p>
<p>Dalam hadits riwayat Bukhari dan Ahmad, Rasulullah SAW berdiri di dekat pembatas. Jarak antara beliau dan pembatas sekitar 3 hasta. Menurut Bukhari dan Muslim, jarak antara tempat sujudnya dan tembok cukup untuk dilalui seekor kambing. </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Janganlah engkau sholat kecuali dengan pembatas, dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di depanmu dikala sholat. Jika dia memaksakan </p>
<p>kehendaknya lewat di depanmu, bunuhlah dia karena sesungguhnya ia bersama dengan setan.” </p>
<p>(HR. Ibnu Khuzimah); dan juga ”Jika seseorang dari kalian melakukkan sholat pada pembatas </p>
<p>hendaknya mendekatkan pada batas itu sehingga setan tidak dapat memutus sholatnya.” (HR Abu </p>
<p>Daud, Bazzar dan Hakim). </p>
<p>Apabila Beliau sholat di tempat terbuka, tidak ada sesuatu sebagai pembatas (didepan tempat sholat), maka beliau menancapkan tombak didepannya. Lalu beliau melakukan sholat menghadap pembatas itu, sedangkan orang-orang bermakmum dibelakangnya. Hal ini sebagaimana dikatakan Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah. Beliau bersabda, ”Apabila seseorang diantara kalian </p>
<p>meletakkan tiang sepanjang pelana di depannya, maka sholatlah menghadapnya dan hendaknya </p>
<p>tidak menghiraukan orang yang lewat dibelakang tiang itu.” (HR Muslim dan Abu Daud). </p>
<p>Ibnu Khuzimah, Thabrani dan Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan sesuatu yang melewati antara dirinya dan pembatasnya. Pernah Beliau SAW sholat lalu lewat didepannya seekor kambing. Maka Rasulullah SAW mendahuluinya maju kedepan sampai perutnya menempel di dinding (sehingga kambing itu melewati belakang Beliau). </p>
<p>Suatu ketika Rasulullah SAW sholat wajib, Beliau SAW menggenggam tangannya. Usai sholat </p>
<p>mereka bertanya “Wahai Rasulullah, adakah sesuatu yang baru dalam sholat?” Beliau menjawab </p>
<p>“Tidak, hanya saja setan hendak lewat di depanku. Lalu aku cekik sampai lidahnya terasa dingin di tanganku. Demi Alloh, seandainya saudaraku, Nabi Sulaiman tidak mendahuluiku, maka aku akan ikat setan itu pada sebuah tiang masjid sehingga dapat dilihat anak-anak kecil penduduk Madinah.” (HR Ahmad, Daruquthni dan Thabrani). </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Apabila seseorang melakukkan sholat menghadap sesuatu sebagai </p>
<p>pembatas dari orang lain, maka apabila seseorang melampaui batas didepannya itu maka hendaknya mendorong sekuatnya atau semampunya (dalam riwayat lain disebutkan : hendaknya menghalanginya dua kali). Jika ia tetap menerobos maka bunuhlah ia. Sesungguhnya dia adalah setan.” (HR Bukhari dan Muslim); juga Beliau bersabda ”Apabila orang yang lewat di depan orang yang sholat itu mengetahui dosanya, niscaya dia akan lebih baik berdiri 40 (empat puluh) tahun daripada berlalu didepan orang yang sholat.” (HR Bukhari dan Muslim). </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Sholat seseorang menjadi putus apabila tidak dibatasi dengan </p>
<p>semacam pelana didepannya lalu dilewati oleh wanita haid (balig), keledai dan anjing hitam” </p>
<p>7 Dari 26 </p>
<p>Abu Dzar berkata ”Wahai Rasulullah, apakah bedanya anjing hitam dan anjing berwarna </p>
<p>merah?” Beliau menjawab ”Anjing hitam adalah setan.” (HR Muslim, Abu Daud &amp; Khuzaimah). </p>
<p>Rasulullah SAW melarang orang melakukan sholat menghadap kubur dengan sabdanya </p>
<p>”Janganlah kalian sholat menghadap kubur dan janganlah duduk diatasnya.” (HR Muslim, Abu </p>
<p>Daud &amp; Ibnu Khuzimah). </p>
<p>C. Niat2 </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung dari niatnya, dan </p>
<p>sesungguhnya setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya (HR Bukhari &amp; Muslim) </p>
<p>D. Takbir </p>
<p>Dalam hadits riwayat Muslim dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa Rasulullah SAW membuka sholatnya dengan ucapan Allohu Akbar (Alloh Mahabesar). Beliaupun memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar dalam sholatnya, sebagaimana sabda Beliau SAW ”Tidaklah sholat </p>
<p>seseorang itu menjadi sempurna sampai ia berwudhu dengan benar, lalu berkata Allohu </p>
<p>Akbar”(HR Thabrani) </p>
<p>Beliau SAW juga bersabda ”Kunci sholat adalah suci, tahrimnya3 pengharamannya adalah takbir </p>
<p>dan thalilnya4, penghalalannya adalah salam.” (HR Abu Daud, Tirmidzi &amp; Hakim). </p>
<p>Dalam hadits riwayat Ahmad dan Hakim disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengangkat suaranya dalam takbir sehingga terdengar oleh orang-orang yang makmum dibelakangnya. Rasulullah SAW bersabda ”Apabila imam mengucapkan Allohu Akbar, maka katakanlah Allohu </p>
<p>Akbar” (HR Ahmad dan Baihaqi). </p>
<p>E. Mengangkat Tangan </p>
<p>Terkadang Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan takbir5, dan terkadang mengangkatnya setelah takbir6, dan terkadang (mengangkat tangan) setelah ucapan takbir7. </p>
<p>Beliau SAW mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka rapat (tidak renggang dan tidak menggenggam)8. Dan Rasulullah SAW mengangkatnya sampai sejajar dengan kedua bahunya dan terkadang sampai kedua telinganya9. </p>
<p>F. Meletakkan Tangan Kanan Diatas Tangan Kiri (Bersedekap) </p>
<p>Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya10. Beliau SAW bersabda </p>
<p>”Sesungguhnya para Nabi memerintahkan kepada kita agar mempercepat saat berbuka dan mengakhirkan waktu sahur dan agar meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri kita dalam sholat.” (HR Ibnu Hibban dan Dhiya). </p>
<p>2 Dalam kitab Raudhatu ath-Thalibin (1/224 cet. Al-Maktab al-Islami) Nawawi berkata, “Niat adalah maksud. Seseorang </p>
<p>yang akan melakukan sholat tertentu dalam hatinya telah terdetik maksud sholat yang akan dilakukannya seperti sholat </p>
<p>Dzuhur, sholat fardhu, dan lainnya. Kemudian maksud ini dinyatakan bersamaan dengan awal takbir.” </p>
<p>3 Yaitu melarang perbuatan-perbuatan yang dilarang Alloh. </p>
<p>4 Yaitu menghalalankan apa saja yang dilakukan diluar sholat. </p>
<p>5 HR Bukhari &amp; Abu Daud. </p>
<p>6 HR Bukhari &amp; Nasa’i </p>
<p>7 HR Bukhari &amp; Nasa’i </p>
<p>8 HR Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, Tamam &amp; Hakim dan disahkan olehnya serta disetujui oleh Dzahabi. </p>
<p>9 HR Bukhari &amp; Abu Daud </p>
<p>10 HR Muslim dan Abu Daud dan telah ditakhrij dalam Irwa’ (352). </p>
<p>8 Dari 26 </p>
<p>G. Meletakkan Kedua Tangan (Bersedekap) di Dada </p>
<p>Nabi SAW meletakkan tangan kanan diatas punggung tangan kirinya, pergelangan dan lengan11, dan memerintahkan demikain kepada sahabat-sahabatnya12. Terkadang Beliau SAW mengenggam lengan kirinya dengan jari-jari tangan kanannya13. Beliau SAW meletakkan keduanya diatas dada14. </p>
<p>H. Khusyu dan Memandang Tempat Sujud </p>
<p>Dalam hadits riwayat Baihaqi dan Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW dalam sholat menundukkan kepalanya dan pandangannya tertuju ke tanah. Rasulullah melarang mengangkat pandangannya ke langit sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud. Larangan itu dipertegas dengan sabdanya ”Hendaknya orang-orang menghentikan mengarahkan </p>
<p>pandangannnya ke langit pada waktu sholat atau tidak dapat kembali lagi kepada mereka(d al am </p>
<p>riwayat lain disebutkan : atau mata-mata mereka tercolok)”. (HR Bukhari, Muslim &amp; Siraj). </p>
<p>Dalam hadits lain disebutkan ”Apabila kalian melakukan sholat maka hendaknya janganlah </p>
<p>menolah-noleh karena Alloh akan menghadapkan wajahNya kepada wajah hambanya ketika </p>
<p>sholat selama ia tidak menolah-noleh.” (HR Tirmidzi dan Hakim) </p>
<p>Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Ya’la disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang 3 perkara dalam sholat. Yaitu sholat dengan cepat seperti ayam yang mematuk, duduk diatas tumit seperti duduknya anjing, dan menolah-noleh seperti musang. Beliau SAW juga bersabda ”Sholatlah seperti halnya sholat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau </p>
<p>melihat Alloh. Jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Thabrani, </p>
<p>Ibnu Majah &amp; Ahmad). </p>
<p>Beliau telah sholat dengan baju yang terbuat dari wol yang bergambar, lalu Rasulullah SAW </p>
<p>melihat sepintas gambar-gambar itu. Usai sholat Beliau SAW bersabda ”Bawalah bajuku ini </p>
<p>kepada Abu Jahm dan bawalah kepadaku kain yang kasar Abu Jahm. Karena bajuku ini telah mengalihkan perhatian sholatku tadi. (dalam riwayat lain dikatakan : Sesungguhnnya aku telah melihat gambarnya saat sholat dan hampir saja aku tergoda).” (HR Bukhari, Muslim &amp; Malik). </p>
<p>Aisyah mempunyai kain bergambar untuk tirai, Rasulullah SAW sholat menghadapnya. Lalu </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Jauhkanlah kain itu, sesungguhnya gambarnya mengganggu </p>
<p>sholatku.” (HR Bukhari &amp; Muslim). </p>
<p>Beliau SAW bersabda ”Tidak sempurna sholatnya orang yang telah terhidang makannya, serta </p>
<p>ketika menahan keluarnya angin dan buang air.” (HR Bukhari &amp; Muslim). </p>
<p>DO’A DAN BACAAN DALAM SHOLAT </p>
<p>A. Doa-Doa Pembuka </p>
<p>Rasulullah SAW membuka bacaan dengan doa-doa yang banyak dan bermacam-macam. Beliau </p>
<p>SAW memuji Alloh, mengagungkanNya dan menyanjungNya. Rasulullah telah memerintahkan </p>
<p>11 HR Abu Daud, Nasa’I dan Ibnu Khuzimah dengan sanad yang benar dan disahkan oleh Ibnu Hibban. </p>
<p>12 HR Malik, Bukhari dan Abu ‘Uwanah. </p>
<p>13 HR Nasa’I dan Daruquthni dengan sanadnya yang sahih. </p>
<p>14 HR Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah. </p>
<p>9 Dari 26 </p>
<p>demikian bagi yang tidak benar sholatnya. Beliau bersabda ”Tidak sempurn sholat seseorang </p>
<p>sehingga ia bertakbir, bertahmid dan menyanjungNya serta membaca ayat-ayat al-Qur’an yang </p>
<p>dihapal.” (HR Bukhari dan Muslim). </p>
<p>Dalam bacaan pembukaan, terkadang Beliau SAW membaca doa sebagai berikut : </p>
<p>1. Allohumma baa’id baini wa baina khothoyaya&#8230;&#8230; dan seterusnya. </p>
<p>2. Wajjahtu wajhiya lilladzi fathorossamawaati wal ardh.. &#8230;.. dan seterusnya. </p>
<p>3. Subhaanaka Allohumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wadduka walaa ilaha ghoiruka, yang artinya ”Mahasuci Engkau ya Alloh, Maha Terpuji Engkau, Mahamulia Engkau serta Mahatinggi kehormatanMu dan tiada tuhan selain Engkau (HR Ibnu Mundih dan Nasa’i) </p>
<p>4. Dan lain-lain. </p>
<p>B. Tata Cara Bacaan Dalam Sholat </p>
<p>1. Membaca Ta’awwudz. </p>
<p>Kemudian Rasulullah SAW membaca ta’awwudz dengan mengucapkan” A’ udzubillahi </p>
<p>minasyaithonirrojim min hamazihi wanafkhihi wanafatsihi” (Aku berlindung kepada Alloh dari </p>
<p>godaan setan yang terkutuk dari semburannya, kesombongannya, dan embusannya) (HR Abu </p>
<p>Daud, Ibnu Majah, Daruquthni &amp; Hakim). </p>
<p>Terkadang Beliau SAW menambahinya dengan ”A’udzubillahis-samii’il’alim minasy- </p>
<p>syaithoonirrojim” (Aku berlindung kepada Alloh Yang Mahamendengan lagi Mahamengetahui </p>
<p>dari godaan setan yang terkutuk) (HR Abu Daud, Tirmidzi &amp; Ahmad). </p>
<p>Setelah itu Beliau SAW membaca ”Bismillahir-rahman-nirrahim” (Dengan nama Alloh Yang </p>
<p>Mahapengasih dan Mahapenyayang) (dengan tanpa mengangkat/mengeraskan suara). (HR </p>
<p>Bukhari, Muslim &amp; Ahmad) </p>
<p>2. Membaca Surat al-Faatihah, Ayat per Ayat </p>
<p>Kemudian Rasulullah SAW membaca surat al-Faatihah dengan memotong setiap ayat : </p>
<p>a. Bismillaahir-rahmanir-rahim. </p>
<p>b. Alhamdulillaahirab-bil’aalamiin. </p>
<p>c. Sampai dengan akhir ayat. </p>
<p>Demikian Rasulullah SAW membaca al-Fatihah sampai akhir surah. Beliau SAWtid ak </p>
<p>menyambung ayat dengan ayat berikutnya. Demikian yang diriwayatkan Abu Daud dan </p>
<p>Sahmi. </p>
<p>3. Membaca al-Faatihah Sebagi Rukun Dan Keutamaannya </p>
<p>Beliau selalu mengagunggkan surat ini dengan sabdanya ”Tidak sah sholat seseorang apabila </p>
<p>belum membaca surah al-Faatihah (dan seterusnya). (HR Bukhari, Muslim dan Baihaqi) </p>
<p>4. Mengeraskan Bacaan Bagi Makmum </p>
<p>Sebelumnya Rasulullah SAW membolehkan makmum membaca al-Fatihah dengan keras. Akan tetapi pada suatu sholat Subuh Beliau SAW merasa terganggu oleh bacaan seorang makmum. Setelah selesei sholat Beliau SAW bersabda ”Apakah kalian tadi ikut membaca bacaan </p>
<p>imam?” Mereka menjawab “Benar, akan tetapi dengan cepat wahai Rasulullah” Rasulullah </p>
<p>10 Dari 26 </p>
<p>berkata “Janganlah kalian lakukan kecuali kalian membaca al-Fatihah. Sesungguhnya tidak </p>
<p>sah sholat seseorang kecuali membacanya.” (HR Bukhari, Abu Daud &amp; Ahmad). </p>
<p>Tetapi kemudian membaca cara ini dilarang oleh Nabi SAW. Yaitu ketika Rasulullah SAW kembali dari sholatjah r (sholat yang dibolehkan membaca al-Qur’an dengan keras). Dalam sebuah riwayat dikatakan pertisiwa itu terjadi pada sholat Subuh. Beliau bersabda ”Adakah tadi </p>
<p>kalian mengikutiku membaca al-Qur’an dengan suara keras?” Seseorang menjawab ”Aku wahai Rasulullah” Nabi SAW berkata ”Kenapa ada yang membaca demikian sehingga mengganggu bacaanku?” Abu Hurairah berkata ”Maka para sahabatberhenti membaca al- Qur’an dengan keras dalam sholat dimana Rasulullah mengeraskan bacaannya ketika mereka mendengar teguran dari Rasulullah. (Mereka membaca tanpa suara pada sholat dimana imam tidak mengeraskan bacaan)” (HR Malik, Humaidi, Abu Daud dan Bukhari). </p>
<p>Maka berdiam saat imam membaca al-Qur’an menjadi syarat kesempurnaan bermakmum. </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Sesungguhnya dijadikannya imam itu agar diikuti oleh makmum, </p>
<p>maka apabila mengucapkan takbir, ikutilah mengucapkan takbir. Janganlah membaca al- </p>
<p>Qur’an, diam dan dengarkanlah.” (HR Abu Daud, Muslim &amp; Abu Uwanah). </p>
<p>Oleh karena itu makmum yang mendengarkan bacaan imam tidak perlu lagi turut membacanya. </p>
<p>Sabda Rasulullah SAW ”Barang siapa yang sholat bermakmum maka bacaan imam adalah </p>
<p>menjadi bacaannya juga.” (HR Daruquthni, Ibnu Majah &amp; Ahmad). Ini untuk sholat-sholat </p>
<p>yangjahr (imam mengeraskan bacaannya). </p>
<p>5. Kewajiban Membaca Tanpa Suara </p>
<p>Adapun pada sholat-sholat yang harus membaca tanpa suara, Rasulullah SAW telah </p>
<p>menetapkan kehaursan membaca al-Qur’an padanya. Jabir berkata ”Kami membaca al- </p>
<p>Faatihah dan surah al-Qur’an pada sholat Dzuhur dan Ashar dibelakang imam pada dua </p>
<p>rakaat pertama, sedangkan pada dua rakaat berikutnya membaca al-Faatihah (saja).” </p>
<p>(Riwayat Ibnu Majah). </p>
<p>6. Imam Mengucapkan Amin Dengan Mengangkat Suara </p>
<p>Dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW selesai membaca al-Faatihah, Beliau SAW mengucapkan amin dengan suara jelas dan panjang. Orang- orang yang bermakmumpun dianjurkan untuk mengucapkannya. Sabda Beliau SAW” Ap abila </p>
<p>imam sholat mengucapkan ”Ghoiril maghdhuubi’alaihim waladhaaliin” maka katakanlah ”Amin”. (Sesungguhnya malaikiat berkata ”Amin” dan imampun mengucapkan ”Amin”). Dalam lafal lain disebutkan bahwa jika seorang imam sholat mengucapkan amin, maka ikutilah dengan mengucapkan amin. Apabila ucapan amin itu bersama dengan ucapan malaikat, (Dalam lafal lain disebutkan : Apabila seseorang mengucapkan amin dalam sholat, dan para malaikat di langit mengucapkan amin dengan bersamaan) niscaya dosa-dosanya akan diampuni.” (HR Bukhari, Muslim &amp; Nasa’i). </p>
<p>Rasulullah SAW juga bersabda ”Tidak ada suatu yang paling menjadikan orang-orang Yahudi </p>
<p>iri kepada kalian kecuali ucapan salam dan amin (dibelakang imam).” (HR Bukhari, Ibnu </p>
<p>Majah dan Ahmad). </p>
<p>7. Bacaan Setelah Membaca al-Faatihah. </p>
<p>Setelah membaca al-Faatihah, Rasulullah SAW membaca surah lainnya. Terkadang membaca </p>
<p>surah panjang dan kadang surah pendek karena suatu penyebab seperti sedang dalam </p>
<p>11 Dari 26 </p>
<p>perjalanan, sakit batuk atau sakit lainnya. Atau mendengar tangis anak kecil sebagaimana yang </p>
<p>disebutkan oleh Anas bin Malik ra. </p>
<p>8. Boleh Hanya Membaca al-Faatihah </p>
<p>Mu’adz pernah sholat Isya berjamaah dengan Rasulullah SAW di akhir waktu, lalu pulang. Disana ia sholat lagi bersama sahabat-sahabatnya sebagai imam. Dlam jamaah itu terdapat seorang anak muda bernama Sulaim dari bani Salamah. Anak muda itu merakan sholatnya terlalu lama, maka ia keluar dan sholat sendiri di pojok masjid. Usai sholat ia bergegas keluar masjid dan menunggang untanya langsung meninggalkan tempat itu. </p>
<p>Setelah sholat Mu’adz diberitahu akan kejadian ini. Ia berkata ”Sungguh hal ini perbuatan </p>
<p>munafik!. Aku akan laporkan apa yang diperbuatnya kepada Rasulullah.” Anak muda itu juga </p>
<p>berkata ”Aku juga akan adukan apa yang dilakukan kepada Rasulullah.” </p>
<p>Keesokan harinya mereka datang kepada Rasulullah. Mu’adz mengadukan apa yang dilakukan </p>
<p>anak muda itu, dan anak muda itupun melaporkan apa yang diperbuat oleh Mu’adz. Ia berkata </p>
<p>”Wahai Rasulullah dia telah sholat yang lama denganmu. Lalu ia pulang dan mengimami kami dengan lama”. Rasulullah menjawab ”Wahai Mu’adz akankah engaku membuat fitnah?” Rasulullah bertanya kepada anak muda itu ”Apa yang engkau lakukan dalam sholatmu?” Ia menjawab ”Aku membaca al-Faatihah, lalu berdoa memohon surga kepada Allah, dan berlindung dari siksa neraka. Aku tidak tahu apa yang engaku baca dengan suara lirih dan yang dibaca Mu’adz” Nabi menyahut ”Aku dan Mu’adz seperti ini (telunjuk dan jari tengah).” Anak muda itu berkata ”Akan tetapi Mu’adz akan tahu kalau musuh datang, sedangkan mereka telah diberitahu bahwa musuh telah datang di tempat mereka.” Orang yang meriwayatkan hadits ini berkata ”Kaum tersebut kemudian datang menyerang dan anak muda itu gugur sebagai syahid. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz ”Setelah peristiwa itu bagaimana kamu dengan orang yang mengadukanmu kepadaku?” Mu’adz menjawab ”Wahai Rasulullah, Allah Mahabenar dan saya keliru. Anak muda itu telah gugur sebagai syahid.” </p>
<p>(HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ahmad, Abu Daud, Bukhari &amp; Muslim) </p>
<p>9. Membaca al-Faatihah Dengan Suara Keras dan Tanpa Suara Pada Sholat Lima Waktu Dan </p>
<p>Sholat Lainnya. </p>
<p>Pada sholat Subuh dan pada rakaat pertama dan kedua pada sholat Maghrib dan ’Isya, Rasulullah SAW membaca al-Faatihah dan surah lainnya dengan suara keras. Sedangkna pada sholat Dzuhur dan Ashar Beliau SAW membacanya dengan tanpa suara. Para sahabat mengetahui apa yang dibaca oleh Rasulullah SAW dalam sholat-sholat yang tanpa suara dari gerakan jenggotnya dan terkadang Nabi SAW sendiri memperdengarkan bacaannya. Demikian penjelasan Bukhari dan Abu Daud. </p>
<p>Beliau SAW juga membaca dengan mengangkat (mengeraskan) suara pada sholat Jum’at , ’Idul </p>
<p>Fitri, ’Idul Adha, Istisqa’ (sholat meminta hujan), dan sholat Kusuf (gerhana). </p>
<p>C. Bacaan-Bacaan Sholat Nabi SAW </p>
<p>Bacaan sholat Rasulullah SAW bermacam-macam. Kadang Nabi SAW membaca surat ar-Rum (60 </p>
<p>ayat), kadang ash-Shaffat (182 ayat), kadang surat Zalzalah (7 ayat) dan lain-lain. </p>
<p>D. Bacaan Tartil dan Memerdukan Suara </p>
<p>12 Dari 26 </p>
<p>Perintah Allah terhadap Rasulullah SAW adalah agar membaca al-Qur’an dengan tartil, tidak pelan, dan tidak terlalu cepat. Tetapi dibaca kalimat per kalimat sehingga bacaan satu surah lebih lama daripada dibaca dengan biasa. </p>
<p>Beliau SAW bersabda ”Kelak akan dikatakan kepada orang yang membaca al-Qur’an ”Bacalah, </p>
<p>telitilah dan tartillah sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu </p>
<p>adalah diakhir ayat yang engkau baca.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi). </p>
<p>Beliau menyuruh para sahabatnya untuk membaca al-Qur’an dengan suara merdu dalam sabdanya </p>
<p>”Hiasilah al-Qur’an dengan suaramu. Sesungguhnya suara yang bagus dapat menjadikan al- </p>
<p>Qur’an bertambah indah.” (HR Bukhari, Abu Daud &amp; Hakim). </p>
<p>Beliau juga bersabda ”Sesungguhnya orang yang bagus suaranya adalah apabila engkau </p>
<p>mendengarkan suara bacaan al-Qur’an sedangkan kamu mengira bahwa dia adalah orang yang </p>
<p>takut kepada Allah.” (HR Thabrani, Ibnu Mubarak &amp; Abu Nu’aim). </p>
<p>E. Membetulkan Bacaan Imam Yang Salah </p>
<p>Abu Daud, Ibnu Hibban dan Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh membetulkan imam yang salah membaca al-Qur’an. Beliau pernah melakukan sholat dan salah dalam membaca al-Qur’an. Usai sholat Beliau bertanya kepada Ubay, ”Apakah engkau sholat </p>
<p>bermakmum dengan saya?” Ubay menjawab ”Benar” Beliau menimpali ” Kenapa tidak </p>
<p>membetulkan bacaanku yang salah?” </p>
<p>F. Berta’awwudz Dan Meludah Saat Sholat Untuk Menghilangkan Gangguan </p>
<p>Dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan bahwa Utsman bin Abi ’Ash berkata kepada </p>
<p>Rasulullah SAW ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menggangguku ketika aku </p>
<p>membaca al-Qur’an saat sholat sehingga sholatku kacau.” Rasulullah SAW bersabda ”Itulah setan yang bernama Khinzib. Jika engkau merasakan keahdirannya, bacalah ta’awwudz dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali.” </p>
<p>Utsman berkata ”Aku kemudian melakukannya sehingga Allah mengeyahkan setan dariku.” </p>
<p>TATA CARA RUKU DAN BACAANNYA </p>
<p>Setelah membaca al-Qur’an, Beliau SAW diam sejenak. Lalu Beliau SAW mengangkat kedua tangannya sebagaimana yang telah dijelaskan pada penjelasan di depan dalam Takbiratul Ihram. Kemudian mengucapkan Allahu Akbar, lalu ruku. </p>
<p>A. Tata Cara Ruku </p>
<p>Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua lututnya . Beliau SAW memerintahkan sahabatnya melakukan yang demikian. Juga memerintahkan orang yang tidak benar sholatnya. </p>
<p>Kedua telapak tangan Beliau SAW tampak menekan kedua lututnya (seakan-akan mencengkram keduanya). Beliau SAW merenggangkan jari-jarinya. Lalu memerintahkannya kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Jika engkau ruku letakkanlah kedua tangnmu di atas </p>
<p>lututumu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu menjadi mapan </p>
<p>ditempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah &amp; Ibnu Hibban). </p>
<p>13 Dari 26 </p>
<p>Beliau SAW merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya. Ketika ruku Beliau SAW membentangkan dan meluruskan punggungnya sampai-sampai jika dituangkan air dari diatasnya tidak akan tumpah, Lalu, Beliau SAW bersabda kepada orang yang tidak benar sholatnya”Jika </p>
<p>engkau ruku, letakkanlah tangamu pada kedua lututmu. Lalu, bentanglah punggungmu dan </p>
<p>tekanlah tanganmu dalam rukumu.” (HR Ahmad &amp; Abu Daud). </p>
<p>Rasulullah SAW tidak membungkuk terlalu kebawah dan tidak pula mendongakkan terlalu keatas. </p>
<p>Akan tetapi tengah-tengah di antara keduanya. </p>
<p>B. Wajib Thumaninah Dalam Ruku </p>
<p>Beliau SAW dengan thumaninah (tenang) dan memerintahkan demikian kepada orang yang tidak </p>
<p>benar sholatnya sebagaimana yang dijelaskan diatas. Sabda Beliau SAW ”Sempurnakanlah ruku </p>
<p>dan sujudmu. Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya, sesungguhnya aku benar-benar </p>
<p>melihat kamu dari balik punggungku saat kamu ruku dan sujud.” (HR Bukhari &amp; Muslim). </p>
<p>Dalam riwayat Ath-Thayalisi dan Ahmad, Abu Hurairah berkata ”Kekasihku Rasulullah SAW </p>
<p>melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-nolah </p>
<p>seperti musang dan duduk sepeti kera.” </p>
<p>Rasulullah SAW juga bersabda ”Pencuri yang paling jahat adalah pencurian yang mencuri dalam </p>
<p>sholatnya.” Para sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana yang dimaksud dengan mencuri dalam sholat itu?” Rasulullah menjawab ”Yaitu orang yang tidak sempurna ruku dan sujudnya dalam sholat.” (HR Thabrani dan Hakim). </p>
<p>Ketika sedang sholat, Beliau SAW melirik orang yang sujud dan ruku dengan punggung tidak </p>
<p>lurus. Usai sholat Beliau SAW bersabda ”Wahai kaum muslimin, sesungguhnya tidak sah sholat </p>
<p>seseorang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku dan sujud.” (HR Ibnu Majah &amp; </p>
<p>Ahmad). </p>
<p>C. Bacaan-Bacaan Ruku </p>
<p>Dalam ruku Rasulullah SAW membaca bacaan yang beragam. Terkadang membaca sebuah bacaan </p>
<p>dan di lain kesempatan membaca bacaan lain. Diantara bacaan Beliau SAW adalah </p>
<p>a.”Sub hana rabbiyal’adhim” (3x) (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung”) (Dibaca 3 kali) (HR. Ahmad, Abu Daud &amp; Ibnu Majah). Terkadang membacanya lebih dari 3 kali (yang menunjukkan lamanya sholat Beliau SAW). </p>
<p>Bahkan pada suatu kali dalam sholatlai l Beliau SAW membacanya dengan mengulang-ulang sehingga lama ruku’nya sama dengan lama berdirinya. Padahal Beliau membaca 3 surah panjang (al-Baqarah, an-Nisaa dan Ali Imran) diselingi dengan doa-doa dan istighfar. </p>
<p>b.”Sub hana rabbiyal’adhimi wabihamdih” (3x) (”Mahasuci dan Mahaagung Allah, segala puji </p>
<p>bagiNya”) (Dibaca 3 kali) (HR Abu Daud, Daruquthni, Ahmad &amp; Thabrani). </p>
<p>c.”Sub hanaka allahumma wabihamdika allahummagh firli” (”Mahasuci Engkau wahai Thuhan </p>
<p>dan dengan memujiMu ampunilah aku”) </p>
<p>Rasulullah SAW memperbanyak dao ini dalam ruku dan sujudnya. </p>
<p>d. Dan lain-lain. </p>
<p>D. Larangan Membaca Al-Qur’an Saat Ruku </p>
<p>Beliau SAW melarang membaca al-Qur’an saat ruku dan sujud dalam sabdanya” Ketahu ilah </p>
<p>sesungguhnya aku melarang bacaan al-Qur’an saat ruku. Hendalah kalian mengagungkan Tuhan </p>
<p>14 Dari 26 </p>
<p>Yang Mahaperkasa. Sedangkan dalam bersujud hendaknya bersungguh-sungguhlah berdoa karena </p>
<p>doa itu tentu dikabulkan.” (HR Muslim &amp; Abu Uwanah). </p>
<p>E. Bangun dari Ruku (I’tidal) dan Bacaannya </p>
<p>Kemudian Rasulullah SAW bangkit dari ruku sambil mengucapkan ”Sami allahu liman hamidah” </p>
<p>(Allah mendengar ornag yang memujiNya”) (HR Bukhari &amp; Muslim). </p>
<p>Beliau SAW memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya </p>
<p>”Tidak sempurna sholat seseorang sehingga bertakbir. Kemudian ruku lalu mengucapkan Sami’a </p>
<p>Allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya) sampai berdiri dengan tegak” </p>
<p>(HR Abu Daud dan Hakim) </p>
<p>Ketika berdiri dengan tegak Beliau mengucapkan ”Rabbanaa walakal hamdu” (”Wahai Tuhan </p>
<p>kami dan segala puji hanyalah milik-Mu”) (HR Bukhari dan Ahmad) </p>
<p>Rasulullah SAW memerintahkan demikian kepada semua orang yang sholat, baik makmum maupun bukan makmum dalam sabdanya ”Sholatlah seperti kalian melihatku sholat” (HR Bukhari &amp; Ahmad). </p>
<p>Rasulullah SAW juga bersabda ”Sesungguhnya imam dijadikan tiada lain untuk diikuti. Jika imam </p>
<p>mengucapkan ’Sami’a Allhu liman Hamidah’, maka ucapkanlah Allahumma walakal hamdu.’ Pasti Allah mendengar ucapan kalian. Sesungguhnya Allah berfirman melalui ucapan RasulNya, ’Sami’a Allahu liman Hamidah’.” (HR Muslim, Abu Uwanah, Ahmad &amp; Abu Daud). </p>
<p>Penyebab masalah ini dipertegas dalam hadits lain ”Sesungguhnya barangsiapa yang ucapannya </p>
<p>itu berbarengan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosa-dosa yang telah </p>
<p>dilakukannya sebelumnya.” (HR Bukhari &amp; Muslim). </p>
<p>Rasulullah SAW mengangkat tangan saat berdiri i’tidal seperti telah dijelaskan pada takbiratul </p>
<p>ihram didepan, dengan mengucapkan bacaan berikut : </p>
<p>1.”Rabbanaa walakal hamdu” (HR Bukhari &amp; Muslim). Masalah mengangkat tangan ini </p>
<p>sanadnya benar-benar dari Rasulullah SAW. Pendapat ini juga diperkuat oleh jumhur ulama </p>
<p>dan sebagian penganut mazhab Hanafi. </p>
<p>2.”Rabbana lakal hamdu” (HR. Bukhari &amp; Muslim). </p>
<p>3.”Allahumma rabbana walakal hamdu” (HR Bukhari &amp; Muslim) </p>
<p>4.”Allahumma rabbana lakal hamdu” (HR Bukhari &amp; Muslim). </p>
<p>5. Rasulullah SAW memerintahkan berbuat demikian dalam sabdanya ”Apabila imam </p>
<p>mengucapkan ’Sami’a Allahu liman hamidah’ maka ucapkanlah ’Allahumma Rabbana lakal hamdu’. Barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari &amp; Muslim). </p>
<p>6. Terkadang Beliau SAW menambah dengan lafal ”Milussamawaati wamil ul ardli wamil </p>
<p>umaasyikta min syai in ba’du.” (Mencakup seluruh langit dan bumi dan semua yang Engkau </p>
<p>kehendaki selain dari itu.” (HR Muslim &amp; Abu Uwanah). </p>
<p>7. Dan lain-lain. </p>
<p>F. Memperpanjang Berdiri I’tidal dan Kewajiban Thumuninah. </p>
<p>15 Dari 26 </p>
<p>Lama berdiri i’tidal Rasulullah SAW sama seperti rukunya, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Bahkan kadang Rasulullah SAW berdiri lama sampai dianggap lupa oleh sahabatnya karena lamanya Beliau berdiri. Demikian yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad. </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Kemudian tegakkanlah kepalamu sampai engkau berdiri tegak </p>
<p>(sampai semua tulang kembali menempati tempatnya masing-masing). (Dalam sebuah riwayat </p>
<p>dikatakan : Apabila kamu berdiri i’tidal, maka tegakkanlah kepalamu sampai tulang-tulang </p>
<p>kembali kepada posisinya semula).” (HR Bukhari, Muslim, Hakim &amp; Ahmad). </p>
<p>Beliau juga bersabda ”Allah tidak akan melihat sholat seorang hamba yang tidak meluruskan </p>
<p>tulang punggungnya antara ruku dan sujudnya.” (HR Ahmad &amp; Thabrani) </p>
<p>TATA CARA DAN BACAAN SUJUD SERTA DUDUK DIANTARA DUA SUJUD </p>
<p>Setelah i’tidal Rasulullah SAW bertakbir dan turun bersujud. Beliau SAW memerintahkan yang </p>
<p>demikian ini kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Tidaklah sempurna sholat </p>
<p>seseorang sampai ia mengucapkan ’Sami’ Allahu liman hamidah’ sampai tegak berdiri. Kemudian </p>
<p>mengucapkan takbir, lalu bersujud sampai ruas tulang belakangnya kembali sempuran.” (HR Abu </p>
<p>Daud &amp; Hakim). </p>
<p>Dalam hadits riwayat Abu Ya’la dan Ibnu Khuzaimah disebutkan bahwa jika hendak sujud, Nabi SAW mengucapkan takbir (dan Beliau SAW merenggangkan tangannya dari lambungnya), lalu bersujud. Sedangkan dalam riwayat Nasa’i dan Daruquthni disebutkan bahwa kadang Beliau SAW mengangkat kedua tanganya bila hendak bersujud. </p>
<p>A. Turun Bersujud Dengan Mendahulukan Kedua Tangan </p>
<p>Rasulullah SAW meletakkan kedua tangannya di atas tanah sebelum kedua lututnya. Beliaupun </p>
<p>memerintahkan sahabatnya melakukan hal demikian ”Apabila seseorang dari kalian hendak </p>
<p>bersujud, hendaknya tidak melakukannya seperti duduknya unta. Tetapi hendaknya meletakkan </p>
<p>tangannya sebelum meletakkan kedua lututnya.” (HR Abu Daud dan Nasa’i). </p>
<p>Beliau SAW bersabda, ”Sesungguhnya kedua tangan turut bersujud sebagaimana sujudnya wajah. </p>
<p>Apabila seseorang dari kalian meletakkan wajahnya diatas tanah, maka hendaklah meletakkan juga kedua tangannya. Apabila mengangkat wajahnya maka hendaknya mengangkat juga kedua tangannya.” (HR Ibnu Khuzaimah, Ahmad &amp; Siraj). </p>
<p>Dalam bersujud Beliau meletakkan telapak tangannya, mengembangkannya15, serta mengarahkannya ke arah kiblat16. Beliau meletakkan kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya17, dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya18. </p>
<p>Dalam hadits riwayat Abu Daud dan Ahmad disebutkan bahwa Nabi SAW menekan hidung dan </p>
<p>dahinya ke tanah. Beliau berkata kepada orang yang sholatnya tidak benar ”Jika engkau bersujud </p>
<p>maka lakukanlah dengan menekan.” </p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan ”Bila engkau bersujud, maka lakukanlah dengan cara menekan </p>
<p>wajah dan kedua tanganmu sampai seluruh ruas tulangmu kembali ke tempatnya.” (HR Ibnu </p>
<p>Khuzaimah.) </p>
<p>15 HR Abu Daud dan Hakim serta dibenarkan olehnya serta disetujui oleh Zahabi. </p>
<p>16 HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi dan Hakim serta dibenarkan olehnya dan setujui oleh Zahabi. </p>
<p>17 HR Baihaqi dengan sanad yang sahih, Ibnu Abi Syaibah (1/82/2) dan Siraj dari jalur lain. </p>
<p>18 HR Abu Daud dan Tirmidzi serta dibenarkan olehnya dan Ibnu Mulqin (27/2). Disebutkan dalam kitab Irwa’u al-Ghalil </p>
<p>(309) </p>
<p>16 Dari 26 </p>
<p>Beliau bersabda, ”Tidak sah sholat seseorang yang hidungnya tidak menyentuh tanah sebagai </p>
<p>mana halnya dahinya.” (HR Daruquthni, Thabrani dan Abu Na’im). </p>
<p>Beliau menekan kedua lututnya dan ujung kedua telapak kakinya. Menghadapkan ujung jarinya ke arah kiblat, merapatkan tumitnya dan menegakkan telapak kakinya.Beliau pun menyuruh berbuat demikian. </p>
<p>Inilah tujuh anggota yang dipergunakan Nabi SAW untuk bersujud, yaitu dua telapak tangan, dua lutut, dua kaki, dahi dan hidung. Rasulullah SAW menjadikan dua anggota terakhir (dahi dan hidung) menjadi satu dalam sujud. Beliau SAW bersabda ”Aku perintahkan untuk bersujud, </p>
<p>(dalam riwayat lain disebutkan : Kami diperintahkan untuk bersujud dengan menggunakan 7 anggota badan) yaitu dahi, (dan menunjuk hidungnya dengan tangan) serta kedua tangan, (Dalam lafal lain disebutkan : Dua telapak tangan, dua lutut, ujung kedua telapak kaki, dan kami tidak boleh menyibak19 baju dan rambut).” (HR Bukhari dan Muslim). </p>
<p>Beliau bersabda ”Apabila seorang hamba bersujud, hendaklah menyertakan 7 anggota badan </p>
<p>(wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua telapak tangan).” (HR Muslim, Abu Uwanah </p>
<p>dan Ibnu Hibban). </p>
<p>Dalam hadits riwayat Muslim, Abu Uwanah dan Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi SAW </p>
<p>berkomentar terhadap orang yang sholat sedangkan rambutnya diikat dari belakang, ”Orang yang </p>
<p>sholatnya seperti itu sama halnya dengan orang yang sholat menggelung rambunya.”20Bel iau </p>
<p>juga bersabda ”Yang demikain ini menjadi tempat duduk setan.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi). </p>
<p>Rasulullah SAW tidak membentangkan kedua lengannya21, akan tetapi Beliau SAW mengangkat kedua lengannya, menjauhkan dari sisinya sehingga tampak bulu ketiak putihnya dari belakang22. Apabila seekor anak domba menerobos di bawah lengannya, tentu dengan mudah dapat melewatinya23. </p>
<p>Beliau SAW melebarkan lengannya sehingga seorang sahabatnya berkata ”Mungkin kami bisa </p>
<p>menerobos di bawah ketiaknya, saking lebarnya jarak antara lengan dan lambungnya dalam </p>
<p>bersujud.” Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Beliau SAW </p>
<p>memerintahkan melakukan hal itu dalam sabdanya ”Apabila engkau bersujud, letakkanlah </p>
<p>tanganmu dan angkatlah kedua sikumu.” (HR Muslim dan Abu Uwanah). </p>
<p>”Bersujudlah kamu dengan lurus dan janganlah membentangkan kedua lenganmu seperti </p>
<p>membentangkannya (dalam lafal lain disebutkan : Seperti membentangkan kakinya) anjing.”(HR </p>
<p>Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad). </p>
<p>”Janganlah seseorang dari kalian membentangkan kedua lengannya seperti anjing </p>
<p>membentangkan kakinya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi). </p>
<p>19 Maksudnya adalah menyibak lengan baju dan rambut agar tidak terurai ke bawah pada waktu ruku dan sujud </p>
<p>sebagaimanan disebutkan dalam kitab an-Nihayah. Larangan inii tidak hanya pada waktu sholat. Bahkan apabila sebelum masuk sholat dia melakukannya, maka menurut jumhur ulama tidak dibolehkan. Hal ini diperkuat oleh larangan Nabi SAW pada seorang laki-laki yang menyibak rambutnya saat sujud. </p>
<p>20 Maksudnya adalah menyibak lengan baju dan rambut agar tidak terurai ke bawah pada waktu ruku atau sujud </p>
<p>sebagaimana disebutkan dalam kitab an-Nihayah. Larangan ini tidak hanya pada waktu sholat. Bahkan apabila sebelum </p>
<p>masuk sholat dia melakukannya maka menurut jumhur ulama tidak dibolehkan. Hal ini diperkuat oleh larangan Nabi SAW </p>
<p>pada seorang laki-laki yang menyibak rambutnya saat sujud. </p>
<p>21 HR Bukhari &amp; Abu Daud. </p>
<p>22 HR Bukhari &amp; Muslim. Desebutkan dalam Irwa’u al-Ghalil (354) </p>
<p>23 HR Muslim, Abu ‘Uwanah dan Ibnu Hibban </p>
<p>17 Dari 26 </p>
<p>”Janganlah kamu membentangkan kedua lenganmu (seperti binatang). Tetapi tegakkanlah lengamu dan jauhkanlah dari lambungmu. Karena bila engkau melakukan seperti itu maka setiap anggota badan ikut bersujud denganmu.” (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim) </p>
<p>B. Kewajiban Thumuninah Dalam Sujud </p>
<p>Rasulullah SAW selalu memerintahkan agar menyempurnakan ruku dan sujud. Orang yang tidak melakukannya diperumpamakan seperti orang yang lapar. Ia memakan satu atau dua butir kurma yang tidak mengenyangkan sama sekali. Beliau SAW bersabda ”Orang yang demikian itu adalah </p>
<p>pencuri yang paling buruk.” </p>
<p>Beliau SAW menyatakan tieak sah sholat orang yang ruku dan sujudnya tidak lurus, sebagaimana </p>
<p>yang telah diuraikan pada bab Ruku. </p>
<p>C. Doa-doa Sujud </p>
<p>Dalam sujudnya Rasulullah SAW membaca beberapa zikir dan doa yang berbeda-beda, </p>
<p>diantaranya sebagai berikut : </p>
<p>1.”Subhana rabbiyal a’la” (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi”), tiga kali atau lebih. </p>
<p>Pernah dalam sholat malam Rasulullah SAW mengucapkan berulang-ulang sehingga lama sujudnya hampir sama dengan berdirinya. Padahal dalam berdirinya Beliau SAW membaca 3 surah yang panjang (al-Baqarah, an-Nisaa dan Ali Imran), diselingi dengan bacaan doa dan istighfar sebagaimana yang dijelaskan dalam sholatlai l (malam, tahajjud) </p>
<p>2.”Subhaana rabbiyal a’la wabihamdih.” (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi dan segala </p>
<p>puji bagiNya”). </p>
<p>3. ”Subbuuhun qudduusun rabbul malaaikati warruuhu.” (”Mahasuci dan Mahakudus, Tuhan </p>
<p>malaikat dan ruh). </p>
<p>4.”Subhaanaka allahumma rabbanaa wabihamdika allahummaghfirlii.” (”Mahasuci Engkau, </p>
<p>wahai Tuhan, Tuhan kami dan dengan memujiMu wahai Tuhan, ampunilah aku”). (HR </p>
<p>Bukhari dan Muslim). Bacaan ini banyak Beliau SAW baca pada saat ruku dan sujudnya </p>
<p>sebagaimana yang diperintahkan al-Qur’an. </p>
<p>5. Dan lain-lain. </p>
<p>D. Larangan Membaca Al-Qur’an Ketika Sujud </p>
<p>Rasulullah SAW melarang membaca al-Qur’an ketika ruku dan sujud. Namun Beliau SAW menyuruh untuk bersungguh-sungguh dan memperbanayk doa waktu sujud sebagaimana diterangkan dalam bab Ruku. </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia </p>
<p>sedang sujud maka perbanyaklah doa (dalam sujud).” (HR Muslim, Abu Uwanah dan Baihaqi). </p>
<p>E. Melamakan Sujud </p>
<p>Lama Rasulullah SAW melakukan sujud adalah hampir sama dengan lama Beliau SAW melakukan ruku. Bahkan lebih lama lagi jika Beliau SAW sedang menghadapi masalah yang sulit sebagaimana dikatakan oleh sahabat Beliau ” Rasulullah SAW keluar menemui pada waktu sholat </p>
<p>Dhuhur atau Ashar. Ketika itu Beliau menggendong Hasan dan Husen. Rasulullah SAW maju lalu meletakkan gendongannya disebelah kanannya. Kemudian bertakbir untuk melakukan sholat, lalu sujud dalam sholatnya itu. Beliau SAW bersujud lama sekali.” Perawi berkata ”Aku mengangkat kepalaku diantara orang banyak. Tapi ternyata anak kecil itu berada diatas punggung Beliau, </p>
<p>18 Dari 26 </p>
<p>padahal Beliau sedang sujud. Kemudian aku kembali sujud. Ketika Rasulullah SAW selesai melakukan sholat, orang-orang bertanya ”Wahai Rasulullah engkau melakukan sujud dalam sholatmu ini lama sekali sehingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau engkau sedang menerima wahyu.” Beliau bersabda ”Semua itu tidak terjadi tetapi cucuku ini naik diatas punggungku dan aku tidak senang tergesa-gesa sampai anak ini puas dengan keinginannya.” </p>
<p>F. Keutamaan Sujud </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada </p>
<p>hari kiamat kelak.” Para sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana Anda mengenal mereka padahal mereka berada diantara banyak makhluk?” Beliau bersabda ”Bagaimana pendapatmu jika diantara kumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahinya dan pada kaki-kakinya” Bukankah engkau dapat mengenalinya?” Jawab mereka ”Ya.” Beliau bersabda ”Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya yang bekas sujud dan cahaya putih diwajar, tangan dan kaki yang bekas wudhu.” (HR Ahmad dan </p>
<p>Tirmidzi). </p>
<p>Beliau SAW juga bersabda ”Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka maka Allah </p>
<p>memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang menyembah Allah lalu malaikat mengeluarkan mereka. Mereka dikenal karena ada bekas sujud pada wajahnya dan Allah mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud sehingga mereka dikeluarkan dari neraka. Semua anggota anak Adam akan dimakan oleh api neraka kecuali tanda bekas sujud.” </p>
<p>(HR Bukhari &amp; Muslim). </p>
<p>G. Sujud Diatas Tanah Dan Tikar </p>
<p>Rasulullah SAW biasa sujud diatas tanah karena masjid Beliau tidak beralaskan tikar atau lainnya. </p>
<p>Banyak hadits yang menerangkan hal ini diantaranya hadist Abu Said al-Khudri. </p>
<p>Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa para sahabat melakukan sholat berjamaah bersama Beliau ketika cuaca sangat panas. Jika diantara mereka ada yang tidak sanggup menempelkan dahinya ke tanah, maka dia membentangkan kainnya dan sujud diatas kain tersebut. </p>
<p>Rasulullah SAW bersabda ”Bumi seluruhnya telah dijadikan sebagai masjid dan alat untuk </p>
<p>bersuci (tayamum) bagiku dan seluruh umatku. Untuk itu dimana saja seseorang dari umatku menemui waktu sholat maka disitulah masjidnya dan alat bersucinya. Sebelumku mereka tidak dapat melakukan demikain karena meraka sholat di gereja-gereja dan kuil-kuil.” (HR Ahmad dan </p>
<p>Baihaqi). </p>
<p>Terkadang Beliau SAW melaksanakan sholat diatas tanah yang becek. Hal ini pernah terjadi pada pagi hari tanggal 12 Ramadhan ketika turun hujan dan halaman masjid tergenang air sedangkan atapnya terbuat dari pelepah kurma. Sehingga Rasulullah SAW terpaksa sujud diatas tanah yang becek. Abu Sa’id al-Khudri dalam riwayat Bukhari dan Muslim berkata ”Saya melihat Rasulullah dan dikening serta hidung Beliau terlihat bekas lumpur.” </p>
<p>Sementara itu dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa kadang Rasulullah SAW sholat diataskhum rah (tikar atau anyaman selebar sapu tangan) atau diatas tikar kecil. Nabi SAW pernah sujud diatas tikar yang sudah hitam karena sudah lama dipakai. </p>
<p>H. Bangkit Dari Sujud (I’tidal) </p>
<p>Rasulullah SAW mengangkat kepalanya dari sujud (i’tidal) seraya mengucapkan takbir. Beliau </p>
<p>SAW memerintahkan orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukan yang demikian,”T idak </p>
<p>sempurna sholat seseorang hinga sujud sampai tulang punggungnya tenang, kemudian </p>
<p>19 Dari 26 </p>
<p>mengucapkan Allhu Akbar. Lalu bangkit dari sujud sehingga duduk dengan tegak.” (HR Ahmad </p>
<p>dan Abu Daud). </p>
<p>Terkadang Beliau SAW mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan takbir. Kemudian membentangkan kaki kiri dan duduk diatas telapaknya dengan tenang. Beliau SAW juga menyuruh orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukannya dan Beliau bersabda kepada orang itu </p>
<p>”Jika kamu bersujud maka hendaknya kamu menekan. Apabila bangkit dari sujud (i’tidal) maka </p>
<p>duduklah diatas betis kirimu.” (HR Bukhari dan Baihaqi). </p>
<p>Beliau SAW menegakkan kaki kanannya dan menghadapkan jari-jari kanannya ke arah kiblat. </p>
<p>I. Thumuninah Ketika Duduk Diantara Dua Sujud </p>
<p>Terkadang Rasulullah SAW duduk dengan menegakkan telapak kaki dan tumit kedua kakinya. Rasulullah SAW melakukan duduk diantara dua sujud dengan thumuninah sehingga tuliang belakangnya rata dan mapan. Beliau SAW juga menyuruh orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukan hal itu. Beliau SAW bersabda ”Tidak sempurna sholat seseorang diantara kamu </p>
<p>sehingga dia melakukan yang demikian.” (HR Abu Daud dan Hakim). </p>
<p>Beliau SAW melamakan duduknya sehingga hampir sama dengan sujudnya. Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Terkadang Beliau SAW diam lama sampai ada yang mengatakan ”Beliau telah lupa.” </p>
<p>J. Doa Ketika Duduk Diantara Dua Sujud </p>
<p>Ketika duduk diantara dua sujud Rasulullah SAW membaca doa sebagai berikut : </p>
<p>1.<strong>”Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii, wahdinii, wa’aanifinii, warzuqnii.” </strong>(”Ya Allah </p>
<p>ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku petunjuk, </p>
<p>jadikanlah aku sehat dan berilah rizki.” (HR Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah). </p>
<p>2.<strong>”Rabbighfirlii rabbighfirlii.</strong>” (Wahai Tuhan, ampunilah aku, ampunilah aku”) </p>
<p>Beliau kadang membaca kedua doa tersebut ketika sholat malam24. Kemudian Beliau bertakbir dan sujud yang kedua kalinya. Beliau menyuruh orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukan yang demikian. Beliau SAW mengatakan kepadanya setelah menyuruhnya untuk melakukan thumuninah ketika duduk antara dua sujud ”Kemudian hendaknya kamu mengucapkan Allahu </p>
<p>Akbar. Lalu sujud sehingga ruas-ruas tulang punggungmu rata atau mapan. Kemudian melakukan </p>
<p>hal itu dalam semua sholat kamu.” (HR Abu Daud dan Hakim). </p>
<p>Nabi SAW kadang mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan takbir. Beliau SAW </p>
<p>melakukan sujud kedua sebagaimana sujud pertama kemudian bangkit sambil mengucapkan takbir. </p>
<p>Beliau SAW menyruh melakukan itu kepada orang yang salah dalam sholatnya sebagaimana perkataan Beliau kepada orang tersebut setelah menyuruhnya untuk melakukan sujud yang kedua. Kemudian Beliau mengangkat kepalanya dan bertakbir. Beliau mengatakan kepadanya”Kemudian </p>
<p>lakukanlah hal itu dalam setiap ruku dan sujud. Jika kamu melakukannya maka sempurnalah sholatmu. Tapi jika kamu menguranginya sedikit saja dari hal itu maka kamu telah mengurangi sholatmu.” (HR Ahmad dan Tirmidzi). </p>
<p>24 Doa-doa ini tidak khusus dibaca pada sholat sunnah saja, melainkan disyariatkan juga untuk sholat fardhu, karena sholat </p>
<p>sunnah dan fardhu tidaklah berbeda. Demikianlah menurut Imam Syafi’I, Ahmad dan Ishaq. Mereka mengatakan bahwa </p>
<p>doa-doa ini boleh dibaca pada waktu sholat fardhu dan sholat sunnah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. </p>
<p>Imam Thahawi juga mengatakan demikain sebagaimana disebutkan dlam kitab Musykil al-Atsar. Pandangan yang benar </p>
<p>akan menguatkan hal itu. Karena dalam semua bagian sholat telah disyariatkan adanya doa, maka sepatutnya hal itu juga </p>
<p>berlaku disini. Hal ini tidak sulit untuk dipahami. </p>
<p>20 Dari 26 </p>
<p>Setelah itu Beliau SAW duduk tegak. Yaitu duduk diatas telapak kaki kirinya dengan tegak sampai setiap ruas tulang punggungnya mapan. Kemudian Nabi SAW bangkit ke rakaat kedua dengan tangan bertumpu ke tanah. Demikian diriwayatkan Bukhari dan Syafi’i. </p>
<p>Menurut riwayat Abu Ishaq dan Bihaqi Nabi SAW bertumpu pada kedua tangannya jika berdiri ke rakaat berikutnya. Lalu ketika berdiri pada rakaat kedua, Beliau SAW mengawali bacaan dengan alhamdulillah tanpa diam lebih dahulu. Demikian menurut Muslim dan Abu Uwanah. Pada rakaat kedua ini Nabi SAW melakukan seperti yang Beliau SAW lakukan pada rakaat pertama, hanya saja bacaannya lebih pendek. </p>
<p>Nabi SAW telah memerintahkan orang yang sholatnya salah untuk membaca al-Faatihah pada setiap rakaat sebagaimana sabda Beliau kepada orang tersebut setelah membaca al-Faatihah pada rakaat pertama, ”Kemudian lakukanlah seperti itu pada seluruh sholatmu.” (HR Bukhari dan Muslim). </p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan ”Pada setiap rakaat dalam sholatmu.” (HR. Ahmad). Dalam riwayat lain Beliau SAW bersabda ”Pada setiap rakaat ada bacaan (al-Faatihah).” (HR Ibnu Majah dan Ibu Hibban). </p>
<p>TASYAHHUD AWAL </p>
<p>Rasulullah SAW duduk tasyahud setelah rakaat kedua, jika sholat yang dilakukannya hanya dua rakaat, seperti sholat Subuh. Menurut Nasa’i Beliau SAW dudukiftirasy’ (duduk diatas telapak kaki kiri yang dihamparkan dalam telapak kaki kanan yang ditegakkan), seperti ketika Beliau duduk diantara dua sujud. Demikian juga apabila Beliau SAW duduk pada tasyahhud awal dalam sholat tiga atau empat rakaat. </p>
<p>Beliau SAW menyuruh orang yang salah sholatnya untuk melakukan hal itu sebagaimana sabdanya </p>
<p>”Bila kamu duduk dipertengahan sholat, hendaklah kamu melakukan thumuninah. Lalu hamparkanlah </p>
<p>telapak kaki kirimu kemudian bacalah tasyahud.” (HR Abu Daud dan Baihaqi). </p>
<p>Dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah, Thayalisi dan Ahmad, Abu Hurairah r.a mengatakan bahwa Nabi SAW telah melarangnya duduk diatas tumit seperti duduknya anjing. Dalam hadits Muslim dan Abu Uwanah, Nabi SAW melarang duduk diatas tumit seperti duduknya setan. </p>
<p>Muslim dan Abu Uwanah meriwayatkan bahwa apabila duduk tasyahhud, Nabi SAW meletakkan tangan kanan diatas paha kanannya (dalam riwayat lain disebutkan : pada lutut kanannya) dan meletakkan telapak tangan kirinya pada paha kiri (dalam riwayat lain disebutkan : pada lutut kirinya). Merenggangkan telapak tangannya diatas lutut. </p>
<p>Menurut Nasa’i, Nabi SAW meletakkan siku kanan diatas pada kanannya. Nabi SAW melarang </p>
<p>bertumpu pada tangan kirinya pada waktu duduk tasyahud dalam sholat sebagaimana sabdanya” Cara </p>
<p>semacam itu adalah cara sholat orang Yahudi.” (HR Baihaqi dan Hakim). </p>
<p>Dalam hadits lain disebutkan ”Janganlah engkau duduk seperti itu karena duduk seperti itu adalah </p>
<p>duduknya orang yang sedang diazab.” (HR Ahmad dan Abu Daud). </p>
<p>Dalam hadits lain disebutkan ”Duduk seperti itu adalah cara duduk orang-orang yang dimurkai Allah.” </p>
<p>(HR Abdur Razzaq). </p>
<p>A. Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Duduk Tasyahhud. </p>
<p>Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa Nabi SAW merenggangkan </p>
<p>telapak tangan kiri diatas lutut kirinya. Tetapi Beliau SAW menggenggam semua jari tangan </p>
<p>21 Dari 26 </p>
<p>kanannya dan mengacungkan telunjuknya ke kiblat. Lalu mengarahkan pandangan mata ke </p>
<p>telunjuknya. </p>
<p>Pada riwayat yang sama disebutkan bahwa ketika Beliau SAW mengacungkan telunjuknya ibu </p>
<p>jarinya memegang jari tengah. Terkadang ibu jari dan jari tengahnya membentuk lingkaran. </p>
<p>Abu Daud dan Nasa’i meriwayatkan bahwa Nabi SAW menggerak-gerakkan jari telunjuknya sembil berdoa. Beliau bersabda ”(Gerakan jari telunjuk) lebih ditakuti setan daripada pukulan besi.” (HR Ahmad dan Bukhari). </p>
<p>Sebagian sahabat Nabi SAW telah mengambil suatu perbuatan atau meniru perbuatan sahabat yang lain yaitu menggerakkan telunjuknya sambil berdoa. Beliau SAW melakukan ini dalam dua tasyahhudnya (tasyahhud awal dan akhir). </p>
<p>Dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Nasa’i disebutkan bahwa Nabi SAW pernah melihat seorang sahabat berdoa sambil mengacungkan dua jarinya. Lalu Beliau SAW bersabda sambil mengacungkan telunjuknya kepada orang itu ”Satu saja! Satu saja!.” </p>
<p>B. Kewajiban Duduk Tasyahhud Awal Dan Membaca Doa </p>
<p>Nabi SAW membaca doa tahiyat setiap dua rakaat. Yang pertama kali Beliau SAW lakukan dalam duduk (pada rakaat kedua) adalah membaca “At-tahiyyatu lillah.” Apabila Beliau lupa melakukan duduk (tasyahhud) pada dua rakaat yang pertama maka Beliau melakukan sujud sahwi. Beliau SAW menyuruh melakukan itu, ”Bila kamu sekalian duduk pada setiap dua rakaat ucapkanlah at- </p>
<p>tahiyyat. Kemudian hendaklah seseorang memilih doa yang disenanginya dan memohon (apa yang </p>
<p>diminta) kepada Allah Yang Mahaperkasa dan Mahamulia.” (HR Nasa’i, Ahmad, dan Thabrani). </p>
<p>Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW mengajarkan tasyahhud kepada para sahabatnya seperti Beliau mengajarkan surah-surah al-Qur’an. Menurut sunnah (hadits riwayat Abu Daud dan Hakim), bacaan tasyahhud ini diucapkan dengan samar. </p>
<p>C. Macam-Macam Bacaan Tasyahhud </p>
<p>Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabatnya berbagai macam bacaan tasyahhud. </p>
<p>1. Tasyahhud Ibnu Mas’ud </p>
<p>Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan tasyahhud sambil </p>
<p>menggenggam tangannya seperti Beliau mengajarkan surah al-Qur’an, </p>
<p>”Attahiyyatulillah, washolawaatu wath-thoyyibaatu,a ssalaam u’alaika ayyuhannabiyyu&#8230;.. . (Semua ucapan penghormatan, pengagungan, dan pujian hanya milik Allah. Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah akan diberikan untukmu, wahai Nabi&#8230;. &#8230;&#8230;)(dan </p>
<p>seterusnya). </p>
<p>2. Tasyahhud Ibnu Abbas. </p>
<p>Ibnu Abbas berkata ”Rasulullah telah mengajarkan kepada kami tasyahhud sebagaimana Beliau </p>
<p>mengajarkan kepada kami surah al-Qur’an dimana bacaan tersebut berbunyi, </p>
<p>”Attahiyyaatul mubaarakaatush sholawaatuth thoyyibaatulillah,assalaamu’a laika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi bawarakaatuh. &#8230;.. (Segala ucapan penghormatan, berkah dan karunia, ucapan pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah. Semua perlindungan dan pmeliharaan akan diberikan untukmu, wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan karuniaNya. </p>
<p>&#8230;..)(dan seterusnya). </p>
<p>3. Tasyahhud Ibnu Umar </p>
<p>22 Dari 26 </p>
<p>Rasulullah SAW mengucapkan dalam tasyahhudnya, </p>
<p>”Attahiyyatulillah, washolawaatu wath-thoyyibaatu,assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh&#8230;.. (Semua ucapan penghormatan milik Allah, begitu pula kurnia dan pengagungan. Segala pertolongan dan pemeliharaan akan diberikan untukmu, wahai Nabi&#8230;&#8230;&#8230;.) (dan seterusnya). </p>
<p>4. Dan lain-lain. </p>
<p>Perlu diperhatikan :25 </p>
<p>Lafalassala amu ’ala ika ini hanya diucapkan pada saat Rasulullah SAW masih hidup saja oleh para sahabat. Ketika Rasulullah SAW sudah meninggal, para sahabat tidak lagi menggunakan kata- kata assalaamu’alaika lagi tetapi menggantinya dengan menggunakan kataassa la amu ’alannab i. Demikian yang telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud. </p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata ”(Tasyahhud No. 1 itu digunakan) Pada saat itu Beliau (Nabi SAW) berada </p>
<p>bersama kami, namun setelah Beliau SAW wafat, kami mengucapkan’ Assalaamu’alan nabi&#8230;. &#8230; ( </p>
<p>sampai dengan selesei)’.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah, </p>
<p>II/90/I juga oleh Siraj dan Abu Ya’la dalamMu snadnya II, halaman 528 hadits ini ditakhrij dalam </p>
<p>kitab Irwaa’ul Ghaliil No. 321. </p>
<p>Demikian juga Ibnu Hajar yang berkata ” Benar telah sahih riwayat itu tanpa keraguan (karena telah tetap riwayat tersebut dalam sahih al-Bukhari). Dan sungguh aku telah jumpai mutaba’an (riwayat yang lain) yang menguatkannya.” ’Abdur razzaq berkata : Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku, ia berkata, ’Atha’ mengabarkan kepadaku bahwasannya para sahabat dahulu ketika Nabi SAW masih hidup mengucapkan assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu. Setelah Beliau SAW wafat mereka mengucapkanassalaamu’alann abi. Riwayat ini sanadnya shahih. </p>
<p>Untuk lebih jelas pembahasan masalah ini silahkan membaca buku ”Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddin Dan Ahli Hadits Abad Ini” karangan Mubarak bin Mahfudh Bamuallim LC. Diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i, dalam bab ’Sunnah-Sunnah Yang Dihidupkan Oleh Imam Al- Albani’, halaman 101. </p>
<p>D. Shalawat Nabi, Tempat Dan Lafalnya </p>
<p>Rasulullah SAW membaca shalawat untuk dirinya pada tasyahhud awal dan lainnya. Beliau SAW menganjurkan umatnya untuk melakukan itu seperti Beliau memerintahkan untuk mengucapkan shalawat setelah mengucapkan salam kepadanya. Beliau SAW mengajarkan kepada para sahabat berbagai macam lafal shalawat. Diantaranya adalah sebagai berikut, </p>
<p>1.“Allahumma sholi ‘ala muhammad, wa’ala ahli baitih, wa’ala azwaajihi, wadzurriyyatihi, </p>
<p>kamaa shollaita ‘ala aali ibraahim, innaka hamiidun majiid, wabaarik ‘ala muhammad, wa’ala azwaajihii wadzurriyyatihi, kamaa baarakta ‘ala baitihi aali ibraahim innaka hamiidun majid(Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad26 keluarganya, istrinya, dan </p>
<p>25 Tulisan ini diambil dari buku ”Biografi Syaikh Al-Albani, Mujaddin Dan Ahli Hadits Abad Ini” karangan Mubarak bin </p>
<p>Mahfudh Bamuallim LC. Diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i, dalam bab ’Sunnah-Sunnah Yang Dihidupkan Oleh </p>
<p>Imam Al-Albani’, halaman 101. </p>
<p>26 Pengertian shalawat Nabi yang paling baik telah dikemukakan oleh Abu ‘Aliyah bahwa maksud Allah bershalawat </p>
<p>kepada Nabi adalah Allah memuji dan memuliakannya. Sedangkan maksud Malaikat bershalawat kepada Nabi adalah </p>
<p>mereka memohon kepada Allah untuk memberi kedudukan terpuji dan terhormat kepada Beliau. Ibnu Hajar dalam kitab </p>
<p>23 Dari 26 </p>
<p>keturunannya sebagaimana Engkau (Allah) telah berikan kepada keluarga Ibrahim. …… (dan </p>
<p>seterusnya). </p>
<p>Inilah lafal shalawat yang biasa dibaca Nabi SAW. </p>
<p>2.“Allahumma sholli ‘ala muhammad, wa’ala aali muhammad, kamaa shollaita ‘ala ib-roohiim, </p>
<p>wa’ala ib-rohiim, innaka hamiidun majiid, Allahumma baarik ‘ala muhammad, wa’ala aali muhammad, kamaa baarokta ‘ala ib-roohiim, wa’ala ib-rohiim, innaka hamiidun majiid” (Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan kepada keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung ………(dan seterusnya). </p>
<p>3.Dan lain-lain. </p>
<p>E. Bangkit Ke Rakaat Ketiga Dan Keempat </p>
<p>Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW bangkit ke rakaat ketiga seraya mengucapkan takbir. Beliau SAW memerintahkan orang yang shalatnya salah untuk melakukan itu sebagaimana sabdanya, ”Kemudian lakukanlah seperti itu pada setiap rakaat dan </p>
<p>sujud”. </p>
<p>Nabi SAW mengucapkan takbir ketika bangkit dari duduk, kemudian Beliau SAW berdiri. Beliau SAW kadang mengangkat kedua tangnnya bersamaan dengan mengucapkan takbir. Demikian yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Daud. </p>
<p>Apabila Beliau SAW hendak bangkit ke rakaat keempat, Beliau SAW mengucapkan” A lla hu </p>
<p>akbar”. Beliau SAW mengangkat kedua tangnnya bersamaan saat takbir. Beliau SAW menyuruh </p>
<p>orang yang shalatnya salah untuk melakukan seperti ini. </p>
<p>Kemudian Beliau SAW duduk tegak diatas kaki kirinya sampai ruas tulang punggungnya mapan (lurus). Lalu, Beliau SAW bangkit seraya bertumpu dengan tangannya ke tanah. Demikian diriwayatkan Bukhari dan Abu Daud. </p>
<p>F. Membaca Qunut Nazilah Pada Shalat Lima Waktu Karena Terjadi Musibah Yang Menimpa </p>
<p>Kaum Muslim </p>
<p>Imam Bukhari dan Ahmad meriwayatkan bahwa apabila Nabi SAW bermaksud memohon kebaikan atau kecelakaan bagi seseorang, Beliau SAW membaca qunut (do’a dalam shalat pada posisi berdiri) pada rakaat terakhir setelah bangkit dari ruku, yaitu setelah mengucapkan </p>
<p>sami’allaahu liman hamidah, allaahumma rabbana lakal hamdu. Beliau SAW mengucapkannya </p>
<p>dengan suara keras seraya mengangkat kedua tangannya dan para makmum dibelakang Beliau </p>
<p>SAW mengamininya (membaca amin). </p>
<p>Nabi SAW membaca qunut pada shalat-shalat wajib, tetapi Beliau SAW hanya melakukannya apabila memohon kebaikan atau malapetaka untuk suatu kaum. Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Daruquthni dan Ibnu Khuzaimah. </p>
<p>Beliau SAW pernah membaca do’a qunut sebagai berikut ”Allahumma anjil waliidabnal waliid, </p>
<p>wasalamatabna hisyam, wa’ayyaasyabna abii rabii’at, allahummasydud wath ataka ‘ala mudhoro waj’alhaa ‘alaihim kasinii yuusuf, allahummal’an lahyaana wara’laan wadzakwaana wa’ushoyyata ‘ashotillaha warasuulah” (Ya Allah selamatkanlah Walid bin Walid, Salamah bin Hisyam dan ’Ilyas bin Abi Rabi’ah. Ya Allah kuatkanlah cengkeramanMu kepada suku Mudhar </p>
<p>Fathul Bari mengemukakan pendapat yang populer tentang makna Allah bershalawat kepada Nabi yaitu Allah memberi rahmat kepadanya. Pembahasan secara mendetail telah dipaparkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab Jala’ul Afham. </p>
<p>sumber : Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Albani Rahimahullah &amp; Shahih bukhari </p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/709/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=709&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/06/05/kumpulan-hadits-ttg-sholat-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abd-Allah ibn Mas&#8217;ud ( bahasa Arab : عبدالله بن مسعود)</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/05/29/abd-allah-ibn-masud-bahasa-arab-%d8%b9%d8%a8%d8%af%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-%d8%a8%d9%86-%d9%85%d8%b3%d8%b9%d9%88%d8%af/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/05/29/abd-allah-ibn-masud-bahasa-arab-%d8%b9%d8%a8%d8%af%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-%d8%a8%d9%86-%d9%85%d8%b3%d8%b9%d9%88%d8%af/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 06:23:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedia]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[Abd-Allah ibn Mas&#8217;ud ( bahasa Arab : عبدالله بن مسعود) (d.ca.652) adalah orang 6 yang masuk Islam setelah Muhammad mulai berdakwah di Mekkah . Dia juga salah satu sahabat terdekat Muhammad. Ia adalah orang yang pertama kali mengumandangkan Al-Qur’an dengan suara merdu. Sebelum Rasulullah masuk kerumah Arqam, Abdullah bin Mas’ud telah beriman kepadanya dan merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=693&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
Abd-Allah ibn Mas&#8217;ud ( bahasa Arab : عبدالله بن مسعود) (d.ca.652) adalah orang 6 yang masuk Islam setelah Muhammad mulai berdakwah di Mekkah . Dia juga salah satu sahabat terdekat Muhammad.</p>
<p>Ia adalah orang yang pertama kali mengumandangkan Al-Qur’an dengan suara merdu.</p>
<p>Sebelum Rasulullah masuk kerumah Arqam, Abdullah bin Mas’ud telah beriman kepadanya dan merupakan orang keenam yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah SAW. Dengan demikian, ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam.</p>
<p><span class="mw-headline" id="Biography"><strong>Biografi</strong></span> </p>
<p><strong>pertemuan pertama dengan Muhammad</strong></p>
<p>Pertemuannya yang mula-mula dengan Rasulullah itu diceritakannya sebagai berikut:</p>
<p>“Ketika itu saya masih remaja, mengembalakan kambing kepunyaan ‘Uqbah bin Mu’aith. Tiba-tiba datang Nabi Muhammad SAW bersama Abu bakar, dan bertanya, “Hai nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami? “Aku orang kepercayaan,” ujarku, “dan tak dapat memberi anda minuman…!”<br />
Maka sabda Nabi SAW, “Apakah kamu punya kambing betina mandul yang belum dikawini oleh yang jantan…?” “Ada,” ujarku. Lalu saya bawa ia kepada mereka. Kambing itu diikat kakinya oleh Nabi lalu di sapu susunya sambil memohon kepada Allah SWT. Tiba-tiba susu itu berair banyak, kemudian Abu Bakar mengambilkan sebuah batu cembung yang di gunakan Nabi untuk menampungan perahan susu. Lalu Abu bakar minumlah dan saya pun tidak ketinggalan… setelah itu, Nabi menitahkan kepada susu, “Kempislah!” maka susu itu menjadi kempis…</p>
<p>Setelah peristiwa itu saya mendatangi Nabi, kataku, “Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebut!” Ujar Nabi SAW, ” Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar!”</p>
<p>Alangkah heran dan ta’jubnya Ibnu Mas’ud ketika menyaksikan seorang hamba Allah yang shalih dan utusan-Nya yang di percaya memohon kepada Tuhannnya sambil menyapu ke susu hewan yang belum pernah berair selama ini, tiba-tiba mengeluarkan kurnia dan rizqi dari Allah berupa air susu murni yang enak buat di minum…!</p>
<p>Pada saat itu belum disadarinya bahwa peristiwa yang disaksikannya itu hanyalah merupakan mu’jizat paling enteng dan tidak begitu berarti, dan bahwa tidak berapa lama lagi dari Rasulullah SAW yang mulia ini akan di saksikannya mu’jizat yang akan mengguncangkan dunia dan memenuhinya dengan petunjuk serta cahaya.</p>
<p>Bahkan pada saat itu juga belum di ketahuinya, bahwa yang dirinya sendiri yang ketika itu masih seorang remaja yang lemah lagi miskin, yang menerima upah sebagai pengembala kambing milik ‘uqbah bin Mu’aith, akan muncul sebagai salah satu dari mu’jizat ini, yang setelah di tempa oleh Islam akan menjadi seorang beriman, dan akan mengalahkan kesombongan orang-orang Quraisy dan menaklukan kesewenangan para pemukanya.</p>
<p><strong>Berdakwah Di Depan Pembesar Quraisy </strong></p>
<p>Maka ia, yang selama ini tidak berani lewat dihadapan salah seorang pembesar Quraisy kecuali dengan menjingkatkan kaki dan menundukan kepala, di kemudian hari setelah masuk Islam, ia tampil di didepan para majlis para bangsawan si sisi Ka’bah, sementara semua pemimpin dan pemuka Quraisy duduk berkumpul, lalu berdiri di hadapan mereka dan mengumandangkan suaranya yang merdu dan membangkitkan minat, berisikan wahyu Illahi Al-Qur’anul Karim:</p>
<p>“Bismillahirrahmaanirrahiim…<br />
Allah yang Maha Rahman…<br />
Yang telah mengajarkan Al-Qur’an…<br />
Menciptakan insan…<br />
Dan menyampaikan padanya penjelasan…<br />
Matahari dan bulan beredar menurut…<br />
Perhitungan…<br />
Sedang bintang dan kayu-kayuan sama…<br />
Sujud kepada Tuhan…</p>
<p>Lalu di lanjutkannya bacaanya, sementara pemuka-pemuka Quraisy sama terpesona, tidak percaya akan pandangan mata dan pendengaran telinga mereka… dan tak tergambar dalam fikiran mereka bahwa orang yang menantang kekuasaan dan kesombongan mereka…, tidak lebih dari seorang upahan di antara mereka, dan pengembala kambing dari salah seorang bangsawan Quraisy… yaitu Abdullah bin Mas’ud, seorang yang miskin yang hina dina…!</p>
<p>Marilah kita dengan keterangan dari saksi mata melukiskan peristiwa yang amat manarik dan mena’jubkan itu! Orang itu tiada lain dari Zubair r.a. katanya:</p>
<p>“Yang mula-mula menderas Al-Qur’an di Mekah setelah Rasulullah SAW adalah Abdullah bin Mas’ud r.a. pada suatu hari para sahabat Rasulullah SAW berkumpul, kata mereka, “Demi Allah orang-orang Quraisy belum lagi mendengar sedikitpun Al-Qur’an ini di baca dengan suara keras di hadapan mereka. Nah, siapa diantara kita yang bersedia mendengarkannya kepada mereka…?”</p>
<p>Maka kata Abdullah bin Mas’ud, “Saya.” Kata mereka, “Kami khawatir akan keselamatan dirimu! Yang kami inginkan adalah seorang laki-laki yang mempunyai kerabat yang akan mempertahankan dari orang-orang itu jika mereka bermaksud jahat…” “Biarkanlah saya!”kata Abdullah bin Mas’ud pula, “Allah pasti membela.”</p>
<p>Maka datanglah Abdullah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy di waktu Dhuha, yakni ketika mereka berada di balai pertemuannya… Ia berdiri di panggung lalu membaca “Bismillahirrahmaanirrahiimi” dan dengan mengeraskannya suaranya; Arrahman…’allamal Qur’an…<br />
Lalu sambil menghadap kepada mereka di terusksanlah bacaannya. Mereka memperhatikannya sambil bertanya sesamanya, “Apa yang di baca oleh anak si Ummu’Abdin itu…? Sungguh, yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad!”</p>
<p>Mereka bangkit mendatanginya dan memukulinya, sedang Abdullah bin Mas’ud membacanya sampai batas yang di kehendaki Allah… Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak belur ia kembali kapada para sahabat. Kata mereka, “Inilah yang kami khawatirkan tentang dirimu…!” Ujar Abdullah bin Mas’ud, “Sekarang ini tak ada yang lebih mudah bagiku dari menghadapi musuh-musuh Allah itu! Dan seandainya tuan-tuan menghendaki, saya akan mendatangi mereka lagi dan berbuat yang sama esok hari…!” Ujar mereka, “Cukuplah demikian! Kamu telah membacakan kepada mereka barang yang menjadi tabu bagi mereka!”</p>
<p>Benar, pada saat Abdullah bin Mas’ud tercengang melihat susu kambing tiba-tiba berair sebelum waktunya, belum menyadari bahwa ia bersama kawan-kawan senasib dari golongn miskin tidak berpunya, akan menjadi salah satu mu’jizat besar dari Rasulullah saw, yakni ketika mereka bangkit memanggul panji-panji Allah dan menguasai dengannya cahaya siang dan sinar matahari. Tidak di ketahuinya bahwa saat itu telah dekat… Kiranya secepat itu hari datang dan lonceng waktu telah berdentang, anak remaja buruh miskin dan terlunta-lunta serta merta menjadi suatu mu’jizat di antara berbagai mu’jizat Rasulullah SAW …!</p>
<p><strong>Profil Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud</strong><br />
Dalam kesibukan dan perpacuan hidup, tiadalah ia akan menjadi tumpuan mata… Bahkan di daerah yang jauh dari kesibukan pun juga tidak…! Tak ada tempat baginya di kalangan hartawan, begitupun di dalam lingkungan ksatria yang gagah perkasa, atau dalam deretan orang-orang yang berpengaruh.<br />
Dalam soal harta, ia tak punya apa-apa, tentang perawakan ia kecil dan kurus, apalagi dalam soal pengaruh, maka derajatnyapun di bawah… tapi sebagai ganti dari kemiskinnaya itu, Islam telah memberinya bagian yang melimpah dan perolehan yang cukup dari perbendaharaan Kisra dan simpanan Kaisar. Dan sebagai imbalan dari tubuh yang kurus dan jasmani yang lemah, di anugerahi-Nya kemauan baja yang dapat menundukan para adikara dan ikut mengambil bagian dalam merubah jalan sejarah. Dan untuk mengimbangi nasibnya yang tersia terlunta-lunta, Islam telah melimpahnya ilmu pengetahuan, kemuliaan, serta ketetapan yang menampilkannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah kemanusiaan.</p>
<p>Sungguh, tidak meleset kiranya pandangan jauh Rasulullah SAW ketika beliau mengatakan padanya, “Kamu akan menjadi seorang pemuda terpelajar.” Ia telah di beri pelajaran oleh Tuhannya hingga menjadi faqih atau ahli hukum ummat Muhammad saw, dan tulang punggung para huffadh Al-Qur’anul Karim.</p>
<p>Mengenai dirinya ia pernah mengatakan, “Saya telah menampung 70 surat Al Qur’an yang dengan langsung dari Rasulullah saw tiada seorang pun yang menyaingiku dalam hal ini…”</p>
<p>Dan rupanya Allah SWT memberinya anugerah atas keberaniannya mempertaruhkan nyawa dalam mengumandangkan Al-Qur’an secara terang-terangkan dan menyebarluaskannya di segenap pelosok kota Mekah di saat siksaan dan penindasan merajalela, maka di anugerahi-Nya bakat istimewa dalam membawakan bacaan Al-Qur’an dan kemampuan luar biasa dalam memahami arti dan maksudnya.</p>
<p>Rasulullah saw telah memberi wasiat kepada para sahabat agar mengambil Abdullah bin Mas’ud sebagai teladan, sabda Rasulullah SAW, “Berpegangteguhlah pada kepada ilmu yang diberikan oleh ibnu ummi ‘Abdin…!</p>
<p>Diwashiatkannya pula agar mencontoh bacaannya, dan mempelajari cara membaca Al-Qur’an dari padanya. Sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang ingin hendak membaca Al Qur’an tepat seperti di turunkan, hendaklah ia membacanya seperti Ibnu Ummi ‘Abdin…!”</p>
<p>Sungguh, telah lama Rasulullah menyenangi bacaan Al-Qur’an dari mulut Ibnu Mas’ud…</p>
<p>Pada suatu hari ia memanggilnya sabdanya, “Bacakanlah kepadaku, hai Abdullah!”<br />
“Haruskah aku membacakannya pada anda, wahai Rasulullah…?”<br />
Jawab Rasulullah, “Saya ingin mendengarnya dari mulut orang lain.”</p>
<p>Maka Ibnu Mas’ud pun membacanya di mulai dari surat An-Nisa hingga pada sampai firman Allah ta’ala, “Maka betapa jadinya bila Kami jadikan dari setiap ummat itu seorang saksi, sedangkan kamu Kami jadikan sebagai saksi bagi mereka…! Ketika orang-orang kafir yang mendurhakai Rasulullah SAW sama berharap kiranya mereka disama ratakan dengan bumi…! Dan mereka tidak dapat merasahasiakan pembicaraan dengan Allah…!” (Q. S. An-Nisa: 41-42)</p>
<p>Maka Rasulullah SAW tak dapat menahan tangisnya, air matanya meleleh dan dengan tangannya di isyaratkan kepada Ibnu Mas’ud yang maksudnya, “Cukup…, cukuplah sudah, hai Ibnu Mas’ud…!”</p>
<p>Suatu ketika pernah pula Ibnu Mas’ud menyebut-nyebut karunia Allah kepadanya, katanya, “Tidak suatu pun dari Al-Qur’an itu yang di turunkan, kecuali aku mengetahui mengenai peristiwa apa yang di turunkannya. Dan tidak seorangpun yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripadaku. Dan sekiranya aku tahu ada seseorang yang dapat di capai dengan berkendaraan unta dan ia lebih tahu tentang Kitabullah daripadaku, pastilah aku akan menemuinya. Tetapi aku bukanlah yang terbaik di antaramu!”</p>
<p>Keistimewaan Ibnu Mas’ud ini telah diakui oleh para sahabat. Amirul Mu’minin, Umar, berkata mengenai dirinya, “Sungguh ilmunya tentang fiqih berlimpah-limpah.”</p>
<p>Dan berkata Abu Musa Al Qur’an-Asy’ari, “Jangan tanyakan kepada kami sesuatu masalah selama kyai ini berada pada tuan-tuan!”</p>
<p>Tidak hanya keunggulannya dalam Al-Qur’an dan ilmu fiqih saja yang patut beroleh pujian, tetapi juga keunggulannya dalam keshalihan dan ketakwaan.</p>
<p>Berkata Hudzaifah tentang dirinya, “Tidak seorangpun saya lihat yang lebih mirip Rasulullah saw baik dalam cara hidup, perilaku dan ketenangan jiwanya, dari pada Ibnu Mas’ud… dan orang-orang yang di kenal dari sahabat-sahabat Rasulullah saw sama mengetahui bahwa puteranya dari Ummi ‘Abdin adalah yang paling dekat kepada Allah…!”</p>
<p>Pada suatu hari serombongan sahabat berkumpul pada Ali Karamullahu Wajhah (semoga allah memuliakan wajah atau dirinya), lalu kata mereka kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, kami tidak melihat orang yang lebih berbudi pekerti, lebih lemah lembut dalam mengajar, begitupun yang lebih baik pergaulannya, dan lebih shalih dari pada Abdullah bin Mas’ud…!” Ujar Ali, “Saya minta tuan-tuan bersaksi kepada Allah, apakah ini betul-betul tulus dari hati tuan-tuan…?” “Benar,” ujar mereka.</p>
<p>Kata Ali pula, “Ya Allah, saya mohon Engkau menjadi saksinya,bahwa saya berpendapat mengenai dirinya seperti apa yang mereka katakan itu, atau lebih baik dari itu lagi… Sungguh, telah di bacanya Al Qur’an, maka dihalalkannya barang yang halal dan di haramkannya barang yang haram…, seorang yang ahli dalam soal keagamaan dan luas ilmunya tentang as-Sunnah…!”</p>
<p>Suatu ketika para sahabat memperkatakan pribadi Abdullah bin Mas’ud, kata mereka, “Sungguh, sementara kita terhalang, ia diberi restu, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan (tingkah laku Rasulullah SAW)…”</p>
<p>Maksud mereka ialah bahwa Abdullah bin Mas’ud beruntung mendapat kesempatan berdekatan dengan Rasulullah saw, suatu hal yang jarang di dapat oleh orang lain. Ia lebih sering masuk kerumah Rasulullah SAW dan menjadi teman duduknya. Dan lebih-lebih lagi ia ialah tempat Rasulullah SAW menumpahkan keluhan dan mempercayakan rahasianya, hingga ia di beri gelar “Peti Rahasia.”</p>
<p>Berkata Abu Musa Al-Qur’an-Asy’ari, “Sungguh setiap saya melihat Rasulullah saw, pastilah Ibnu Mas’ud berada menyertainya…”</p>
<p>Adapun yang menjadi sebab ialah karena Rasulullah SAW amat menyayanginya, terutama keshalihan dan kecerdasannya serta kebesaran jiwanya, hingga Rasulullah SAW pernah bersabda mengani dirinya, “Seandainya saya hendak mengangkat seseorang sebagai amir tanpa musyawarat dengan kaum muslimin, tentulah yang saya angkat itu Ibnu Ummi ‘Abdin…”</p>
<p>Dan telah kita kemukakan wasiat Rasulullah SAW kepada para sahabatnya, “Berpegang teguhlah kepada ilmu Ibnu Ummi ‘Abdun!”</p>
<p>Maka kesayangan dan kepercayaan ini memungkinkannya untuk bergaul rapat dengan Rasulullah saw, hingga ia beroleh hak yang tidak di berikannya kepada orang lain, bersabda Rasulullah SAW kepadanya, “Saya idzinkan kamu bebas dari tabir hijab…!”</p>
<p>Ini merupakan lampu hijau bagi Ibnu Mas’ud untuk masuk rumah Rasulullah saw dan pintunya senantiasa terbuka baginya, biar siang maupun malam, dan inilah yang pernah di perkatakan oleh para sahabat , “Sementar kita terhalang, ia di beri izin, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan…”</p>
<p>Dan memang Ibnu Mas’ud banyak untuk memeproleh keistimewaan ini… Karena walupun pergaulan rapat seperti ini akan memberikan padanya keuntungan, tetapi Ibnu Mas’ud hanya bertambah khusu’, tambah hormat dan sopan santun…</p>
<p>Mungkin gambar yang melukiskan akhlaknya secara tepat, ialah sikapnya ketika menyampaikan hadith dari Rasulullah SAW setelah beliau wafat. Walaupun ia jarang menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW, tetapi kita lihat setiap ia menggerakan kedua bibirnya untuk mengatakan, “Saya dengar Rasulullah saw menyampaikan hadits dan bersabda…,” maka tubuhnya gemetar dengan amat sangat, dan ia tampak gugup dan gelisah. Sebabnya tiada lain karena takutnya akan alpa, hingga bersalah menaruh kata di tempat yang lain…!</p>
<p>Marilah kita dengarkan kawan-kawanya melukiskan gejala-gejala ini! Berkatalah ‘Amar bin Maimun:</p>
<p>“Saya bolak-bolak kerumah Abdullah bin Mas’ud ada setahun lamanya, dan selama itu tak pernah saya dengar ia menyampaikan hadits dari Rasulullah SAw, kecuali sebuah hadits yang di sampaikannya pada suatu hari. Dari mulutnya mengalir ucapan: ‘Telah bersabda Rasulullah SAW, tiba-tiba ia kelihatan gelisah hingga tanpak keringat bercucuran dari keningnya.’ Kemudian katanya megulangi kata-kata yang tadi, ‘Kira-kira demikianlah disabdakan oleh Rasulullah SAW…’”</p>
<p>Dan bercerita Al-Qamah bin Qais:<br />
Biasanya Abdullah bin Mas’ud berpidato setiap hari Kamis sore menyampaikan Hadits. Tidak pernah saya dengar ia mengucapkan, “Telah bersabda Rasulullah SAW,” kecuali satu kali saja… disaat itu saya melihat ia bertelekan tongkat, dan tongkatnya itupun bergetar dan bergerak-gerak…”</p>
<p>Dan di ceritakan pula oleh Masruq mengenai Abdullah ini:<br />
“Pada suatu hari Ibnu Mas’ud menyampaikan sebuah Hadits, katanya, “Saya dengar Rasulullah SAW…” Tiba-tiba ia jadi gemetar, dan pakainnya bergetar pula… kemudian katanya, “Atau kira-kira demikian…, atau kira-kira seperti itulah…”</p>
<p>Nah, sampai sejauh inilah ketelitian, penghormatan dan penghargaannya kepada Rasulullah SAW… disamping menjadi bukti ketaqwaannya, ketelitian, dan penghormatannya ini merupakan tanda kecerdasannya…!</p>
<p>Orang yang lebih banyak bergaul dengan Rasulullah SAW, penilaiannya tehadap kemuliaan Rasulullah SAW lebih tepat… dan itulah sebabnya adab sopan santunnya terhadap Rasulullah saw ketika beliau masih hidup, begitupun kenangan kepada beliau setelah wafatnya, merupakan adab sopan santun satu-satunya dan tak ada duanya…!</p>
<p>Ibnu Mas’ud tak hendak berpisah dari Rasulullah saw baik di waktu bermukim maupun di waktu bepergian. Ia telah turut mengambil bagian dalam setiap peperangan dan pertempuran. Dan peranannya dalam perang badar meninggalkan kenangan yang tak dapat di lupakan, yakni rubuhnya Abu Jahal oleh tebusan pedang kaum muslimin pada hari yang keramat itu…</p>
<p>Khalifah-khalifah dan para sahabat Rasulullah SAW mangakui kedudukannya ini, hingga ia diangkat oleh Amirul Mu’minin Umar sebagai Bendaharawan di kota Kufah. Kepada penduduk waktu mengirimnya itu mengatakan:</p>
<p>“Demi Allah yang tiada Tuhan mealinkan dia , sungguh saya lebih mementingkan tuan-tuan dari pada diriku, maka ambilah dan pelajarilah ilmu dari padanya…!”</p>
<p>Dan penduduk Kufah telah mencintainya, suatu hal yang belum pernah di peroleh orang-orang sebelumnya, atau orang yang setaraf dengannya… Sungguh, kebulatan penduduk Kufah untuk mencintai seseorang, merupakan suatu hal yang mirip dengan mu’jizat… sebabnya ialah karena mereka biasa menentang dan memberontak, mereka tidak tahan menghadapi hidangan yang serupa…, dan tidak mampu hidup selalu dalam aman tenteram…!</p>
<p>Dan karena kecintaan mereka kepadanya demikian rupa, sampai-sampai mereka mengerumuni dan mendesaknya sewaktu ia hendak di perhentikan oleh Khlaifah Utsman r.a dari jabatannya, kata mereka, “Tetaplah anda tinggal bersama kami di sini dan jangan pergi, dan kami bersedia membela anda dari mala petaka yang menimpa anda!”</p>
<p>Tetapi dengan kalimat yang menggambarkan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, Ibnu Mas’ud menjawab, katanya, “Saya harus taat kepadanya, dan dibelakang hari akan timbul fitnah, dan saya tak ingin menjadi orang yang mula-mula membukakan pintunya…!”</p>
<p>Pendirian mulia dan terpuji ini mengungkapkan kepada kita hubungan Ibnu Mas’ud dengan khalifah Utsman r.a. Di antara mereka telah terjadi perdebatan dan perselisihan yang makin lama makin sengit, hingga gaji dan tunjangan pensiunannya di tahan dari baitulmal. Walau demikian, tidak sepatah kata pun yang tidak baik, kelauar dari mulutnya mengenai Utsman, bahkan ia berdiri sebagai pembela dan memperingatkan rakyat ketika di lihatnya persekongkolan di masa Utsman itu telah meningkat menjadi suatu pemberontakan. Dan ketika terbetik berita ketelinganya mengenai percobaan untuk membunuh Khalifah Utsman itu, keluarlah dari mulutnya ucapan yang terkenal:<br />
“Sekiranya mereka membunuhnya, maka tak ada lagi orang yang sebanding dengannya yang akan mereka angkat sebagai khalifah…” Dalam pada itu, di antara kawan-kawan Ibnu Mas’ud ada yang berkata, “tak pernah saya dengar Ibnu Mas’ud mengeluarkan cercaan satu kata pun terhadap Utsman…”</p>
<p>Allah SWT telah menganugerahinya hikmah sebagaimana telah memberinya sifat taqwa. Ia memiliki kemampuan untuk melihat yang jauh ke dasar yang dalam, dan mengungkapnya secara menarik dan tepat.</p>
<p>Marilah kita dengar ucapannya yang menggambarkan kesimpulan hidup yang istimewa dari Umar dengan kata-kata singkat tapi padat dan mena’jubkan, katanya, “Islamnya mereka suatu kemenangan…, hijrahnya mereka pertolongan…, sedang pemerintahannya menajdi suatu rahmat.”</p>
<p>Berbicara tentang apa yang dikatakan orang seakrang tentang relativitas masa, ia mengatakan, “Bagi Tuhan kalian tiada siang dan malam…! Cahaya langit dan bumi itu bersumber dari cahayanya…!”</p>
<p>Ia juga berbicara tentang pekerja dan betapa pentingnya mengangkat taraf budaya kaum pekerja ini katanya, “Saya amat benci melihat seorang laki-laki yang menganggur tak ada usahanya untuk kepentingan dunia, dan tidak pula untuk kepentingan akhirat.”</p>
<p>Dan diantara kata-katanya yang bersayap ialah:<br />
“Sebaik-baik kaya ialah kaya hati;<br />
sebaik-baik bekal ialah taqwa;<br />
seburuk-buruk buta ialah buta hati;<br />
sebesar-besar dosa ialah berdusta;<br />
sejelek-jelek uasaha ialah memungut riba;<br />
seburuk-buruk makanan ialah memakan harta anak yatim;<br />
siapa yang memaafkan orang akan di maafkan Allah;<br />
dan siapa yang mengampuni orang akan diampuni Allah.”</p>
<p>Nah, itulah gambaran singkat Abdullah bin Mas’ud sahabat Rasulullah SAW; dan itulah dia, kilasan dari suatu kehidupan besar dan perkasa yang dilalui pemiliknya di jalan Allah dan Rasul-Nya serta Agama-Nya.</p>
<p>Itulah dia, laki-laki yang ukuran tubuhnya seumpama tubuh burung merpati, kurus dan pendek, hingga badannya tidak akan berapa bedanya dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan kempes, yang tampak ketika ia memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk di gunakan Rasulullah SAW. Para sahabat sama menetertawakannya ketika melihat kedua betisnya itu. Maka bersabdalah Rasulullah SAW, “Tuan-tuan menetertawkan betis Ibnu Mas’ud , keduanya disisi Allah lebih berat timbangannya dari gunung Uhud!”</p>
<p>Memang, inilah dia orang yang berasal dari keluarga miskin, buruh upahan, kurus dan hina, tetapi keyakinan dan keimanannya telah menjadikannya saah seorang imam di antara imam-imam kebaikan, petunjuk dan cahaya.</p>
<p>Ia telah di karunia taufiq dan ni’mat oleh Allah yang menyebabkannya termasuk dalam golongan “sepuluh orang sahabat Rasulullah SAW yang pertama masuk Islam,” yakni orang-orang yang selagi hidupnya telah menerima berita gembira beroleh ridla Allah SWT dan surga-Nya.</p>
<p>Ia telah terjun dan tak pernah absen dalam setiap perjuangan yang berakhir dengan kemenangan di masa Rasulullah saw, begitupun di masa Khalifah sepeninggal beliau. Dan dia turut menyaksikan dua buah imperiaum dunia membukakan pintunya dengan tunduk dan patuh di masuki panji-panji Islam dan ajarannya.</p>
<p>Disaksikannya jabatan-jabatan yang tersedia dan menunggu orang-orang Islam yang mau mendudukinya, begitu pun harta yang tidak terkira banyaknya bertumpuk-tumpuk di hadapan mereka, tetapi tidak satupun yang mengusik dan melupakannya dari janji yang telah di ikrarkannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, atau merintangi dari garis hidup dan ketekunan ibadat yang di liputi rasa khsusu’ dan tawadlu’.</p>
<p>Dan diantar keinginan dan cita-cita hidup, tidak satupun yang menarik hatinya kecuali sebuah, yakni yang selalu di rindukan, menjadi bauh bibir dan senandungnya, serta menjadi angan-angan untuk mendapatkannya.</p>
<p>Nah, marilah kita simak, kata-kata yang ia sendiri menceritakan hal itu kepada kita:</p>
<p>“Aku bangun di tengah malam, ketika itu aku mengikuti Rasulullah SAW di perang Tabuk. Maka tampaklah olehku nyala api di pinggir perkemahan, lalu kudekati untuk melihatnya. Kiranya Rasulullah SAW bersama Abu Bakar dan Umar. Rupanya mereka sedang menggali kuburan untuk Abdullah Dzulbijadain An-Muzanni yang ternyata telah wafat. Rasulullah SAW ada di dalam lubang kubur itu, sementara Abu Bakar dan Umar mengulurkan jenazah kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, “Ulurkanlah lebih dekat padaku saudara tuan-tuan itu…! Lalu mereka mengulurkan kepadanya. Dan tatkala di letakkannya di lubang lahat, beliau berdo’a, “Ya Allah, aku telah ridla kepadanya, maka ridla’i pula ia oleh-Mu! Alangkah baiknya sekiranya akulah yang menjadi pemilik liang kubur itu!”</p>
<p>Nah, itulah dia satu-satunya cita-cita yang di harapkan dan di angan-angankan selagi hidupnya.</p>
<p>Dan sebagai anda ketahui, ia tak pernah mencari kesempatan untuk mendapatkan sesuatu untuk di kejar-kejar dan di perebutkan orang, berupa kemuliaan, kekayaan, pengaruh atau jabatan.</p>
<p>Hal ini karena cita-citanya adalah cita-cita seorang tokoh yang mendapat petunjuk dari Allah SWT memperoleh tuntutan dari Al-Qur’an, dan menerima didikan dari Rasulullah SAW.</p>
<p>sumber : http://sunatullah.com/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/693/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=693&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/05/29/abd-allah-ibn-masud-bahasa-arab-%d8%b9%d8%a8%d8%af%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-%d8%a8%d9%86-%d9%85%d8%b3%d8%b9%d9%88%d8%af/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abdullah bin Abbas</title>
		<link>http://waterboyry.wordpress.com/2010/05/29/abdullah-bin-abbas/</link>
		<comments>http://waterboyry.wordpress.com/2010/05/29/abdullah-bin-abbas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 05:39:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>waterboyry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedia]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://waterboyry.wordpress.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[Abdullah bin Abbas Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi, cari Abdullah bin Abbas (Bahasa Arab عبد الله بن عباس) adalah seorang Sahabat Nabi, dan merupakan anak dari Abbas bin Abdul-Muththalib, paman dari Rasulullah Muhammad SAW. Dikenal juga dengan nama lain yaitu Ibnu Abbas (619 &#8211; Thaif, 687/68H). Ibnu Abbas merupakan salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=687&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Abbas"></a></p>
<h1 id="firstHeading" class="firstHeading">Abdullah bin Abbas</h1>
<div id="bodyContent">
<h3 id="siteSub">Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas</h3>
<div id="contentSub"></div>
<div id="jump-to-nav">Langsung ke: <a href="#column-one">navigasi</a>, <a href="#searchInput">cari</a></div>
<p>		<!-- start content --></p>
<p><b>Abdullah bin Abbas</b> (<a href="/wiki/Bahasa_Arab" title="Bahasa Arab">Bahasa Arab</a> <big></big><big>عبد الله بن عباس</big>) adalah seorang <a href="/wiki/Sahabat_Nabi" title="Sahabat Nabi">Sahabat Nabi</a>, dan merupakan anak dari <a href="/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib" title="Abbas bin Abdul-Muththalib">Abbas bin Abdul-Muththalib</a>, paman dari Rasulullah <a href="/wiki/Muhammad" title="Muhammad">Muhammad</a> SAW. Dikenal juga dengan nama lain yaitu <b>Ibnu Abbas</b> (<a href="/wiki/619" title="619">619</a> &#8211; <a href="/wiki/Thaif" title="Thaif" class="mw-redirect">Thaif</a>, <a href="/wiki/687" title="687">687</a>/68H).</p>
<p>Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat yang berpengetahuan luas, dan banyak <a href="/wiki/Hadits" title="Hadits">hadits</a> sahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta beliau juga menurunkan seluruh <a href="/wiki/Khalifah" title="Khalifah">Khalifah</a> dari <a href="/wiki/Bani_Abbasiyah" title="Bani Abbasiyah">Bani Abbasiyah</a>.</p>
<table id="toc" class="toc">
<tbody>
<tr>
<td>
<div id="toctitle">
<h2>Daftar isi</h2>
<p> <span class="toctoggle">[<a href="toggleToc%28%29" class="internal" id="togglelink">sembunyikan</a>]</span></p>
</div>
<ul>
<li class="toclevel-1 tocsection-1"><a href="#Biografi"><span class="tocnumber">1</span> <span class="toctext">Biografi</span></a>
<ul>
<li class="toclevel-2 tocsection-2"><a href="#Keluarga"><span class="tocnumber">1.1</span> <span class="toctext">Keluarga</span></a></li>
</ul>
</li>
<li class="toclevel-1 tocsection-3"><a href="#Hadis_Tentang_Dia"><span class="tocnumber">2</span> <span class="toctext">Hadis Tentang Dia</span></a></li>
<li class="toclevel-1 tocsection-4"><a href="#Referensi"><span class="tocnumber">3</span> <span class="toctext">Referensi</span></a></li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>
//
</p>
<h2><span class="editsection">[<a href="/w/index.php?title=Abdullah_bin_Abbas&amp;action=edit&amp;section=1" title="Sunting bagian: Biografi">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline" id="Biografi">Biografi</span></h2>
<h3><span class="editsection">[<a href="/w/index.php?title=Abdullah_bin_Abbas&amp;action=edit&amp;section=2" title="Sunting bagian: Keluarga">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline" id="Keluarga">Keluarga</span></h3>
<p>Dia merupakan anak dari keluarga yang kaya dari perdagangan bernama <a href="/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib" title="Abbas bin Abdul-Muththalib">Abbas bin Abdul-Muththalib</a>, maka dari itu dia dipanggil <b>Ibnu Abbas</b>, <i>anak dari Abbas</i>. Ibu dari Ibnu Abbas adalah <a href="/wiki/Ummu_al-Fadl_Lubaba" title="Ummu al-Fadl Lubaba" class="mw-redirect">Ummu al-Fadl Lubaba</a>, yang merupakan wanita kedua yang masuk Islam, melakukan hal yang sama dengan teman dekatnya <a href="/wiki/Khadijah_binti_Khuwailid" title="Khadijah binti Khuwailid">Khadijah binti Khuwailid</a>, istri Rasululah. <sup class="reference"><a href="#cite_note-0">[1]</a></sup>.</p>
<p>Ayah dari Ibnu Abbas dan ayah dari <a href="/wiki/Muhammad" title="Muhammad">Muhammad</a> merupakan anak dari orang yang sama, <a href="/wiki/Syaibah_bin_H%C3%A2syim" title="Syaibah bin Hâsyim">Syaibah bin Hâsyim</a>, lebih dikenal dengan nama <a href="/wiki/Abdul-Muththalib" title="Abdul-Muththalib" class="mw-redirect">Abdul-Muththalib</a>. Ayah orang itu adalah <a href="/wiki/Hasyim_bin_Abdulmanaf" title="Hasyim bin Abdulmanaf" class="mw-redirect">Hasyim bin Abdulmanaf</a>, penerus dari <a href="/wiki/Bani_Hasyim" title="Bani Hasyim">Bani Hasyim</a> klan dari <a href="/wiki/Quraisy" title="Quraisy">Quraisy</a> yang terkenal di <a href="/wiki/Mekkah" title="Mekkah">Mekkah</a>. Ibnu Abbas juga memiliki seorang saudara bernama <a href="/wiki/Fadl_bin_Abbas" title="Fadl bin Abbas">Fadl bin Abbas</a></p>
<h2><span class="editsection">[<a href="/w/index.php?title=Abdullah_bin_Abbas&amp;action=edit&amp;section=3" title="Sunting bagian: Hadis Tentang Dia">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline" id="Hadis_Tentang_Dia">Hadis Tentang Dia</span></h2>
<ul>
<li><i>Ibnu Abbas pernah didekap Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW berkata, Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah. Yang dimaksud hikmah adalah pemahaman terhadap Al-Qur&#8217;an</i>. <sup class="reference"><a href="#cite_note-1">[2]</a></sup></li>
</ul>
<p>Ibnu Abbas pernah melihat <a href="/wiki/Malaikat_Jibril" title="Malaikat Jibril" class="mw-redirect">Malaikat Jibril</a> dalam dua kesempatan, Ibnu Abbas berkata:</p>
<ul>
<li><i>Aku bersama bapakku di sisi Rasulullah dan di samping Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya. Maka seakan-akan beliau berpaling dari bapakku. Kemudian kami beranjak dari sisi Rasulullah seraya bapakku berkata, Wahai anakku, tahukah engkau kenapa anak laki-laki pamanmu (Rasulullah) seperti berpaling (menghindari aku)? Maka aku menjawab, Wahai bapakku, sesungguhnya di sisi Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya. Ibnu Abbas berkata, Kemudian kami kembali ke hadapan Rasulullah lantas bapakku berkata, Ya Rasulullah aku berkata kepada Abdullah seperti ini dan seperti itu, kemudian Abdullah menceritakan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki di sampingmu yang berbisik-bisik kepadamu. Apakah benar memang ada seseorang di sampingmu? Rasulullah balik bertanya, Apakah engkau melihatnya ya Abdullah? Kami menjawab, Ya. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya ia adalah Jibril alaihiwassalam. Dialah yang menyibukkan kami dari kamu sekalian</i>. <sup class="reference"><a href="#cite_note-2">[3]</a></sup></li>
</ul>
<ul>
<li><i>Abbas mengutus Ibnu Abbas kepada Rasulullah dalam suatu keperluan, dan Ibnu Abbas menjumpai Rasulullah bersama seorang laki-laki. Maka tatkala ia kembali dan tidak bicara kepada Rasulullah, maka Rasulullah bersabda, Engkau melihatnya&nbsp;? Abdullah (Ibnu Abbas) menjawab, Ya, Rasulullah bersabda, Ia adalah Jibril. Iangatlah sesungguhnya ia tidak akan mati sehingga hilang pandangannya (buta) dan diberi (didatangkan ilmu).</i> <sup class="reference"><a href="#cite_note-3">[4]</a></sup></li>
</ul>
<p>Ia pernah di doakan Nabi dua kali, saat didekap beliau dan saat ia melayani Rasulullah dengan mengambil air wudlu, Rasululah berdoa, Ya Allah fahamkanlah (faqihkanlah) ia. (HR. Muslim)</p>
<p>Ibnu Abbas wafat pada tahun 78 hijriyah, dalam usia 75 tahun, diriwayat lain 81 tahun. Dari Ibnu Jubair menceritakan, bahwa Ibnu Abbas wafat di Thaif.</p>
<h2><span class="editsection">[<a href="/w/index.php?title=Abdullah_bin_Abbas&amp;action=edit&amp;section=4" title="Sunting bagian: Referensi">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline" id="Referensi">Referensi</span></h2>
<div class="references-small">
<ol class="references">
<li id="cite_note-0"><b><a href="#cite_ref-0">^</a></b> <a href="http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html" class="external free" rel="nofollow">http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html</a></li>
<li id="cite_note-1"><b><a href="#cite_ref-1">^</a></b> HR. Tirmidzi dalam Tuhfatul Ahwadzi Juz X No. 40077.</li>
<li id="cite_note-2"><b><a href="#cite_ref-2">^</a></b> HR. Ahmad dalam Fathu Rabbani dan A-Thabrani dengan sanad shahih</li>
<li id="cite_note-3"><b><a href="#cite_ref-3">^</a></b> HR. Thabrani dengan sanad dan rijal kuat</li>
<p> Sang Lautan Ilmu, Ibnu Abbas</p>
<p>Wednesday, 23 December 2009 03:30 Andi Rahmanto</p>
<p>E-mail PDF</p>
<p>0 Comments</p>
<p>Ibnu Abbas adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf Al-Quraisyi, putra paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibunya bernama Ummu Fadhl Lubanah binti Al-Harits Al-Hilaliah. Ia dilahirkan ketika Bani Hasyim berada di Syi’ib, tiga atau lima tahun sebelum Hijriah, namun pendapat pertama lebih kuat.</p>
<p>Abdullah bin Abbas menunaikan ibadah haji pada tahun Utsman bin Affan terbunuh. Ketika terjadi perang Shiffin, ia berada di Al-Maisarah, kemudian diangkat menjadi gubernur Basrah dan selanjutnya menetap disana sampai ketika Ali radhiyallhu ‘anhu terbunuh. Kemudian ia mengangkat Abdullah bin Harits sebagai penggantinya, gubernur Basrah. Kemudian Abdullah bin Abbas kembali ke Hijaz. Ia sendiri wafat di Thaif pada 65 Hijriah. Sedangkan pendapat lain menyatakan pada tahun 67 atau 68 Hijriah. Namun pendapat terakhir inilah yang dianggap sebagai pendapat paling shahih oleh para jumhur ulama. Al-Waqidi menerangkan tidak ada selisih pendapat di antara para imam bahwa Ibnu Abbas dilahirkan di Syi’ib ketika kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim, dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, ia baru berusia tiga belas tahun.</p>
<p>Posisi dan Keilmuannya</p>
<p>Ibnu Abbas dikenal dengan gelar Turjuman Al-Qur’an (penafsir Al-Qur’an), Habrul Ummah (guru umat), dan Ra’isul mufassirin (pemimpin para mufassir). Al-Baihaqi dalam Ad-Dala’il meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, “Penafsir Al-Qur’an terbaik adalah Ibnu Abbas.” Abu Nu’aim meriwayatkan keterangan dari Mujahid bahwa Ibnu Abbas dijuluki dengan Al-Bahr (lautan) karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Ibnu Sa’ad meriwayatkan pula dengan sanad shahih dari Yahya bin Sa’id Al-Anshari, “Ketika Zaid bin Tsabit wafat, Abu Hurairah berkata, ‘Orang paling pandai umat ini telah wafat dan semoga Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai penggantinya.’”</p>
<p>Dalam usia muda, Ibnu Abbas telah mendapat tempat yang istimewa dikalangan para sahabat senior mengingat ilmu dan ketajaman pemahamannya. Bukhari, dari jalur sanad Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia menceritakan, “Umar mengikutsertakan aku ke dalam kelompok para tokoh senior Badar. Nampaknya sebagian mereka merasa kurang suka , lalu berkata, ‘Mengapa anak ini diikutsertakan ke dalam kelompok kami, padahal kami pun memiliki anak-anak yang sepadan dengannya?’ Umar menjawab, ‘Ia memang seperti yang kalian ketahui.’ Pada suatu hari Umar memanggil mereka dan mengajak aku bergabung dengan mereka. Saya yakin, Umar memanggilku semata-mata hanya untuk memamerkan saya dihadapan mereka. Ia berkata, ‘Bagaimana pendapat tuan-tuan mengenai firman Allah Ta’ala, ‘Apabila pertolongan dan kemenangan Allah telah tiba (An-Nasr: 1).’ Sebagian mereka menjawab, ‘Kita diperintah untuk memuji Allah dan memohon ampunan-Nya Ia memberi kita pertolongan dan kemenangan.’ Sedang yang lain diam, tidak berkata apapun. Lalu Umar berkata kepadaku, ‘Begitukan pendapatmu hai Ibnu Abbas?’ ‘Tidak,’ jawabku. ‘Lalu bagaimana menurutmu?’ tanyanya lebih lanjut. Aku pun menjawab, ‘Ayat itu adalah sebagai penanda tentang ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang Allah informasikan kepadanya, ‘Apabila pertolongan dan kemenangan dari Allah telah datang.’ Dan itu sebagai pertanda ajalmu, wahai Muhammad. ‘Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha penerima taubat.’ Umar pun berkata, ‘Aku tidak mengetahui maksud ayat itu kecuali apa yang kamu katakan.’”</p>
<p>Corak Tafsir Ibnu Abbas</p>
<p>Riwayat dari Ibnu Abbas mengenai tafsir tidak terhitung banyaknya dan apa yang dinukil darinya itu telah dihimpun dalam sebuah kitab tafsir ringkas yang kurang sistematis yang tajuknya Tafsir Ibnu Abbas. Di dalamnya terdapat berbagai macam riwayat dan sanad. Tetapi sanad yang terbaik adalah yang melalui jalur Ali bin Thalhah Al-Hasyim, dari Ibnu Abbas. Sanad ini menjadi pedoman Bukhari dalam kitab Shahihnya. Sedangkan sanad yang cukup baik, dari jalur Qais bin Muslim Al-Kufi, dari Atha’ bin Sa’ib.</p>
<p>Di dalam kitab-kitab tafsir besar yang disandarkan kepada Ibnu Abbas terdapat kerancuan sanad. Sanad paling rancu dan lemah yaitu sanad melalui jalur Al-Kalbi dari Abu Shalih. Al-Kalbi sendiri adalah Abu Nashr Muhammad bin As-Sa’I (wafat 146 H). Jika sanad ini digabungkan dengan riwayat Muhammad bin Marwan As-Suddi As-Shaghir, maka akan menjadi sebagai silsilah Al-Kadzib (mata rantai kebohongan). Demikian juga sanad Muqatil bin Sulaiman bi Bisyr Al-Azdi. Hanya saja Al-Kalbi lebih baik darinya, karena Muqatil terikat dengan berbagai madzhab atau paham yang kurang baik.</p>
<p>Sementara itu sanad Adh-Dhahak bin Muzahim Al-Kufi dari Ibnu Abbas sifatnya munqathi’ (terputus), karena Adh-Dhahak tidak berjumpa langsung dengan Ibnu Abbas. Apabila digabungkan kepadanya riwayat Bisyr bin Imarah, maka riwayat ini tetap lemah karena Bisyr memang lemah. Dan jika sanad itu melalu riwayat Juwaibir dari Adh-Dhahak, maka riwayat tersebut sangat lemah karena Juwaibir sangat lemah dan riwayatnya ditinggalkan ulama.</p>
<p>Sanad melalui Al-‘Aufi dan seterusnya dari Ibnu Abbas banyak dipergunakan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim, padahal Ibnu ‘Aufi tersebut seorang yang lemah meskipun lemahnya tidak keterlaluan dan terkadang dinilai hasan oleh At-Tirmidzi.</p>
<p>Dengan penjelasan tersebut dapatlah kiranya pembaca menyelidiki jalur periwayatan Ibnu Abbas, dan mengetahui mana jalur yang cukup baik dan diterima, serta mana jalur yang lemah atau ditinggalkan sebab tidak setiap yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas merupakan sanad yang pasti atau shahih.</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an: Pustaka Al-Kautsar</p>
</ol>
</div>
</div>
<p>Profil Ibnu Abbas.</p>
<p>Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf al Qursyi al Hasyimi.2
</p>
<p>Beliau adalah anak paman Rasul Abbas bin Abdul Muthallaib. Ibundanya adalah Lubabah al Kubra binti al Harits bin Hazan al Hilaliyah. Ibnu Abbas lahir di kota Mekkah 3 tahun sebelum Rasul Hijrah ke kota Madinah.</p>
<p>Kelahiran beliau bertepatan dengan tahun pemboikotan Bani Hasyim oleh orang-orang Quraisy. 3 </p>
<p>Ibnu Abbas selalu bersama Nabi di masa kecilnya karena beliau termasuk salah satu kerabat dekat nabi dan karena bibinya, Maimunah, adalah salah seorang istri Nabi. Menurut Riwayat Bukhari, Ibnu Abbas dididik langsung oleh Rasul dan Rasul meramalkan bahwa ia akan menjadi ahli Tafsir al Qur’an.4</p>
<p>Pada tahun 36 H. beliau ditunjuk oleh Khalifah Utsman bin Affan untuk menjadi Amirul Haj. Ia tidak berada di kota Madinah ketika Utsman terbunuh. Dalam pertikaian antara Ali dan Muawiyah, Ibnu Abbas memihak kepada Ali. 5 </p>
<p>Di akhir usianya, Ibnu Abbas mengalami kebutaan,.namun hal itu tidak membuat kendurnya semangat beliau untuk menggali nilai-nila yang terkandung di dalam al Qur’an serta terus bersikap kritis terhadap setiap perkembangan yang terjadi di tengah ummat pada masanya.. Ibnu Abbas wafat pada tahun 68 Hijrah dalam usia 70 tahun. Beliau wafat di kota Thaif dan dimakamkan di kota yang sama.</p>
<p>Ibnu Abbas diberi gelar al Bahr (6) yang berarti Samudra. Hal itu disebabkan karena betapa dalam dan luas ilmu yang ia miliki. Kepakaran tersebut disebabkan kehidupan ilmiah yang selalu menghiasi hari-hari beliau, di mana belajar dan mengajar adalah kesibukan-kesibukan yang tidak pernah beliau tinggalkan. Beliau mengajarkan berbagai macam ilmu kepada murid-muridnya. Kadang-kadang beliau mengajarkan Fiqh, atau Ta’wil atau sejarah. Ubaidillah bin Abdullah pernah mengatakan: “ <em>Tidaklah aku menyaksikan orang alim yang duduk bersama Ibnu Abbas kecuali ia merendahkan diri terhadap Ibnu Abbas. Dan tidaklah aku melihat orang yang bertanya kepada Ibnukecuali ia akan mendapatkan ilmu dari jawaban Ibnu Abbas</em>.”(7) Hal itupun semakin ditopang oleh ketidakterlibatan beliau dalam percaturan politik dan pemerintahan, (8) kecuali hanya dalam waktu yang sangat sedikit, yaitu ketika beliau ditugaskan oleh Ali bin Abi Thalib sebagai Amir di kota Basrah.(9)</p>
<p>Dengan kedalaman ilmu tersebut berbagai macam pujianpun diarahkan kepada beliau, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Umar, yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas adalah ummat Muhammad yang paling tahu tentang apa yang diturunkan kepada Muhammad. <em>Thawus</em>, salah seorang Tabi’in pernah ditanya oleh <em>al Laits bin Sulaiman</em> :“<em>Mengapa engkau tinggalkan sahabat-sahabat senior dan berguru kepada anak kecil ini (Ibnu Abbas)</em>. <em>Thawus</em> menjawab, “<em>Aku melihat 70 orang sahabat Rasul berselisih tentang suatu urusan, akan tetapi semuanya kembali kepada pendapat Ibnu Abbas</em>.”(10)</p>
<p>Luasnya ilmu yang dimiliki oleh Ibnu Abbas, tidaklah terjadi begitu saja. Akan tetapi kepakaran tersebut disebabkan oleh beberapa hal yang amat penting yang menghiasi perjalanan hidup beliau :</p>
<p>1. Do’a Rasulullah untuk Ibnu Abbas. Doa Rasulullah ini menjadi bukti yang paling kuat tentang kemampuan Ibnu Abbas dalam menafsirkan dan memahami kitab suci al Qur’an. Menurut pengakuan Ibnu Abbas Sendiri, Rasul pernah dua kali mendoakan beliau. Do’a tersebut adalah Allahum ‘allimhu al hikmah (‫‬ اﻟﻠﻬﻢ ﻋﻠﻤﻪ اﻟﺤﻜﻤﺔ)</p>
<p> dan    ( ‫اﻟﻠﻬﻢ ﻓﻘﻬﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﯾﻦ‬  وﻋﻠﻤﻪ اﻟﺘﺎوﯾﻞ)   Allahumma faqqihhu fiddin wa ‘allimhu al Ta’wil‬.</p>
<p>‫ ‬Menurut ajaran Islam, do’a yang dipanjatkan oleh Rasul adalah do’a yang mustajab dan seluruh kehendak Rasul di dalam do’a tersebut dikabulkan oleh Allah.</p>
<p>2. Ibnu Abbas besar dalam lingkungan rumah tangga kenabian, di mana beliau selalu hadir bersama Rasulullah sejak kecil. Beliau selalu mendengar banyak hal dari Rasul, dan menyaksikan kejadian serta berbagai peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al Qur’an. Bahkan beliau pernah dua kali menyaksikan Malaikat Jibril bersama dengan Nabi. 12</p>
<p>3. Interaksi beliau dengan para sahabat senior sesudah wafatnya Rasulullah. Dari sahabat-sahabat senior tersebut, Ibnu Abbas belajar berbagai hal yang berkaitan dengan al Qur’an seperti tempat-tempat turunnya al Qur’an, sebab-sebab turunnya ayat dan lain sebagainya. Upaya untuk belajar dan bertanya tersebut diungkapkan oleh Ibnu Abbas sendiri : “<em>Aku banyak mendapatkan hadits Rasul dari kalangan Anshar. Bila aku ingin mendatangi salah satu di antara mereka, maka aku akan mendatanginya. Boleh jadi aku akan menunggunya hingga ia bangun tidur kemudian aku bertanya tentang hadist tersebut kemudian pergi</em>&#8220;.</p>
<p>4. Pengetahuan beliau yang sangat luas tentang bahasa Arab terutama kaitannya dengan uslub-uslubnya dan puisi-puisi Arab kuno yang amat berguna untuk mendukung pemahaman beliau terhadap al Qur’an.</p>
<p>5. Kecerdasan otak yang merupakan anugerah Allah yang membuat Ibnu Abbas mampu untuk berijtihad dan berani menerangkan berbagai hal yang beliau anggap benar dalam penafsiran al Qur’an.</p>
<p>Dengan pengetahuan yang amat luas tersebut, maka Ibnu Abbas selalu menjadi rujukan para sahabat baik senior maupun yunior untuk meminta keterangan dan penjelasan tentang maksud suatu ayat. Seperti kasus ketika Umar bin al Khattab bertanya maksud ayat : ‫ ) اﯾﻮد اﺣﺪﻛﻢ ان ﺗﻜﻮن ﻟﻪ ﺟﻨﺔ ﻣﻦ ﻧﺨﯿﻞ‬surat al Baqarah ayat 266). Maka tidak seorangpun dari sahabat yang mampu memberikan penjelasan yang memadai tentang ayat yang dimaksud.</p>
<p>Pada akhirnya Ibnu Abbas berkata : Wahai Amirul Mu’minin. Aku mendapatkan suatu pemahaman pada diriku tentang ayat yang dimaksud.</p>
<p>Ayat tersebut berisi perumpamaan yang dikemukakan Allah sehingga seolah-oleh Allah berkata : Apakah salah seorang di antara kalian menyukai pekerjaan orang-orang yangbaik sepanjang hidupnya namun ketika akan wafat ia tutup agenda hidupnya yang baik tersebut dengan mengerjakan pekerjaan orang-orang yang sengsara. Sehingga pekerjaan tersebut merusak seluruh amal kebajikannya. 13</p>
<p>Kedalaman ilmu tersebut pulalah pada akhirnya kaum muslimin memberinya gelar sebagai Turjumanul Qur’an, penafsir al Qur’an. 14</p>
<p>Catatan kaki :</p>
<p>1. Quraisy shihab,Membumikan al Qur’an, Mizan, Bandung, 2004, hal. 71.</p>
<p>2. Muhammad Husain az Zahabi, al Tafsir wal mufassirun, Maktabah Wahbah, Kairo, 2003, Jld. 1,</p>
<p>hlm. 50</p>
<p>3. Mochtar Efendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Universitas Sriwijaya, Palembang, Jld. I, 2000,</p>
<p>hlm. 14</p>
<p>4. Ibid.</p>
<p>5. Ibid.</p>
<p>6. Muhammad al Jazari,Asdul Ghabah fi ma’rifat al Sahabah, Jld. III, Darul Kutub al Ilmiyyah,</p>
<p>Khairo, t. thn, hlm. 292</p>
<p>7. Ibid.</p>
<p>8. Muhammad Abdul Azim al Zarqani, Manahilul Irfan Fi ulumil Qur’an, Daru Ihyai al Turats al</p>
<p>Araby, Bairut, T. Thn., hlm. 344.</p>
<p>9. Muhammad Husain azzahabi, Op. Cit, hlm. 52</p>
<p>10. Muhammad all Jazari, Op. Cit.</p>
<p>11. Muhammad al Jazari, Op. Cit.</p>
<p>12. Ibid.</p>
<p>13. Ibid, hlm. 54.</p>
<p>14. Al Zarqani, Op. Cit., hlm. 243</p>
<p>15. Munzin Hitami, Menangkap Pesan-Pesan Allah, Suska Press, Pekanbaru, 2006, hlm. 34</p>
<p>16. Muhammad az Zarqani, Op. Cit., hlm. 343</p>
<p>17. Ibid., hlm. 344</p>
<p>18. Ibid.</p>
<p>19. Ibid,hlm. 345</p>
<p>20. Muhammad Husain az Zahabi,Loc. Cit, hlm. 62</p>
<p>21. Ibid.</p>
<p>22. Ibid.</p>
<p>23. Abu Thahir Bin Ya’qub al Fairuzzabadi, Tanwirul Miqbas min Tafsir Ibni Abbas, Darul Fikr,</p>
<p>Beirut, 2001, hlm. 1</p>
<p>sumber :</p>
<p><a href="www.uinsuska.info/.../074_IBNU%20ABBAS%20DAN%20PENGARUH.pdf"></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/waterboyry.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/waterboyry.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/waterboyry.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/waterboyry.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/waterboyry.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/waterboyry.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/waterboyry.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/waterboyry.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/waterboyry.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/waterboyry.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/waterboyry.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/waterboyry.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/waterboyry.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/waterboyry.wordpress.com/687/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=waterboyry.wordpress.com&amp;blog=4199216&amp;post=687&amp;subd=waterboyry&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://waterboyry.wordpress.com/2010/05/29/abdullah-bin-abbas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.129436 106.909546</georss:point>
		<geo:lat>-6.129436</geo:lat>
		<geo:long>106.909546</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/462bd2b63b1476d41548d61adce45134?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">waterboyry</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
